Satelit Nyaris Tak Membaca Panas, Argopuro Masih Menyala

Agus Irwanto
Satelit Nyaris Tak Membaca Panas, Argopuro Masih Menyala

Probolinggo - Dari layar pemantauan satelit, kebakaran di Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang tampak mulai mereda. Titik panas yang terpantau tinggal sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. 

Namun, laporan petugas yang baru turun dari kawasan pada Senin malam menunjukkan cerita berbeda, sejumlah titik api masih terlihat langsung, sementara sebagian kawasan diselimuti kabut asap pekat. Perbedaan itulah yang menjadi perhatian Posko Pengendalian Kebakaran Hutan SM. Dataran Tinggi Yang, Selasa (29/9).

Di Pos Baderan, petugas melakukan pemantauan hotspot sekaligus mengevaluasi informasi Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan masyarakat pelaku wisata yang baru kembali dari lapangan. Hasil pengamatan mereka kemudian digunakan untuk membahas strategi pengendalian berikutnya.

Pantauan langsung menjadi penting karena kondisi di lapangan tidak sepenuhnya tergambarkan pada layar. Kabut asap cukup tebal hingga membatasi jarak pandang petugas. Kondisi atmosfer seperti awan maupun asap dapat memengaruhi kemampuan sensor satelit tertentu dalam mendeteksi panas di permukaan, tetapi penyebab pasti perbedaan data kali ini masih perlu ditelaah lebih lanjut.

Karena itu, minimnya hotspot belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa api benar-benar telah padam.

Di Pos Bermi, pemantauan satelit juga terus dilakukan. Kedua pos menjadi bagian dari pengawasan kawasan setelah rangkaian kebakaran yang dalam beberapa pekan terakhir muncul di sejumlah bagian SM Dataran Tinggi Yang, termasuk sekitar Aing Kenik, Puncak Hyang, hingga sekitar Gunung Pandu.

Di tengah kesibukan tersebut, Pos Baderan menerima tiga orang yang datang dengan membawa tiket lintas untuk perjalanan empat hari tiga malam. Setelah memperoleh penjelasan bahwa kawasan masih ditutup, ketiganya mengurungkan rencana pendakian. 

Berdasarkan keterangan awal, tiket tersebut diduga diperoleh melalui pihak yang tidak berwenang. Informasi mengenai dugaan penipuan masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut.

Kejadian itu sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak memaksakan perjalanan dan memastikan setiap informasi pendakian berasal dari kanal resmi milik BBKSDA Jawa Timur. Penutupan kawasan bukan sekadar urusan administrasi. Ketika api masih ditemukan, asap membatasi pandangan dan kondisi lapangan berubah cepat, keselamatan menjadi alasan utama.

Argopuro hari itu memberikan satu pelajaran sederhana, teknologi membantu petugas melihat kawasan dari langit, tetapi tidak selalu menggantikan mata dan langkah manusia di lapangan. Di layar, titik panas mungkin tinggal sedikit. Di lapangan, pekerjaan belum selesai.

Penulis: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto 
Sumber: Posko Dalkarhut – Balai Besar KSDA Jawa Timur

31 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait