Konservasi Elang Jawa di Jawa Timur Bergema di Bali

Agus Irwanto
Konservasi Elang Jawa di Jawa Timur Bergema di Bali

Badung - Cerita Elang Jawa dari hutan-hutan Jawa Timur bergema di Bali. Bukan tentang berapa banyak yang pernah diselamatkan, tetapi tentang satu pertanyaan yang lebih besar: masih adakah cukup ruang bagi mereka untuk tetap hidup liar?

Pertanyaan itu dibawa Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam Konsultasi Publik Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2026–2036 Wilayah Jawa Bagian Timur, 21 Agustus 2026, di Padma Resort Legian, Badung, Bali. Forum ini mempertemukan para pihak untuk mempertajam strategi konservasi Elang Jawa satu dekade mendatang.

Pengalaman Jawa Timur disampaikan Tri Wahyu Widodo, Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Jawa Timur. Lebih dari satu dekade berkecimpung dalam konservasi Elang Jawa membuat apa yang dibawanya ke Bali bukan sekadar materi presentasi. Ada pengalaman penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran, hingga menyusuri kembali hutan untuk memastikan elang yang dilepas benar-benar mampu bertahan.

Catatan BBKSDA Jawa Timur menunjukkan sejumlah Elang Jawa telah melewati proses penyelamatan sepanjang 2018–2026. Angka itu penting sebagai data, tetapi bukan untuk dirayakan. Setiap elang yang harus diselamatkan justru meninggalkan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada satwa, habitat, dan hubungannya dengan manusia.

Sebab membuka pintu kandang hanyalah permulaan.

Sebelum kembali ke alam, seekor Elang Jawa harus melewati pemeriksaan kesehatan, penilaian perilaku, kemampuan terbang dan berburu, hingga habituasi. Setelah dilepas, pemantauan kembali dilakukan. Pelepasliaran bukan akhir konservasi, di sanalah pembuktiannya dimulai.

Pengalaman itu salah satunya tertulis di Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor, bentang Liman–Wilis. Kawasan ini menjadi tempat pelepasliaran bertemu dengan populasi liar. BBKSDA Jawa Timur memperkirakan 11–13 individu Elang Jawa berada di bentang tersebut.

Namun persoalan Elang Jawa lebih luas daripada satu kawasan. Fragmentasi habitat, perburuan, pemeliharaan dan perdagangan ilegal, serta data monitoring yang belum seragam masih menjadi pekerjaan rumah.

“Lebih dari satu dekade bekerja dengan Elang Jawa mengajarkan bahwa tugas kita bukan sekadar membuatnya kembali terbang. Kita harus memastikan masih ada hutan tempat ia berburu, bersarang dan melahirkan generasi berikutnya,” ujar Tri Wahyu Widodo.

Itulah pesan yang dibawa Jawa Timur ke Bali, bahwa konservasi harus bergerak dari menyelamatkan individu menuju menyelamatkan bentang alam. Sebab ruang hidup Elang Jawa melintasi kawasan konservasi, hutan lindung, kawasan Perhutani, perkebunan, lahan masyarakat hingga batas kabupaten dan kota.

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan tentang berapa banyak Elang Jawa yang berhasil kita selamatkan. Keberhasilan terbesar justru ketika mereka tak lagi perlu diselamatkan, karena hutannya masih ada, dan langitnya tetap aman untuk terbang.

Penulis: Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto

42 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Mas Agus

menyala pak tri

Artikel Terkait