41 Trenggiling dalam Sepuluh Bulan, Membaca Perjumpaan yang Kian Dekat

Sidoarjo, 3 November 2026. Jalan raya, kebun tebu, halaman sekolah, sawah hingga permukiman menjadi tempat Trenggiling ditemukan sepanjang 2026. Sepanjang Januari hingga 31 Oktober 2026, sedikitnya 41 individu Trenggiling (Manis javanica) tercatat dalam rangkaian penemuan, penyerahan, evakuasi, perawatan dan pelepasliaran di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur. Angka tersebut merupakan hasil laporan lapangan hingga penghujung Oktober.
Yang menarik justru waktunya. Dari 41 individu itu, 23 tercatat hanya dalam Agustus hingga Oktober. Tetapi angka yang membesar tidak boleh segera diterjemahkan sebagai kabar baik. Data penyelamatan bukan survei populasi. Semakin banyak Trenggiling ditemukan belum berarti jumlahnya di alam meningkat.
Peluang sebuah satwa tercatat dipengaruhi banyak hal: aktivitas masyarakat, musim, kondisi lanskap, akses pelaporan, hingga semakin luasnya jejaring petugas dan mitra yang menerima informasi. Sementara itu, Manis javanica masih menghadapi tekanan konservasi serius dan berstatus Critically Endangered secara global.
Bertemu di Ruang Manusia
Cerita 41 trenggiling itu datang dari tempat yang beragam. Di Madiun, seekor Trenggiling pernah ditemukan di halaman taman kanak-kanak. Di Kediri, satwa muncul setelah kebun tebu dipanen.
Di Blitar, individu muda terlihat di sekitar lahan tebu ketika aktivitas pembakaran berlangsung. Di Bojonegoro, seekor trenggiling ditemukan di tepi jalan, hanya beberapa saat sebelum kendaraan besar melintas. Ada pula yang masuk permukiman, berada dekat aliran sungai, muncul di tepi sawah, bahkan ditemukan ketika kebakaran terjadi di sekitar kawasan.
Tidak semua perjumpaan dapat langsung dijelaskan. Trenggiling yang ditemukan dekat api belum tentu keluar karena kebakaran. Individu muda di tepi sawah tidak otomatis kehilangan induknya. Temuan di kebun juga tidak cukup untuk menyatakan lokasi tersebut sebagai koridor atau habitat utama.
Namun jika titik-titik itu terus dicatat, sebuah gambaran perlahan dapat terbentuk. Bukan hanya tentang di mana trenggiling berada, tetapi di mana ruang hidup satwa mulai bersinggungan dengan aktivitas manusia.
Manusia Menentukan Akhir Cerita
Ada satu pola lain yang terlihat lebih jelas sepanjang tahun ini. Hampir setiap penyelamatan bermula dari keputusan seseorang untuk tidak mengambil keuntungan dari satwa yang ditemukan.
Warga memilih melapor. Guru menghubungi petugas. Damkar dan BPBD melakukan evakuasi. Polisi menyerahkan satwa. Komunitas meneruskan informasi. Perhutani membantu penentuan lokasi pelepasliaran.
Di beberapa tempat, call center, Instagram, bahkan radio menjadi penghubung antara penemu satwa dengan Tim Matawali. Perubahan kecil itu penting.
Trenggiling yang menggulung tubuh ketika terancam relatif mudah diangkat. Pada titik inilah keputusan manusia menentukan arah berikutnya, dibawa pulang, diperdagangkan, atau diserahkan kepada petugas. Tidak semua satwa yang diterima kemudian langsung dilepas.
Kondisi fisik, luka, kelas umur, perilaku dan riwayat satwa tetap harus diperiksa. Lokasi pelepasliaran juga perlu dipertimbangkan. Satwa yang baru beberapa jam diamankan dari jalan tentu berbeda penanganannya dengan individu yang terluka, masih sangat muda, atau pernah lama berada dalam pemeliharaan manusia.
Membuka kandang bukan tujuan akhir. Yang dicari adalah peluang terbaik agar satwa dapat kembali hidup liar.
Dari Penyelamatan Menjadi Pengetahuan
Empat puluh satu kejadian sebenarnya menyimpan data yang jauh lebih berharga daripada sekadar jumlah. Waktu penemuan, jenis kelamin, umur relatif, bobot, kondisi tubuh, tipe tutupan lahan, kedekatan dengan sungai atau jalan, aktivitas pertanian dan kebakaran dapat disusun menjadi basis data spasial tanpa membuka lokasi sensitif kepada publik.
Dari sana muncul pertanyaan yang layak diuji. Mengapa catatan meningkat pada Agustus hingga Oktober? Apakah berkaitan dengan musim kering, panen, kebakaran, perubahan aktivitas satwa, atau justru sistem pelaporan masyarakat yang semakin baik?
Belum ada jawaban. Dan memang tidak semua pertanyaan lapangan harus segera diberi kesimpulan.
Data penyelamatan dapat menunjukkan lokasi dan persoalan yang perlu diteliti lebih lanjut. Untuk membaca populasi tetap dibutuhkan pemantauan yang dirancang secara khusus: kamera jebak, survei tanda keberadaan, kajian habitat, serta verifikasi laporan masyarakat secara berulang.
Dengan cara itu, setiap penyelamatan tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Ia menjadi bahan untuk memahami spesies. Ada ironi dalam angka 41
Semakin banyak trenggiling yang berhasil diselamatkan tentu berarti semakin banyak individu memperoleh kesempatan kembali ke alam. Tetapi keberhasilan konservasi tidak seharusnya diukur dari seberapa sering kita harus mengevakuasinya.
Trenggiling adalah mamalia yang sebagian besar hidupnya berlangsung diam-diam, terutama pada malam hari. Idealnya, ia tetap seperti itu. Berjalan tanpa harus menyeberangi jalan yang ramai. Mencari semut dan rayap tanpa masuk halaman rumah. Membesarkan anak tanpa pernah singgah di kandang transit.
Empat puluh satu trenggiling memberi kita 41 kesempatan untuk belajar. Tantangan sebenarnya adalah menjaga agar kelak semakin banyak dari mereka dapat tetap hidup liar tanpa pernah membutuhkan penyelamatan manusia.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



