Langit yang Sama, Tiga Belas Tahun Kemudian

Agus Irwanto
Langit yang Sama, Tiga Belas Tahun Kemudian
Petugas boleh berganti, waktu terus berjalan. Namun di Picis–Sigogor, selalu ada mata yang menengadah untuk memastikan Elang Jawa masih terbang.

Ponorogo, 13 September 2026. Tiga belas tahun lalu, penulis pernah berdiri di bentang hutan ini. Menengadah ke langit, menggenggam binokuler, menunggu sebuah siluet muncul dari balik kanopi.

Tahun itu 2013. Saat kegiatan inventarisasi spesies prioritas Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) mulai membawa penulis mengenal lebih dekat Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor, Kabupaten Ponorogo.

Kini, Agustus 2026, orang-orang yang berdiri di sana mungkin berbeda. Peralatan berubah. Teknologi dokumentasi semakin berkembang. Data semakin rapi. Namun ada satu pemandangan yang terasa tetap sama, para penjaga yang menengadah ke langit, menunggu Elang Jawa melintas.

Menunggu yang Tak Bisa Dijanjikan
Pada 24–29 Agustus 2026, petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali melakukan survei populasi Elang Jawa di Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor. Enam titik point count menjadi tempat mereka membaca langit.

Pekerjaan itu sekilas tampak sederhana. Datang ke titik pengamatan, mengarahkan pandangan ke bentang hutan, mengangkat kamera, mengenali jenis, mencatat, lalu mendokumentasikan. Tetapi alam tidak pernah bekerja berdasarkan jadwal manusia.

Elang Jawa bisa muncul beberapa menit setelah pengamatan dimulai. Bisa pula membiarkan petugas menunggunya berjam-jam. 

Mata harus awas terhadap setiap bayangan yang bergerak di atas kanopi. Sebuah titik hitam di kejauhan belum tentu Elang Jawa. Bentuk sayap, pola terbang, ukuran hingga karakter pergerakannya perlu diperhatikan sebelum sebuah perjumpaan masuk dalam catatan.

Di situlah kesabaran menjadi bagian dari metode.

Enam hari pengamatan itu akhirnya membawa kabar dari langit Picis–Sigogor. Sekitar 11–13 individu Elang Jawa teramati dan terdokumentasikan pada lima titik pengamatan. Hasil tersebut telah menjadi catatan penting monitoring. 

Namun angka hanyalah bagian paling mudah untuk dibaca. Di belakangnya ada perjalanan, waktu, ketelitian, dan orang-orang yang bersedia menunggu.

Pernah Berdiri di Tempat yang Sama
Melihat dokumentasi kegiatan itu seperti membuka kembali ingatan lama. Pada 2013, penulis pernah merasakan berada pada posisi yang sama ketika mengawali kegiatan inventarisasi spesies prioritas Elang Jawa di lokasi ini. 

Menunggu. Menengadah. Mencermati setiap kepakan yang melintas di atas hutan. Ada kegembiraan ketika siluet yang ditunggu akhirnya muncul. Tetapi ada pula hari ketika langit seolah tidak memberikan jawaban.

Dari sanalah sebuah pelajaran sederhana tentang monitoring satwa liar tertinggal, kita tidak datang ke alam untuk memerintahkannya memperlihatkan diri. Kita datang untuk belajar membaca tanda-tandanya.

Tiga belas tahun kemudian, pelajaran itu rasanya belum berubah. Petugas hari ini mungkin menggunakan kamera dan perangkat yang lebih baik. Metode dan pengelolaan data terus berkembang. Tetapi Elang Jawa tetaplah satwa liar yang bergerak mengikuti ritmenya sendiri. Manusialah yang harus menunggu.

Petugas Berganti, Pekerjaan Berlanjut
Barangkali inilah sisi konservasi yang jarang terlihat. Khalayak biasanya bertemu dengan hasil akhirnya, berapa individu ditemukan, di mana lokasi perjumpaan, atau bagaimana status satwanya. Tetapi sebuah angka populasi tidak muncul begitu saja.

Ada petugas yang berjalan menuju titik pengamatan. Ada mata yang berulang kali menyapu punggungan. Ada tangan yang mengangkat binokuler. Ada kamera yang harus siap ketika kesempatan hanya datang beberapa detik. Lalu ada catatan yang harus dibawa pulang dan dibandingkan dengan pengamatan sebelumnya.

Survei Agustus 2026 ini bahkan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung 11–16 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan tahap kedua pada 24–29 Agustus 2026 untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai keberadaan Elang Jawa di kawasan tersebut.

Selain Elang Jawa, langit Picis–Sigogor juga memperlihatkan penghuni lainnya. Tim mencatat Elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan Elang-ular bido (Spilornis cheela). Mereka berbagi ruang pada bentang hutan yang sama. Dan hutan itulah yang sesungguhnya menjadi panggung utama dari seluruh cerita.

Bukan Sekadar Angka 13
Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor memiliki luas keseluruhan 218,4 Ha. Keduanya menjadi salah satu lokasi monitoring Elang Jawa di Jawa Timur. Karena itu, angka 11–13 individu yang teramati pada Agustus 2026 tidak seharusnya berhenti menjadi kabar tentang jumlah.

Monitoring yang dilakukan berulang dari waktu ke waktu diperlukan untuk membaca dinamika populasi sekaligus perubahan yang mungkin terjadi pada habitatnya. Kehadiran hari ini perlu dibandingkan dengan catatan sebelumnya dan kembali diperiksa pada tahun-tahun berikutnya.

Konservasi memang jarang selesai dalam satu perjalanan. Apa yang dicatat seseorang hari ini mungkin baru menemukan maknanya ketika dibandingkan dengan catatan orang lain bertahun-tahun kemudian. Dan di situlah pengalaman 2016 bertemu dengan 2026. 

Bukan untuk membandingkan siapa yang lebih dahulu berdiri di sana. Bukan pula sekadar mengenang perjalanan lama. Melainkan untuk menyadari bahwa konservasi sesungguhnya adalah pekerjaan lintas waktu.

Satu generasi mengamati. Generasi berikutnya melanjutkan. Data ditinggalkan agar dapat dibaca kembali. Sementara hutan harus tetap dijaga agar kehidupan di dalamnya mempunyai kesempatan untuk meneruskan cerita.

Langit yang Sama
Tiga belas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah banyak hal. Orang berganti. Tugas berpindah. Teknologi berkembang. Bahkan individu Elang Jawa yang terbang di langit Picis–Sigogor hari ini belum tentu sama dengan yang pernah terlihat pada 2013.

Tetapi ketika petugas kembali berdiri di titik pengamatan dan mengarahkan kamera ke atas kanopi, ada sesuatu yang terasa tidak berubah. Langitnya masih sama. 

Pertanyaannya-pun masih sama, Apakah Elang Jawa masih terbang di sana? dan Agustus 2026 memberikan jawabannya. Mereka masih terlihat. 

Namun bagi konservasi, jawaban itu bukan alasan untuk berhenti bekerja. Justru menjadi alasan untuk terus menjaga habitat, melanjutkan monitoring, dan mewariskan catatan kepada mereka yang kelak akan berdiri di tempat yang sama.

Mungkin lima, sepuluh, atau empat belas tahun lagi, akan ada petugas lain yang kembali datang ke Picis dan Sigogor. Membawa peralatan yang bisa jauh lebih canggih. 

Membuka catatan yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Lalu melakukan hal paling sederhana yang telah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu menengadah. Menunggu sebuah siluet muncul dari balik punggungan. Dan berharap satu kepakan kembali membawa kabar baik dari langit Picis–Sigogor.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan tentang berapa banyak Elang Jawa yang berhasil kita hitung hari ini. Tetapi memastikan generasi setelah kita masih memiliki Elang Jawa untuk dihitung esok hari.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Foto dan Editor : Agus Irwanto 

35 views
1 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Gatot Kuncoro Edi

Luar Biasa.... semangat

Artikel Terkait

Kasur Ijo di Tengah Bara
Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik - Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari