Sebelum Kembali Mendaki, Dengarkan Dulu Cerita Mereka yang Melawan Api

Agus Irwanto
Sebelum Kembali Mendaki, Dengarkan Dulu Cerita Mereka yang Melawan Api

Situbondo, 18 September 2026. Tak ada matras. Tak ada tenda yang nyaman. Ketika tubuh akhirnya menyerah, rerumputan kering, semak, dan debu sudah cukup menjadi tempat merebahkan badan.

Beberapa orang tidur masih dengan sepatu lapangan. Tas dijadikan bantal. Ada yang hanya memejamkan mata beberapa menit sebelum kembali berdiri.

Beberapa jam sebelumnya, tempat itu bukan tempat beristirahat. Mereka masih berhadapan dengan api.

Di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, kebakaran membuat siang hari dan malam terasa lebih panjang. Petugas BBKSDA Jawa Timur, Manggala Agni, Masyarakat Mitra Polhut, relawan, porter, ojek, dan pelaku wisata bergerak dari satu titik ke titik lain. Ada yang membawa jet shooter, ada yang membuka jalur, ada yang mengangkut logistik, ada pula yang menyisir tunggak dan batang yang masih menyimpan bara.

Mereka bukan hanya bertarung dengan api. 

Ada dingin pegunungan yang datang setelah matahari tenggelam. Ada mata yang dipaksa tetap terbuka ketika tubuh sudah meminta tidur. Ada kaki yang terus dibawa berjalan di jalur panjang dan menanjak. Ada debu, asap, ranting, batu, dan medan yang tak selalu memberi ruang untuk bergerak cepat.

Di beberapa tempat, api bisa didekati. Di tempat lain, medan terlalu curam sehingga tim hanya bisa membaca arah angin, menunggu, lalu mencari jalur yang paling mungkin ditembus.

Ketika nyala mengecil, pekerjaan belum selesai. Bara bisa tinggal di bawah batang, tunggak, atau serasah. Karena itu, tim kembali menyisir lokasi yang sudah dilewati api. Mop-up atau pendinginan dilakukan secara berulang, memastikan tidak ada titik kecil yang kembali hidup ketika angin datang.

Lalu ada saat ketika tubuh benar-benar tidak bisa diajak berunding. Mereka berhenti.

Bukan di penginapan. Bukan pula di tempat yang layak disebut tempat tidur.

Rerumputan kering, semak, dan debu menjadi tempat mereka mencuri waktu. Beberapa menit saja. Cukup untuk mengembalikan tenaga sebelum kembali masuk ke medan perang.

Dokumentasi itu barangkali tidak memperlihatkan besarnya api. Tetapi justru di sanalah cerita lain kebakaran terlihat paling jelas, tentang adanya orang-orang yang kelelahan setelah berhari-hari berusaha agar api tidak mengambil lebih banyak dari Bentang alam Argopuro.

Ketika Api Tak Lagi Terlihat
Kini beberapa titik api telah padam. Asap mulai menghilang. Jalur perlahan diperiksa kembali. Dari luar, keadaan mungkin terlihat selesai. Namun, di lapangan, ceritanya belum sesederhana itu.

Ada batang yang terbakar, jalur yang harus dibersihkan, lereng yang perlu diperiksa, dan bahan bakar kering yang masih tersisa. Bahkan, bekas kebakaran juga perlu dibaca kembali, diidentifikasi mana yang masih menyimpan risiko, mana yang aman dilalui, dan bagian mana yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., melihat fase setelah api padam sebagai bagian yang sama pentingnya dengan pemadaman itu sendiri. Menurutnya, kerja petugas, Manggala Agni, relawan, masyarakat, dan pelaku wisata di lapangan menjadi alasan mengapa setiap keputusan berikutnya perlu dibuat dengan hati-hati.

Bukan hanya soal apakah api masih ada. Tetapi juga apakah jalur sudah aman, apakah masih ada potensi pohon tumbang, apakah bahan bakar kering masih menyimpan risiko, bagaimana komunikasi di lapangan, dan apakah kawasan benar-benar siap menerima kembali banyak orang.

Sebab mereka yang berada di lapangan sudah melihat sendiri betapa cepat keadaan dapat berubah.

Hari ini sebuah lereng tenang. Besok angin datang, bara menemukan bahan bakar, dan semuanya bisa dimulai lagi.

Sebelum Kembali Mendaki
Argopuro tentu akan tetap dirindukan. Savana, mata air, punggungan panjang, dan perjalanan menuju Cikasur tidak kehilangan pesonanya hanya karena api pernah lewat.

Namun untuk beberapa waktu, ada cerita lain yang tinggal di sana.

Cerita tentang orang-orang yang berjalan ketika yang lain sudah tidur. Tentang mata yang merah karena kurang istirahat. Tentang kaki yang tetap dipaksa melangkah meski lelah telah mengakar.

Mereka tidak sedang meminta dikasihani. Mereka hanya sedang lelah.

Dan mungkin, sebelum kembali mendaki, kita cukup mengingat satu hal, bahwa pernah ada orang-orang yang berhari-hari berdiri di antara api dan hutan, agar suatu hari kita masih punya Argopuro untuk didatangi kembali.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

47 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Kasur Ijo di Tengah Bara
Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik - Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari