Panggilan Jiwa, MATAWALI Buktikan Kolaborasi Bisa Menyelamatkan Satwa

Jakarta - Ketika seekor satwa liar membutuhkan pertolongan, ia tidak pernah bertanya siapa yang paling berwenang. Ia hanya membutuhkan siapa yang bersedia datang dan menyelamatkannya.
Semangat itulah yang membawa MATAWALI, Transformasi Tata Kelola Penyelamatan Satwa Liar melalui Kolaborasi Multipihak di Jawa Timur meraih Juara III Lomba Inovasi Rimbawan Tahun 2026 Kategori Satuan Kerja. Penghargaan diterima Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam rangkaian Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026, “Forest Heroes: Menginspirasi, Mengabdi, Melestarikan” di Jakarta, 13 Agustus 2026.
Namun, MATAWALI bukan cerita yang lahir di atas panggung. Ia tumbuh dari persoalan nyata di lapangan.
Jawa Timur menjadi salah satu simpul strategis peredaran satwa liar. Data pengembangan MATAWALI mencatat 168 kasus penyelundupan dan 40.432 satwa berhasil diselamatkan, sementara konflik manusia dan satwa terus menjadi tantangan. Kondisi tersebut menuntut penanganan yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
MATAWALI kemudian mengubah pendekatan dari sekadar rescue menuju conservation governance. Penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran dipadukan dengan respons cepat, pelayanan konservasi, pengelolaan informasi, serta kolaborasi multipihak.
Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menyebut kekuatan MATAWALI justru terletak pada kesediaan banyak pihak untuk bergerak bersama.
“Menyelamatkan satwa liar bukan hanya soal kewenangan, tetapi panggilan jiwa. MATAWALI mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian itu dalam satu kerja bersama. Ketika satwa membutuhkan pertolongan, negara harus hadir, cepat, tepat, dan tetap mengedepankan keselamatan manusia serta kesejahteraan satwa,” ujarnya.
Melalui MATAWALI, setiap laporan tidak berhenti sebagai pengaduan. Setiap laporan menjadi aksi, setiap aksi menjadi data, dan setiap data menjadi pijakan kebijakan konservasi. SOP lintas sektor, database digital, forum multipihak hingga penanganan konflik yang lebih sistematis menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Penghargaan ini karena itu bukan garis akhir. Sebab ukuran keberhasilan konservasi bukan seberapa tinggi trofi diangkat, melainkan berapa banyak kehidupan yang memperoleh kesempatan untuk kembali ke alam.
Panggung akan kembali sepi. Tepuk tangan akan berhenti. Tetapi panggilan penyelamatan bisa datang kapan saja.
Dan ketika panggilan itu datang, MATAWALI harus tetap bergerak. Karena menyelamatkan satwa bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan jiwa.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



