MATAWALI, Tiga Tahun Menjaga Jalan Pulang Satwa Liar

Berawal dari kebutuhan mempercepat penyelamatan satwa dan menyatukan kerja berbagai pihak, MATAWALI tumbuh menjadi jejaring yang menghubungkan warga, petugas, aparat, pemerintah daerah hingga komunitas.
Sidoarjo, 3 November 2026. Sebuah laporan tentang satwa liar jarang datang pada waktu yang nyaman. Kadang malam. Kadang ketika petugas sedang berada jauh dari lokasi. Informasinya pun sering sederhana, ada ular masuk rumah, monyet mulai agresif, burung ditemukan terluka, atau seekor trenggiling muncul di jalan.
Di balik laporan singkat itu ada persoalan yang tidak selalu sederhana. Siapa yang paling dekat? Bagaimana satwa dievakuasi? Ke mana harus dibawa? Apakah perlu perawatan, rehabilitasi, atau dapat segera kembali ke alam?
Oktober 2023 menjadi titik awal perjalanan MATAWALI. Berangkat dari kebutuhan mempercepat penyelamatan satwa liar dan menyatukan kerja berbagai pihak, BBKSDA Jawa Timur mulai mengembangkan pola kolaborasi multipihak yang kemudian dikenal sebagai MATAWALI.
Salah satu penanda awalnya terlihat pada 9 Oktober 2023, ketika lebih dari 100 peserta berkumpul dalam FGD MataWali di Kota Batu untuk membicarakan penyelamatan Kakatua Kecil Jambul Kuning Cacatua (Sulphurea abbotti). Forum itu mempertemukan pemerintah, lembaga konservasi, akademisi dan pihak lain untuk mencari tindakan konkret terhadap spesies yang membutuhkan perhatian serius.
Tiga tahun kemudian, persoalan yang dihadapi jauh lebih beragam. MATAWALI tidak hanya bergerak ketika satwa keluar dari habitat. Jejaring ini berhadapan pula dengan satwa hasil penyerahan masyarakat, konflik manusia-satwa, temuan di pelabuhan, dugaan perdagangan, pengiriman tanpa dokumen hingga satwa yang membutuhkan rehabilitasi panjang sebelum layak kembali ke alam.
Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Di Jawa Timur, bentang kerja konservasi terlalu luas untuk ditangani dengan satu nomor telepon dan satu kelompok petugas. Ada pelabuhan besar, bandara, jalur logistik antarpulau, kota-kota padat, kawasan pertanian, hutan produksi hingga kawasan konservasi. Satwa dapat ditemukan di mana saja.
Karena itu, mata pertama di lapangan sering bukan petugas BBKSDA Jatim. Bisa warga, Pemadam Kebakaran, BPBD, Polisi, Petugas karantina, relawan, hingga komunitas penyelamat satwa. Mereka menjadi bagian penting karena beberapa jam pertama sering menentukan nasib satwa.
BBKSDA Jawa Timur mencatat, sejak program mulai berjalan pada Oktober 2023 hingga Desember 2024, kolaborasi MATAWALI telah melibatkan 20 instansi. Dalam periode tersebut tercatat 176 penyerahan dengan total 5.256 individu satwa liar. Angka itu memperlihatkan skala pekerjaan, tetapi tidak seluruh ceritanya.
Sebab satu ekor trenggiling yang ditemukan di jalan dapat membutuhkan koordinasi berbeda dengan puluhan burung yang ditemukan dalam kotak pengiriman. Monyet yang dipelihara selama bertahun-tahun juga tidak dapat ditangani sama seperti ular yang baru beberapa menit dievakuasi dari rumah warga. Setiap satwa datang membawa riwayatnya sendiri.
Dari Rescue Menuju Tata Kelola
Dalam perkembangannya, MATAWALI tidak lagi hanya berbicara tentang siapa datang paling cepat ketika satwa membutuhkan pertolongan. Penyelamatan harus berlanjut pada pertanyaan berikutnya.
Apakah satwa sehat? Dari mana asalnya? Apakah perilaku liarnya masih kuat? Perlukah rehabilitasi? Di mana lokasi pelepasliaran yang sesuai? Apakah ada risiko penyakit? Bagaimana pemantauan setelah dilepas?
Pada 2025, BBKSDA Jawa Timur mulai memperkuat alur tersebut melalui standar pengelolaan satwa hasil penyelamatan. SOP itu dimaksudkan agar penanganan tidak bergantung pada improvisasi, tetapi mempunyai alur yang lebih jelas sejak satwa diterima sampai keputusan penanganan berikutnya. Perubahan inilah yang kemudian membawa MATAWALI dari sekadar rescue menuju tata kelola penyelamatan.
