Tak Menunggu Hutan Membara, Manggala Agni Ada di Antara Kita

Sidoarjo, 27 Agustus 2026 - Api tidak pernah bertanya siapa pengelola kawasan. Ia dapat muncul di bentang savana yang luas, di lereng pegunungan, di hutan musim, atau di sebuah pulau kecil yang dipisahkan laut. Luas kebakaran pun bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan seberapa serius ia harus ditangani.
Di Jawa Timur, kenyataan itu mempertemukan banyak orang dalam satu kepentingan, jangan biarkan api menjadi bencana. Di antara mereka ada Manggala Agni.
Bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Manggala Agni bukan sosok yang baru hadir ketika kobaran api membesar. Mereka adalah bagian dari Kementerian Kehutanan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang bekerja bersama pengelola kawasan, pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, masyarakat, relawan dan berbagai unsur lainnya.
Karena pengendalian kebakaran hutan pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling depan. Tetapi tentang siapa yang bersedia berdiri bersama.
Dari Krisis, Lahir Sebuah Brigade
Perjalanan Manggala Agni tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kebakaran hutan dan lahan Indonesia. Krisis kebakaran dan asap 1997–1998 menjadi salah satu momentum penting yang mendorong pemerintah memperkuat sistem pengendalian kebakaran.
Setelah melalui proses penguatan kelembagaan, pada 13 September 2002 dibentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Manggala Agni.
Nama itu mengandung tanggung jawab besar. Manggala berarti panglima, sementara Agni berarti api. Namun menjadi “panglima api” bukan semata perkara memadamkan kobaran.
Mandat pengendalian karhutla mencakup pencegahan, pemadaman, penanganan pascakebakaran, dukungan penyelamatan hingga dukungan manajemen. Karena itu, banyak pekerjaan Manggala Agni justru berlangsung ketika asap belum terlihat dan api belum menyala. Di situlah pencegahan mendapatkan tempat terpenting.
Jawa Timur: Banyak Kawasan, Satu Ancaman
Bentang konservasi Jawa Timur tidak dikelola oleh satu institusi. Ada kawasan konservasi yang berada dalam pengelolaan BBKSDA Jawa Timur, ada pula taman nasional yang dikelola oleh masing-masing UPT Taman Nasional. Juga, ada taman hutan raya yang dikelola oleh UPT Taman Hutan Raya, serta Perum Perhutani.
Masing-masing memiliki wilayah kerja, karakter ekosistem dan tantangan pengelolaan yang berbeda. Namun api tidak mengenal batas organisasi.
Ketika kebakaran terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada Agustus 2026, misalnya, Manggala Agni Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bergerak bersama TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, relawan dan masyarakat.
Di tempat lain, pada bentang yang jauh lebih kecil, semangat yang sama juga terlihat. Pulau Bawean. Di pulau yang terpisah sekitar 120 kilometer dari daratan utama Jawa itu, BBKSDA Jawa Timur mengelola Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Salah satu kekayaan terpentingnya adalah Rusa bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang secara alami hanya hidup di pulau tersebut.
Karena itu, kebakaran sekecil apa pun tetap memiliki arti ekologis. Ketika kebakaran dengan luasan kurang dari satu hektar terjadi di Bawean, penanganannya tidak dilihat semata dari angka luasan yang terbakar.
Petugas BBKSDA Jawa Timur bergerak. Masyarakat ikut terlibat. Dan di antara orang-orang yang hadir membantu pengendalian itu, terdapat personel Manggala Agni.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada bentangan api sejauh mata memandang.
Namun justru dari kejadian kecil seperti itu pesan pengendalian karhutla menemukan maknanya bahwa api tidak harus menunggu besar untuk membuat semua pihak bergerak.
Bukan Soal Siapa yang Paling Berperan
Kehadiran Manggala Agni di Bawean juga memperlihatkan bagaimana pengendalian karhutla semestinya dibaca. Bukan sebagai kompetisi kewenangan. Bukan pula tentang institusi mana yang harus disebut paling berjasa.
BBKSDA Jawa Timur memiliki mandat menjaga kawasan konservasi yang menjadi wilayah kerjanya. UPT taman nasional memiliki tanggung jawab terhadap kawasan taman nasional masing-masing.
Manggala Agni di bawah UPT Kementerian Kehutanan, mempunyai kapasitas dan fungsi dalam sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah memiliki sumber daya dan kewenangannya. Begitu pula TNI, Polri, BPBD, masyarakat, Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Mitra Polhut dan relawan.
Ketika api muncul, sekat-sekat itu harus bertemu dalam koordinasi.
“Kebakaran hutan tidak mengenal batas kewenangan. Ketika api muncul, yang dibutuhkan bukan menonjolkan siapa yang paling berperan, tetapi bagaimana seluruh unsur dapat bergerak cepat sesuai tugas dan kapasitasnya. Kehadiran Manggala Agni bersama petugas kami dan masyarakat di Bawean menunjukkan bahwa kolaborasi menjadi kekuatan penting dalam melindungi kawasan konservasi,” ujar Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pengendalian karhutla juga tidak semestinya hanya dihitung dari seberapa cepat api besar dapat dipadamkan.
“Justru keberhasilan terbesar adalah ketika api dapat dicegah, atau ketika api yang masih kecil dapat segera dikendalikan sebelum berkembang. Satu hektar mungkin terlihat kecil dalam angka, tetapi dalam ekosistem, setiap jengkal habitat mempunyai nilai. Karena itu pencegahan, deteksi dini dan keterlibatan masyarakat harus menjadi kekuatan utama,” tambahnya.
Ada Manusia di Balik Seragam
Di balik istilah brigade, regu, patroli, hotspot, pompa punggung, dan sekat bakar, ada sisi lain yang terkadang luput dari pemberitaan. Manusia. Orang-orang yang berjalan menuju titik api ketika sebagian orang justru menjauhinya.
Mereka bisa berhadapan dengan panas, asap, medan terjal, angin yang berubah, sumber air yang jauh, hingga malam yang memaksa operasi dilakukan dalam keterbatasan. Tetapi sisi humanis Manggala Agni tidak hanya berada pada keberanian menghadapi api. Ia juga terlihat ketika mereka duduk bersama masyarakat.
Memberikan edukasi. Berpatroli sebelum kebakaran terjadi. Memeriksa peralatan. Membaca kondisi cuaca. Membangun komunikasi dengan pengelola kawasan. Dan mengingatkan bahwa satu puntung rokok, kelalaian kecil, atau pembakaran yang tidak terkendali dapat mempunyai konsekuensi jauh lebih besar bagi sebuah ekosistem.
Jangan Menunggu Api Membesar
BBKSDA Jawa Timur sendiri telah memperkuat pencegahan karhutla di kawasan-kawasan konservasi yang dikelolanya.
Di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, misalnya, upaya tersebut dilakukan melalui patroli, edukasi masyarakat, pemasangan media peringatan, koordinasi dengan pemerintah desa dan pelibatan masyarakat sekitar kawasan. Manggala Agni menjadi salah satu simpul penting dalam jejaring tersebut.
Sebab masa depan pengendalian kebakaran hutan tidak cukup hanya dibangun dengan semakin banyak orang yang mampu memadamkan api. Kita membutuhkan semakin banyak orang yang mampu mencegah api muncul.
Masyarakat yang berani mengingatkan. Petugas yang mampu membaca risiko. Pengelola kawasan yang siap merespons. Teknologi yang mampu mendeteksi. Dan lembaga-lembaga yang bersedia bekerja bersama tanpa sibuk mempertanyakan siapa yang paling berjasa.
Manggala Agni adalah salah satu bagian penting dari perjalanan itu.
Di Bromo mereka hadir ketika bentang luas menghadapi api. Di Bawean mereka juga dapat hadir ketika luas yang terbakar bahkan belum mencapai satu hektar.
Skalanya berbeda. Kawasannya berbeda. Pengelolanya berbeda. Namun pesannya tetaplah sama bahwa api boleh kecil, tetapi kesiapsiagaan tidak boleh ikut mengecil.
Sebab dalam konservasi, kemenangan terbesar bukan ketika foto pemadaman terlihat heroik. Kemenangan terbesar justru ketika hutan tetap hijau, langit tetap biru, dan tidak pernah ada api yang harus dipadamkan.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



