Menaklukkan Ego Di Kaki Argopuro

Situbondo - Ada yang telah merencanakan perjalanan sejak setahun yang lalu. Menyisihkan waktu, menabung, menyiapkan perlengkapan, lalu menempuh perjalanan jauh dengan satu tujuan: Gunung Argopuro.
Namun Selasa, 8 September 2026, langkah itu harus berhenti di kaki gunung.
Bukan karena mereka tak sanggup berjalan lebih jauh. Bukan pula karena Argopuro terlalu tinggi untuk didaki. Kebakaran hutan yang masih ditangani membuat kunjungan ke Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang harus ditutup.
Di Pos Baderan, sebagian pendaki akhirnya harus menerima kenyataan bahwa perjalanan yang telah lama direncanakan tak dapat dilanjutkan.
Ada kecewa, tentu saja. Namun, kali ini yang harus ditaklukkan bukanlah gunung. Melainkan ego sendiri.
Puncak Bisa Menunggu
Penutupan Dataran Tinggi Yang dilakukan sebagai langkah mitigasi keselamatan setelah perkembangan kebakaran terpantau semakin mendekati Savana Cikasur.
Sehari setelah penutupan, situasi di pintu masuk kawasan menghadirkan pemandangan berbeda. Mereka yang semula datang dengan ransel dan keinginan untuk naik, harus menerima penjelasan petugas bahwa perjalanan belum dapat dilanjutkan.
Bagi sebagian pendaki, keputusan itu bukan perkara sederhana.
Ada rencana yang telah disusun berbulan-bulan. Ada biaya perjalanan yang telah dikeluarkan. Ada cuti dan waktu yang telah disisihkan. Bahkan mungkin ada mimpi tentang Cikasur dan puncak Argopuro yang telah lama disimpan.
Namun alam sedang berada dalam keadaan berbeda. Api masih ditangani. Petugas masih bekerja. Keselamatan manusia menjadi batas yang tidak boleh dinegosiasikan.
Mereka pun memilih berhenti. Bukan sebuah kekalahan. Justru di situlah kedewasaan seorang pendaki diuji.
Sementara yang Lain Masih Diupayakan Turun
Keputusan para pendaki di pintu masuk untuk tidak melanjutkan perjalanan berlangsung bersamaan dengan pekerjaan yang jauh lebih penting di dalam kawasan, memastikan pengunjung yang telah lebih dahulu berada di Argopuro memperoleh informasi penutupan dan dapat turun dengan aman.
Sebelumnya, hingga Selasa pukul 15.00 WIB, sistem kunjungan masih mencatat 123 pengunjung berada di dalam kawasan. Data tersebut terus diverifikasi seiring pengunjung turun dan melakukan check-out.
Bentang pegunungan Argopuro menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak semua lokasi memiliki sinyal telekomunikasi. Informasi yang dalam kehidupan sehari-hari dapat berpindah hanya dalam hitungan detik melalui telepon genggam, di atas gunung harus menempuh perjalanan berbeda.
Dari orang ke orang. Dari petugas kepada pendaki. Lalu dari satu pendaki kepada pendaki lainnya.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Timur, Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., menjelaskan bahwa keterbatasan sinyal membuat pemberitahuan kepada pengunjung dilakukan secara langsung.
Maka, pada hari ini ada dua arus perjalanan yang berbeda di Argopuro. Pengunjung diarahkan turun menjauhi api. Sementara petugas bergerak masuk untuk menghadapinya.
Mendaki Tak Selalu Harus Sampai Puncak
Di tengah situasi tersebut, keputusan para pendaki yang bersedia mengurungkan perjalanan menyimpan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar batal mendaki. Gunung tidak pernah meminta untuk ditaklukkan. Ia tidak pernah menjanjikan bahwa setiap orang yang datang harus sampai ke puncaknya.
Cuaca dapat berubah. Kondisi alam dapat bergeser. Bencana dapat datang. Dan ketika keselamatan berada dalam risiko, kemampuan untuk berhenti justru menjadi bagian dari etika berada di alam.
Mendaki bukan semata tentang seberapa kuat kaki melangkah atau seberapa tinggi seseorang mampu mencapai puncak.
Ada saat ketika keberanian justru berarti bersedia berbalik arah. Karena memaksakan perjalanan ketika kawasan sedang menghadapi kebakaran bukan hanya menempatkan diri sendiri dalam risiko. Kehadiran pengunjung juga dapat menambah beban petugas yang pada saat bersamaan harus berkonsentrasi mengendalikan api dan menjaga kawasan.
Argopuro tidak ke mana-mana. Cikasur masih akan berada di sana. Jalur panjangnya masih dapat ditempuh pada kesempatan lain. Puncaknya-pun dapat menunggu hingga keadaan kembali aman dan kawasan dinyatakan dapat dikunjungi kembali.
Mungkin perjalanan kali ini tidak menghasilkan foto dari puncak.
Puncak bisa menunggu. Keselamatan tidak. Dan di kaki Argopuro hari itu, puncak tertinggi justru telah dicapai oleh mereka yang mampu menaklukkan egonya sendiri.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Posko Dalkarhut - BBKSDA Jawa Timur
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



