Tengah Malam di Kebun Warga, Rusa Bawean Menunjukkan Jejaknya

Pemantauan di luar kawasan konservasi menemukan indikasi keberadaan rusa Bawean pada kebun dan persawahan masyarakat. Temuan awal ini membuka pertanyaan tentang bagaimana satwa endemik tersebut menggunakan lanskap yang dihuni manusia.
Gresik - Lewat tengah malam, petugas Resort KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama masyarakat menyusuri bentang alam Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura (17/10/2026). Mereka tidak sedang berada di dalam kawasan konservasi, melainkan di kebun dan persawahan milik warga yang berbatasan dengan kawasan suaka alam Pulau Bawean.
Yang dicari adalah Rusa Bawean (Axis kuhlii). Dalam pemantauan tersebut, tim mencatat empat titik perjumpaan maupun indikasi keberadaan Rusa. Pada salah satu titik, satwa berhasil didokumentasikan melalui video.
Temuan awal juga menunjukkan sedikitnya tiga hingga empat lokasi yang potensial untuk dipelajari lebih lanjut sebagai ruang perjumpaan antara aktivitas Rusa Bawean dan masyarakat.
Ketika Rusa Keluar dari Batas Kawasan
Temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan adanya jalur pergerakan tetap ataupun koridor satwa. Pemantauan masih perlu dilakukan berulang, dilengkapi pemetaan titik perjumpaan serta pemasangan camera trap.
Namun ada satu hal menarik, bahwa Rusa tidak selalu bergerak mengikuti garis batas yang dibuat manusia. Kebun dan persawahan masyarakat di sekitar kawasan dapat menjadi bagian dari lanskap yang digunakan satwa.
Bagaimana Rusa memanfaatkan ruang tersebut, seberapa sering mereka datang, kapan bergerak, dan bagaimana interaksinya dengan aktivitas masyarakat masih perlu dijawab melalui pemantauan lebih panjang. Sebab itu, keterlibatan masyarakat menjadi penting. Pemantauan malam itu turut melibatkan GAPOKTAN bersama petugas BBKSDA Jawa Timur.
Jika pengumpulan data selanjutnya memperlihatkan pola keberadaan yang konsisten, kawasan di luar cagar alam maupun suaka margasatwa tersebut dapat dikaji lebih jauh sebagai ruang pengamatan rusa secara terbatas berbasis masyarakat.
Konsepnya bukan membawa wisatawan masuk ke kawasan suaka alam dan bukan pula membuat rusa menjadi terbiasa dengan manusia. Justru sebaliknya, satwa tetap liar, sementara masyarakat memperoleh manfaat karena ikut menjaga ruang hidupnya.
Gagasan itu masih membutuhkan data, kajian, dan kehati-hatian sebelum diterapkan. Namun pemantauan dini hari di Suwari memberikan titik awal yang menarik.
Selama ini percakapan mengenai Rusa Bawean kerap berhenti pada bagaimana menjaga satwa di dalam kawasan konservasi. Temuan di kebun warga mengingatkan bahwa perlindungan spesies juga perlu membaca apa yang terjadi di luar batas kawasan.
Sebab Rusa tidak mengenal pal batas kawasan. Ketika ia melangkah ke kebun dan persawahan warga, konservasi pun harus belajar melangkah bersamanya tanpa membuatnya kehilangan sifat liar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