Pada Agustus 2026, pengembangan tersebut mendapat Juara III Lomba Inovasi Rimbawan kategori satuan kerja. Catatan pengembangan MATAWALI saat itu memuat 168 kasus penyelundupan dan 40.432 satwa yang berhasil diselamatkan.
Tetapi penghargaan bukan titik pentingnya. Pekerjaan sesungguhnya tetap terjadi setelah panggung kembali kosong.
Panggilan Jiwa
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., melihat kekuatan MATAWALI justru berada pada orang-orang yang mau bergerak bersama.
“Menyelamatkan satwa liar bukan hanya soal kewenangan, tetapi panggilan jiwa. MATAWALI mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian itu dalam satu kerja bersama,” ujarnya.
Dalam penanganan satwa, kehadiran negara menurutnya harus diterjemahkan dalam respons yang cepat dan tepat, tetapi tetap menjaga keselamatan manusia serta kesejahteraan satwa. Prinsip itu menjadi penting karena penyelamatan tidak selalu berarti segera melepaskan satwa.
Seekor satwa yang terluka perlu dirawat. Individu yang lama dipelihara manusia mungkin membutuhkan rehabilitasi. Satwa hasil perdagangan bisa memerlukan pemeriksaan kesehatan, penelusuran asal, bahkan pemulangan lintas pulau. Kadang tindakan terbaik justru menunggu.
Ancaman Juga Berubah
Dinamika penyelamatan terus berkembang. Perdagangan satwa tidak lagi hanya bergerak melalui pasar fisik. Marketplace, media sosial, kargo dan pengiriman tanpa identitas ikut mengubah cara satwa berpindah tangan.
Nur Patria sebelumnya menyebut perdagangan satwa liar kini semakin dinamis. Perubahan tersebut mendorong kebutuhan penguatan pengawasan digital dan kolaborasi di simpul-simpul transportasi.
Di sisi lain, ada persoalan yang lebih sederhana tetapi terus berulang, satwa masuk rumah, ditemukan di kebun, menyeberang jalan, terluka atau dipelihara terlalu lama. Di sinilah masyarakat tetap menjadi mata terdepan.
Sepanjang 2026, misalnya, puluhan trenggiling tercatat dalam penanganan di berbagai wilayah Jawa Timur. Banyak di antaranya bermula dari warga yang memilih melapor daripada membawa satwa pulang. Keputusan itu mungkin terlihat kecil, namun bagi satwa, tidak selalu demikian.
Jalan Pulang Tidak Selalu Pendek
Ada kecenderungan menganggap pelepasliaran sebagai akhir yang paling indah. Pintu kandang angkut dibuka, satwa berjalan menjauh, lalu kamera berhenti merekam. Padahal jalan menuju momen itu dapat panjang.
Kerja sama BBKSDA Jawa Timur dengan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia selama beberapa tahun, misalnya, mencatat ratusan individu monyet dalam penanganan. Sebagian telah dilepasliarkan, sementara lainnya masih menjalani perawatan atau rehabilitasi.
Kepala BBKSDA Jawa Timur menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata jumlah satwa yang ditangani, tetapi ketepatan penanganan dan kesempatan satwa untuk kembali hidup liar. Itulah bagian yang sering tidak terlihat dalam foto penyelamatan.
Ada pemeriksaan medis, kandang transit, biaya pakan, uji laboratorium, pengangkutan, pencarian habitat, serta kadang ada kegagalan. Dan ada satwa yang tidak pernah cukup pulih untuk kembali ke alam. MATAWALI tumbuh bersama kenyataan-kenyataan seperti itu.
Tiga Tahun Kemudian
Pada 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Peringatan tersebut ditetapkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan dan pelestarian puspa serta satwa Indonesia. Tiga tahun perjalanan MATAWALI memberi makna yang cukup sederhana terhadap kata “cinta” itu.
Mencintai satwa liar tidak selalu berarti mendekatinya. Tidak selalu memegang, apalagi memiliki. Kadang bentuknya adalah seorang warga yang mengangkat telepon setelah menemukan Trenggiling.
Petugas Damkar yang mengamankan ular dari rumah tanpa membunuhnya. Polisi yang menyerahkan satwa kepada otoritas konservasi. Petugas pelabuhan yang curiga terhadap sebuah kotak. Dokter hewan yang memilih menunda pelepasliaran karena kondisi satwa belum memungkinkan.
Atau petugas lapangan yang membuka pintu kandang setelah seluruh tahapan dinilai cukup, lalu membiarkan satwa pergi tanpa menoleh kembali. MATAWALI dimulai dari kebutuhan mempercepat penyelamatan.
Tiga tahun kemudian, pelajarannya justru lebih luas. Satwa liar tidak membutuhkan semakin banyak manusia untuk menyentuhnya. Mereka membutuhkan semakin banyak manusia yang tahu kapan harus menolong, kapan harus melapor, dan kapan harus membiarkannya tetap liar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



