Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia, Sarasehan PEH 2026

Agus Irwanto
Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia, Sarasehan PEH 2026

Jakarta - Di balik sebuah catatan lapangan, tersimpan lebih dari sekadar angka, koordinat, nama jenis, atau peta. Ada pengalaman, tantangan, inovasi, dan keputusan yang lahir dari mereka yang bekerja langsung membaca perubahan hutan Indonesia.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Tahun 2026, bagian dari rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Gedung Serbaguna Taman Margasatwa Ragunan – Jakarta, 21 Agustus 2026. Mengangkat tema “Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia”, sarasehan menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas, jejaring, dan profesionalisme PEH dari berbagai daerah di Indonesia.

Rohmat Marzuki, S.Hut., Wakil Menteri Kehutanan, menegaskan bahwa tantangan kehutanan yang semakin kompleks membutuhkan PEH yang tidak berhenti sebagai tenaga teknis. PEH dituntut adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu bekerja lintas bidang, membangun kolaborasi, serta menjadikan data sebagai dasar analisis dan pengambilan keputusan.

“PEH bukan hanya pelaksana kegiatan teknis. PEH adalah penghubung antara kebijakan dan implementasi, antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan, serta antara upaya pelestarian ekosistem dengan kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan,” tegasnya

Ruang kerja PEH sendiri membentang pada enam bidang utama kehutanan, mulai perencanaan kehutanan dan tata lingkungan, konservasi sumber daya alam dan ekosistem, pengelolaan DAS dan hutan lindung, pengelolaan hutan produksi lestari, pengendalian perubahan iklim, hingga perhutanan sosial dan kemitraan lingkungan.

Kompleksitas tersebut melahirkan sebuah analogi menarik dalam sambutan Wakil Menteri Kehutanan.

“Ibarat Avatar, Pengendali Ekosistem Hutan harus bisa mengendalikan lima unsur, yaitu tanah, air, udara, api, dan manusia.” imbuhnya 

Pesannya sederhana, tetapi menggambarkan tantangan PEH hari ini. Menjaga hutan tak lagi cukup hanya memahami pohon dan satwa. Seorang PEH harus mampu membaca bentang alam, perubahan iklim, kebakaran, dinamika sosial, teknologi, hingga kepentingan manusia yang saling bertemu dalam satu ekosistem.

Karena itu, profesionalisme PEH juga terus bergerak mengikuti zaman. Teknologi informasi, drone, drone termal, SMART Patrol, sistem digital dan berbagai instrumen analisis menjadi bagian dari kerja kehutanan modern. Data tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi harus diolah menjadi pengetahuan, rekomendasi, dan solusi bagi pengelolaan hutan.

Sarasehan PEH 2026 pada akhirnya bukan sekadar pertemuan profesi. Ia menjadi ruang untuk membuka pengalaman yang selama ini tersimpan di berbagai catatan lapangan dan mengubahnya menjadi pengetahuan bersama.

“Jadikan setiap catatan lapangan bukan hanya sebagai dokumentasi pekerjaan, tetapi sebagai sumber pengetahuan, bahan evaluasi, inspirasi inovasi, dan warisan pembelajaran bagi generasi Pengendali Ekosistem Hutan berikutnya,” pesannya menutup sambutan. 

Sebab catatan lapangan seorang PEH seharusnya tidak berakhir di meja kerja atau lemari arsip. Ketika dibuka dan dibagikan, catatan itu menjadi pengetahuan. Ketika pengetahuan diterjemahkan menjadi tindakan, di sanalah masa depan hutan Indonesia ikut dijaga.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto

33 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait