Menghitung Rusa, Membaca Ancaman: Riset Doktoral Agus Ariyanto untuk Masa Depan Bawean

Hasil studi doktoral Agus Ariyanto di Korea Selatan dipaparkan di hadapan jajaran BBKSDA Jawa Timur. Penelitiannya mengungkap persoalan penting dalam konservasi Rusa Bawean, dari rendahnya jumlah anakan hingga ancaman jerat dan hubungan satwa dengan masyarakat.
Sidoarjo - Populasi Rusa Bawean (Axis kuhlii) diperkirakan sekitar 250 individu. Namun angka itu menyimpan persoalan yang lebih mengkhawatirkan, dimana jumlah anakan relatif rendah, sementara ancaman terhadap satwa endemik Pulau Bawean tersebut belum sepenuhnya teratasi.
Temuan itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam presentasi hasil studi doktoral Agus Ariyanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur yang menyelesaikan pendidikan di Kyungpook National University, Korea Selatan. Kegiatan berlangsung Rabu, 4 November 2026, di Kantor BBKSDA Jawa Timur, Gedangan, Sidoarjo, melalui pertemuan secara langsung dan daring.
Disertasinya berjudul Integrating Spatial Ecology, Population Dynamics, and Human Dimensions to Develop Comprehensive Conservation Strategies for the Critically Endangered Bawean Deer (Axis kuhlii). Penelitian ini memadukan kajian populasi, pergerakan satwa, penggunaan habitat, serta pandangan masyarakat untuk merumuskan strategi konservasi rusa Bawean.
Melalui pemasangan 30 kamera jebak selama Januari–Oktober 2023, Agus menganalisis rekaman satwa menggunakan pendekatan identifikasi individu jantan berdasarkan karakter tanduk, dipadukan dengan rasio jenis kelamin dan umur. Hasilnya memberikan estimasi populasi sekitar 250 individu, dengan rentang antara 156–353 individu. Angka tersebut merupakan hasil pemodelan berdasarkan data survei tahun 2023, bukan sensus populasi terbaru pada 2026.
Temuan yang memerlukan perhatian lebih jauh justru berasal dari struktur demografi. Penelitian mencatat sekitar 17 anakan untuk setiap 100 betina, menunjukkan terbatasnya regenerasi yang teramati dan pentingnya memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan reproduksi serta kelangsungan hidup anak rusa.
Perlindungan di Atas Peta Belum Cukup
Riset Agus juga menyoroti hubungan Rusa Bawean dengan kondisi habitat dan aktivitas manusia. Melalui analisis spasial, ditemukan bahwa penggunaan ruang oleh rusa berkaitan dengan kedekatan terhadap aliran air, karakter bentang alam, serta konteks gangguan manusia.
Keberadaan kawasan konservasi tetap penting, tetapi status perlindungan secara hukum belum otomatis menjamin seluruh habitat terbebas dari tekanan. Persoalan itu semakin nyata dalam penelitian pelepasliaran rusa yang dipantau menggunakan perangkat GPS.
Dari sembilan individu yang diteliti, rusa hasil pelepasliaran menunjukkan kemampuan beradaptasi dan membentuk wilayah aktivitas di alam. Namun satu individu tercatat mati akibat jerat.
Temuan tersebut memberi pelajaran penting bagi pengelolaan kawasan. Pelepasliaran dapat menjadi salah satu pilihan penguatan populasi, tetapi membutuhkan penilaian habitat, pengurangan ancaman, kesiapan masyarakat, dan pemantauan jangka panjang. Penelitian ini juga membawa suara masyarakat Bawean melalui survei terhadap 500 responden di 30 desa.
Hasilnya memperlihatkan bahwa sikap positif terhadap konservasi tidak selalu sejalan dengan kesediaan atau kemampuan memberikan dukungan finansial. Kondisi ekonomi, pengetahuan, pengalaman berinteraksi dengan satwa, dan karakter lingkungan tempat tinggal ikut membentuk pandangan masyarakat.
Dengan demikian, strategi konservasi perlu mempertimbangkan kenyataan sosial di lapangan. Masyarakat yang hidup di sekitar habitat rusa tidak cukup hanya menerima informasi atau menanggung dampak interaksi satwa dengan aktivitas pertanian. Mereka perlu dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan.
Ilmu yang Kembali ke Tapak
Presentasi hasil studi doktoral ini menjadi kesempatan bagi BBKSDA Jawa Timur untuk mempertemukan hasil penelitian akademik dengan kebutuhan pengelolaan kawasan. Beberapa temuan memberi arah bagi pekerjaan berikutnya, terutama peningkatan kualitas pemantauan populasi, perlindungan anakan, pengendalian jerat, pengawasan gangguan habitat, dan penguatan kerja sama dengan masyarakat desa penyangga.
Tentu tidak seluruh rekomendasi penelitian dapat langsung diterapkan. Hasilnya perlu didiskusikan bersama pengelola kawasan, petugas lapangan, peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi serta sumber daya yang tersedia.
Bagi Agus Ariyanto, penyelesaian pendidikan doktoral merupakan pencapaian akademik yang patut diapresiasi. Bagi BBKSDA Jawa Timur, hasil penelitiannya membuka kesempatan memperkuat pengambilan keputusan konservasi berbasis bukti ilmiah.
Selamat dan apresiasi kepada Agus Ariyanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., atas keberhasilannya menyelesaikan studi doktoral di Kyungpook National University, Korea Selatan. Semoga pencapaian ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia BBKSDA Jawa Timur dan menghadirkan manfaat nyata bagi konservasi rusa Bawean.
Di pulau kecil tempat rusa tersebut bertahan sebagai salah satu kekayaan hayati yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain, perjalanan menjaga spesies ini masih panjang. Penelitian telah membantu menjelaskan sebagian persoalannya. Langkah berikutnya berada di tangan semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan.
Sebab nilai sebuah penelitian konservasi tidak berhenti ketika gelar akademik diperoleh atau hasilnya dipublikasikan. Nilainya akan semakin berarti ketika pengetahuan itu kembali ke lapangan, membantu memperbaiki pengelolaan, dan memberi kesempatan bagi generasi rusa Bawean berikutnya untuk tetap hidup di alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



