Sumpah Pemuda, Menjaga Tanah Air dari Rimba Jawa Timur

Agus Irwanto
Sumpah Pemuda, Menjaga Tanah Air dari Rimba Jawa Timur
Refleksi Sumpah Pemuda 2026 dari kerja konservasi, ketika cinta tanah air diterjemahkan menjadi patroli, penyelamatan satwa, pembacaan keanekaragaman hayati, hingga menghadapi api di gunung dan pulau-pulau kecil.


Sidoarjo - Menjelang akhir Oktober, sebagian lereng Argopuro masih menyimpan asap. Di Bawean, petugas beberapa kali berhadapan dengan api yang bergerak tanpa peduli pal batas. Di tempat lain, seekor anakan Kijang ditemukan hidup di kawasan yang baru terbakar, sementara Trenggiling, Lutung, dan burung-burung liar datang ke tangan petugas melalui laporan masyarakat.

Pemandangan seperti itulah yang memberi konteks berbeda ketika Indonesia memperingati Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026. Tema tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, terdengar jauh lebih nyata bila dibaca dari lapangan.

Patriotisme, dalam kerja konservasi, tidak selalu hadir melalui upacara. Kadang bentuknya seseorang yang berjalan berjam-jam untuk memeriksa kepulan asap di balik punggungan. Kadang seorang warga yang memilih menelepon petugas ketika menemukan satwa liar, bukan membawanya pulang untuk dipelihara.

Ada pula mereka yang menghabiskan hari membaca tanda-tanda kecil di hutan, sarang, jejak kaki, bulu, suara, bekas cakaran, atau satu foto dari kamera jebak. Data semacam itu mungkin tidak spektakuler, tetapi dari sanalah kondisi sebuah kawasan perlahan dapat dipahami.

Tanah Air yang Sesungguhnya
Sumpah Pemuda 1928 menyebut satu tanah air. Hampir satu abad kemudian, dua kata itu terasa sangat harfiah bagi mereka yang bekerja di konservasi.

Tanah adalah hutan yang menjaga kehidupan di atas dan di bawah permukaannya. Air mengalir dari mata air, sungai dan daerah tangkapan yang menghubungkan kawasan hulu dengan desa-desa di bawahnya. Di antara keduanya hidup satwa, tumbuhan, dan manusia yang tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Masalahnya, alam juga tidak mengenal garis administrasi. Api dari lahan di luar kawasan dapat merambat masuk ke hutan konservasi. Satwa dapat keluar dari batas cagar alam menuju kebun dan persawahan. Air yang berkurang di satu tempat bisa menjadi persoalan masyarakat jauh di bawahnya.

Itu pula yang membuat konservasi semakin sulit dikerjakan sendiri.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., melihat semangat Sumpah Pemuda relevan justru ketika diterjemahkan ke dalam persoalan-persoalan nyata tersebut.

“Di Jawa Timur kami melihat sendiri bahwa alam tidak bekerja mengikuti batas administrasi. Api bisa bergerak melintasi batas kawasan, satwa bisa keluar masuk hutan, dan air dari hulu menentukan kehidupan masyarakat di bawahnya. Karena itu, menjaga konservasi tidak mungkin dikerjakan sendiri. Semangat Sumpah Pemuda bagi kami adalah kesediaan untuk bekerja bersama, petugas, masyarakat, pemuda, pemerintah daerah, akademisi, relawan, dan siapa pun yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap alam Jawa Timur,” ujarnya.

Pernyataan itu menemukan bentuknya di banyak tempat.

Di Argopuro, pemadaman dan pemantauan dilakukan pada medan yang sulit, dengan sumber air terbatas dan titik api yang tersebar. Di Pulau Bawean, masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaporan kebakaran, penyelamatan satwa, hingga pemantauan rusa di luar kawasan konservasi.

Di Masakambing, pohon sarang dan pohon tidur Kakatua Kecil Jambul Kuning terus dicatat. Di kawasan lain, Smart Patrol mengumpulkan data tentang flora, fauna, gangguan kawasan, sampai perubahan tutupan vegetasi.

Semua terlihat berbeda, tetapi sebenarnya bertemu pada pekerjaan yang sama untuk menjaga agar kehilangan tidak terjadi lebih cepat daripada kemampuan kita memahami apa yang sedang berubah.

Tidak Harus Menjadi Petugas Kehutanan
Ruang bagi generasi muda juga tidak terbatas pada profesi konservasi. 

Nur Patria menilai keterlibatan pemuda justru dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pemuda tidak harus menjadi petugas kehutanan untuk menjaga alam. Tidak membeli satwa liar, tidak memelihara satwa hasil tangkapan, melapor ketika menemukan satwa yang membutuhkan pertolongan, tidak menggunakan api sembarangan, menjaga sumber air, sampai menggunakan teknologi untuk membantu pemantauan, semuanya mempunyai arti. Kita butuh generasi yang paham data dan teknologi, tetapi tetap memiliki empati terhadap kehidupan yang mereka jaga.” imbuhnya. 

Teknologi memang semakin dekat dengan konservasi. Drone digunakan untuk membaca kepulan asap dari udara. Kamera jebak membantu melihat satwa yang jarang muncul di hadapan manusia. Smart Patrol mengubah perjalanan lapangan menjadi data spasial. 

Namun semua teknologi itu tetap membutuhkan orang yang mampu membaca konteks dan mengambil keputusan. Karena hutan bukan sekadar kumpulan titik di layar.

Di sana ada masyarakat yang menggantungkan hidup pada lahan di sekitarnya. Ada satwa yang berpindah ketika habitat terganggu. Ada petugas yang harus memilih antara mendekati titik api atau mundur karena keselamatan. Ada pula keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah masuk berita, tetapi menentukan apakah sebuah persoalan menjadi lebih besar atau berhenti di lapangan.

Itulah barangkali wajah kegigihan yang paling nyata. Bukan keberanian tanpa perhitungan, melainkan kesediaan untuk kembali bekerja ketika tugas belum selesai.

Warisan yang Harus Tetap Hidup
Sumpah Pemuda lahir dari keberanian generasi muda membayangkan sebuah Indonesia yang belum sepenuhnya hadir.

Generasi hari ini menerima Indonesia itu dalam bentuk yang sudah lebih lengkap, bersama hutan, gunung, sungai, pulau, serta keanekaragaman hayati yang menjadi bagian dari identitasnya. Tantangannya berbeda.

Bukan lagi menyatukan wilayah dalam satu cita-cita, tetapi memastikan kekayaan yang berada di dalam wilayah itu tidak perlahan hilang. Mungkin karena itu, mencintai tanah air pada 2026 tidak selalu membutuhkan kalimat besar.

Kadang cukup dengan menjaga satu mata air. Memastikan api tidak merambat. Membiarkan satwa tetap liar. Menanam kembali kawasan yang rusak. Mengumpulkan data dengan benar. Atau memilih untuk tidak mengambil sesuatu dari alam hanya karena kita mampu melakukannya.

Sumpah Pemuda pernah mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus berakhir menjadi sekat.

Alam sudah sejak lama menunjukkan hal yang sama. Hutan, air, satwa, dan manusia terhubung jauh sebelum kita menggambar batas di atas peta.

Jika 1928 mengajarkan kita untuk mengakui satu tanah air, maka tugas generasi hari ini adalah memastikan tanah air itu tetap hidup untuk mereka yang datang setelah kita.

Penulis: Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto

30 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait