Saat Kedokteran Hewan Bertemu Konservasi

Satwa liar yang terluka bisa diobati. Persoalannya menjadi lebih rumit ketika habitatnya ikut tertekan.
Surabaya - Seekor satwa liar yang berhasil diselamatkan belum tentu siap kembali ke alam. Luka mungkin sudah tertangani. Kondisi fisik membaik. Namun sebelum pintu kandang dibuka, masih ada banyak hal yang harus dipastikan, apakah perilaku alaminya tetap terjaga, apakah satwa cukup sehat, dan apakah tersedia habitat yang layak untuk menerima kembali kehadirannya.
Persoalan semacam itu mengemuka dalam International Seminar 2026 Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Sabtu, 31 Oktober 2026. Kegiatan yang dihelat di Airlangga Medical Education Centre (AMEC), Surabaya tersebut juga menghadirkan Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Jawa Timur sebagai salah satu pembicara.
Pertemuan itu membawa satu isu yang semakin sulit dipisahkan antara kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan. Di lapangan, hubungan tersebut terlihat nyata.
Satwa bisa masuk permukiman, terluka di jalan, terjerat, menjadi bagian dari perdagangan, atau membutuhkan rehabilitasi panjang setelah dievakuasi. Pada titik itu, dokter hewan tidak lagi hanya berhadapan dengan seekor pasien. Ia berhadapan dengan satwa liar yang menjadi bagian dari populasi dan ekosistem.
BBKSDA Jawa Timur sendiri mengelola 26 kawasan konservasi, terdiri atas 20 cagar alam, tiga suaka margasatwa, dan tiga taman wisata alam dengan luas keseluruhan sekitar 30.937 hektar. Di bentang seluas itu, tantangan datang dalam banyak bentuk. Kebakaran, perburuan, jerat, interaksi satwa-manusia, hingga tekanan terhadap habitat membuat penanganan satwa tidak bisa dilepaskan dari kondisi ruang hidupnya.
BBKSDA Jawa Timur juga menempatkan kesehatan satwa, pengendalian spesies, pemulihan ekosistem, pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari kerja konservasi.
Tak Cukup Sekadar Sembuh
Dalam praktiknya, keputusan terhadap satwa hasil penyelamatan tidak selalu sederhana. Ada satwa yang bisa segera dilepas setelah dinyatakan sehat dan dinilai masih memiliki perilaku liar. Ada yang membutuhkan rehabilitasi. Ada pula yang harus melalui pemeriksaan lebih panjang karena riwayat pemeliharaan, perdagangan, atau kondisi kesehatannya.
Lokasi pelepasliaran pun tidak cukup dipilih hanya karena masih berhutan. Kesesuaian habitat, ketersediaan pakan, tekanan manusia, serta risiko penyakit tetap menjadi pertimbangan. Di sinilah ilmu kedokteran hewan bertemu dengan pengelolaan konservasi.
Ada satu prinsip yang tidak boleh hilang, bahwa satwa liar pada dasarnya bukan hewan peliharaan. Terlebih jenis yang memiliki perilaku alami kuat, berukuran besar, atau berpotensi membahayakan manusia. Kebutuhan ruang, pakan, interaksi sosial, perilaku berburu, memanjat, menjelajah, hingga menghindari manusia sulit digantikan oleh kehidupan di rumah.
Bagi individu yang masih memiliki kemampuan untuk hidup liar, habitat alaminya tetap menjadi tempat terbaik untuk mempertahankan perilaku dan kesejahteraannya. Kandang, rumah transit, fasilitas medis, maupun lembaga konservasi dan rehabilitasi mempunyai fungsi penting, tetapi pada banyak kasus, sifatnya adalah jembatan menuju pemulihan, bukan tujuan akhir.
Karena itu, memelihara satwa liar atas dasar rasa sayang tidak selalu berarti memenuhi kebutuhan satwa tersebut. Pada jenis tertentu, terutama satwa buas, kedekatan dengan manusia bahkan dapat berubah menjadi risiko ketika satwa tumbuh dewasa dan perilaku alaminya semakin kuat. Yang sebelumnya terlihat jinak dapat menjadi sulit ditangani, sementara satwa sendiri kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupan sesuai sifat biologisnya.
Mahasiswa kedokteran hewan karena itu tidak hanya dituntut memahami anatomi, penyakit, dan terapi, tetapi juga melihat satwa liar sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Sebab seekor satwa yang sembuh secara medis belum tentu sudah pulih secara ekologis.
Seminar di UNAIR menjadi ruang pertemuan dua pengalaman yang selama ini sering berjalan dari arah berbeda, pengetahuan medis dari ruang akademik dan persoalan konservasi yang ditemui langsung di lapangan. Keduanya bertemu pada satu tujuan yang sama.
Mengembalikan satwa bukan sekadar membuatnya sehat kembali, tetapi memastikan ia masih memiliki kesempatan untuk hidup sebagaimana mestinya, liar, mandiri, dan berada di habitat yang menjadi rumahnya, bukan di ruang hidup manusia.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



