Merona di Tengah Savana yang Mengering

Misteri Lathyrus di Cikasur dan pertanyaan tentang tumbuhan pendatang di jantung Dataran Tinggi Yang
Probolinggo, 22 September 2026. September membuat Savana Cikasur seperti sedang kehilangan warna. Rumput-rumput menguning, bahkan sebagian mengering kecokelatan. Angin menggerakkan batang-batang kering yang beberapa hari sebelumnya membuat kami terus waspada terhadap satu hal, api.
Tetapi pada pagi itu, di tengah hamparan yang didominasi warna pucat, ada sebidang warna yang justru terlihat terlalu hidup untuk diabaikan. Hijau dan merah merona.
Dan di atas hijau itu bermunculan ratusan bunga merah muda hingga ungu.
Saya mendekat.
Semakin dekat, pemandangannya semakin menarik. Tumbuhan tersebut tidak muncul sebagai satu-dua individu. Batang-batangnya saling bertaut membentuk rumpun. Bunga khas keluarga kacang-kacangan muncul dalam kelompok, sebagian merah muda terang, sebagian mulai memucat.
Di belakangnya, savana mengering. Di depannya, tumbuhan ini tetap hijau. Kontras, itulah yang membuat saya berhenti.
Saya mengambil foto. Kali ini cukup banyak.
Siapa dia? Bentuk bunganya segera memberi petunjuk.
Mahkota dengan susunan khas bunga kupu-kupu membawa identifikasi awal menuju Fabaceae, keluarga besar kacang-kacangan. Karakter vegetatif dan bunganya kemudian mengarah lebih jauh kepada genus Lathyrus.
Tetapi saya memilih berhenti sampai di sana. Foto memang dapat membawa kita cukup dekat kepada sebuah nama. Namun identifikasi spesies membutuhkan karakter yang lebih lengkap. Maka tumbuhan dalam catatan ini sementara lebih aman saya sebut Lathyrus sp.
Satu hal justru lebih menarik daripada namanya, apa yang dilakukan Lathyrus di Cikasur? Pertanyaan itu membawa saya jauh meninggalkan sabana, menuju sejarah perjalanan tumbuhan melintasi benua.
Ia bukan cerita yang sepenuhnya berasal dari Jawa
Lathyrus merupakan genus besar dalam Fabaceae. Kew Science mencatat kelompok ini secara alami tersebar luas dari kawasan beriklim sedang dan subtropis hingga pegunungan tropis. Namun, catatan flora Jawa memberikan petunjuk lebih spesifik.
Digital Flora of Indonesia, yang antara lain merujuk Flora of Java Backer dan Bakhuizen van den Brink, mencatat tiga spesies Lathyrus dari Jawa diantarnya Lathyrus odoratus, Lathyrus oleraceus dan Lathyrus sativus. Ketiganya diperlakukan sebagai introduksi di Indonesia/Jawa, bukan flora asli Jawa.
Salah satunya sangat terkenal dalam dunia hortikultura Lathyrus odoratus, sweet pea. Menurut Plants of the World Online, Kew Science, spesies tersebut berasal secara alami dari Italia bagian selatan dan Sisilia. Jawa justru tercatat sebagai salah satu wilayah tempat spesies tersebut diperkenalkan.
Artinya, apabila tumbuhan Cikasur kelak terkonfirmasi sebagai salah satu Lathyrus introduksi tersebut, maka bunga merah muda di depan saya menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada jarak Baderan–Cikasur.
Pertanyaannya kemudian berubah. Siapa yang membawanya ke pegunungan ini? Tidak ada jawaban yang boleh dikarang.
Sangat menggoda untuk membuat cerita bahwa tumbuhan tersebut dahulu dibawa orang Eropa ke pegunungan Jawa sebagai tanaman hias, kemudian lolos dan bertahan di Cikasur.
Cerita itu terdengar masuk akal. Tetapi saya belum menemukan bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa itulah yang terjadi di Dataran Tinggi Yang.
Mungkin pernah dibudidayakan. Mungkin terbawa bersama aktivitas manusia. Mungkin benihnya berpindah melalui jalur lain. Dan mungkin sejarahnya jauh lebih tua daripada yang kita bayangkan.
Tanpa spesimen herbarium lama, catatan botani, arsip pengelolaan atau rekaman koleksi yang dapat menghubungkan Lathyrus secara langsung dengan Cikasur, semua itu masih hipotesis.
Ilmu pengetahuan tidak seharusnya mengisi ruang kosong dengan cerita yang terdengar indah. Ruang kosong justru harus dibiarkan menjadi pertanyaan penelitian.
Namun Cikasur tampaknya memberinya tempat
Ada alasan ekologis mengapa keberadaan Lathyrus di sini menarik. Banyak anggota genus ini berasosiasi dengan lingkungan temperate, subtropis atau pegunungan. L. odoratus, misalnya, oleh Kew digambarkan sebagai tumbuhan annual merambat yang terutama tumbuh pada bioma temperate.
Sementara L. latifolius, spesies lain yang secara visual juga patut dibandingkan, tetapi belum tercatat oleh sumber yang saya temukan sebagai introduksi di Jawa, merupakan herba pemanjat perennial dari Eropa bagian tengah-timur dan selatan hingga Afrika barat laut.
Cikasur menyediakan kombinasi yang menarik bagi tumbuhan berkarakter demikian, dataran tinggi, suhu relatif rendah, ruang terbuka dan paparan matahari yang kuat. Tetapi yang paling mengusik perhatian saya justru apa yang terlihat pada September itu.
Savana mengering. Ia masih hijau. Bahkan berbunga.
Apakah itu berarti tumbuhan tersebut mempunyai keunggulan kompetitif terhadap vegetasi lokal pada musim kering? Belum tentu.
Satu kali pengamatan tidak cukup untuk menjawabnya. Namun, sebagai orang yang bekerja dengan ekosistem, pemandangan itu membuat saya merasa ada sesuatu yang pantas diperhatikan.
Pendatang belum tentu penjajah
Dalam ekologi ada perbedaan penting antara introduksi dan invasif.
Spesies introduksi adalah organisme yang keberadaannya di suatu wilayah berada di luar sebaran alaminya akibat perpindahan yang berkaitan dengan aktivitas manusia, sengaja maupun tidak.
Tetapi tidak semua spesies introduksi menjadi invasif.
Untuk sampai pada persoalan invasivitas, kita perlu melihat apakah ia mampu berkembang dan menyebar, serta menimbulkan dampak terhadap biodiversitas, fungsi ekosistem atau kepentingan lainnya.
Karena itu saya belum ingin memberi cap “Lathyrus Cikasur adalah spesies invasif.”
Data yang kami miliki belum cukup. Yang dapat dikatakan adalah bahwa keberadaan tegakan Lathyrus yang cukup rapat di habitat sabana kawasan konservasi layak menjadi sinyal untuk melakukan kajian lebih lanjut. Terlebih apabila identifikasinya kelak membuktikan bahwa ia merupakan spesies non-asli Jawa.
Ada alasan untuk waspada tanpa harus panik.
Hijau ternyata tidak selalu berarti baik
Inilah paradoks yang menarik dari foto-foto tersebut. Mata manusia menyukai hijau. Ketika savana menguning, rumpun hijau dengan bunga merah muda terlihat menyegarkan.
Sangat fotogenik. Bahkan mungkin membuat seseorang berpikir bahwa tempat tersebut sedang sehat. Namun ekologi tidak selalu bekerja menurut selera estetika manusia.
Jika suatu tumbuhan asing mampu membentuk tutupan rapat, pertanyaan konservasinya justru dimulai dari sana.
Apakah tutupannya bertambah dari tahun ke tahun?
Apakah ia menggantikan herba asli?
Apakah regenerasinya melalui biji berlangsung masif?
Apakah setelah kebakaran ia pulih lebih cepat daripada vegetasi asli?
Apakah api justru membuka ruang baginya untuk berekspansi?
Atau apakah ia mengubah komposisi vegetasi Sabana Cikasur?
Tidak satu pun pertanyaan itu dapat dijawab hanya dengan foto. Tetapi foto dapat memberitahu kita di mana harus mulai mencari jawabannya.
Api mungkin menambah satu pertanyaan baru
Pengalaman enam hari lima malam menangani kebakaran membuat persoalan tersebut terasa semakin relevan. Kebakaran adalah gangguan ekologis.
Ia menghilangkan biomassa, membuka ruang, mengubah kompetisi, memengaruhi ketersediaan nutrien dan menciptakan kesempatan baru bagi regenerasi tumbuhan. Setelah gangguan besar, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apa yang kembali tumbuh?”
Tetapi juga “Siapa yang kembali lebih dahulu?”
Jika Lathyrus ternyata merupakan tumbuhan introduksi dan mampu beregenerasi atau memperluas tutupan lebih cepat setelah kebakaran, dinamika itu perlu diketahui sejak awal.
Sebaliknya, jika setelah pemantauan ternyata populasinya stabil, terbatas dan tidak menekan flora asli, kita juga harus jujur terhadap data tersebut.
Konservasi bukan mencari alasan untuk memusnahkan setiap tumbuhan asing. Konservasi adalah mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Maka bunga merah muda itu jangan dicabut dahulu
Respon pertama terhadap tumbuhan yang dicurigai asing sering sederhana cabut. Menurut saya, untuk Cikasur justru jangan tergesa-gesa.
Pertama, identitas spesies harus dikonfirmasi. Lalu petakan luas dan distribusinya. Membuat plot permanen. Catat kepadatan, tutupan, fase berbunga dan berbuah. Dokumentasikan flora asli yang tumbuh bersamanya. Dan, pantau batas terluar rumpun dengan titik koordinat tetap.
Baru dibandingkan dari tahun ke tahun.
Dan setelah kebakaran ini, ada kesempatan ilmiah yang sangat berharga, pantau bagaimana Lathyrus dan vegetasi asli merespons gangguan yang sama.
Dari situlah kita dapat mengetahui apakah warna hijau yang saya lihat hanyalah salah satu bagian biasa dari dinamika vegetasi Cikasur atau tanda awal sebuah perubahan yang perlu dikelola.
Satu foto, satu pertanyaan besar
Saya kembali memandangi foto yang diambil pada 15 September 2026. Bunga merah muda memenuhi layar. Di belakangnya savana berwarna cokelat kekuningan.
Secara fotografis, pemandangan itu indah. Tetapi sekarang saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai bunga. Saya melihat sebuah pertanyaan.
Dari mana ia datang? Sejak kapan ia berada di Cikasur? Siapa yang membawanya? Mengapa ia mampu membentuk rumpun serapat itu? Serta, apakah keberadaannya sudah dicatat puluhan tahun lalu?
Dan yang paling penting bagi pengelolaan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, apakah ia sekadar pendatang yang hidup berdampingan atau perlahan sedang mengambil ruang?
Kita belum tahu.
Dan justru karena belum tahu, ia pantas diperhatikan. Sebab dalam konservasi, ancaman tidak selalu datang dengan suara chainsaw, kobaran api atau kepulan asap.
Kadang ia hadir dengan cara yang jauh lebih indah. Berwarna merah muda. Berbunga lebat. Dan tetap hijau ketika savana di sekelilingnya mengering.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



