Ketika Ijen Terbakar, Kami Teringat Sylvia

Agus Irwanto
Ketika Ijen Terbakar, Kami Teringat Sylvia

Banyuwangi, 7 September 2026. Tiga belas tahun lalu, seekor Elang Jawa bertanda “JATIM 01” dilepasliarkan di bentang Ijen. Kini, ketika api menjalar di kawasan yang sama, kisah itu mengingatkan kembali satu perkara mendasar: menyelamatkan satwa tak pernah cukup tanpa menjaga rumahnya.

Api yang membakar kawasan Ijen akhirnya merambat masuk ke Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Upaya pemadaman terus dilakukan di tengah medan pegunungan yang terjal, angin yang mudah berubah, dan vegetasi kering yang membuat api sulit dikendalikan.

Di tengah kepulan asap dan orang-orang yang berjibaku menahan laju api itu, ada sebuah cerita lama yang kembali muncul dalam ingatan Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Cerita tentang seekor elang Namanya Sylvia.

Tiga belas tahun lalu, orang-orang juga mendaki bentang Ijen. Tetapi bukan membawa perlengkapan pemadaman. Mereka membawa teropong, catatan lapangan, perlengkapan monitoring, dan sebuah harapan, mengembalikan seekor Elang Jawa ke alam.

Pada sayap kirinya terpasang wingmarker biru bertuliskan JATIM 01.  Kode itu menandai Sylvia sebagai Elang Jawa pertama yang dilepasliarkan di Jawa Timur. 

Mencari Rumah untuk Sylvia
Perjalanan Sylvia menuju Ijen bermula jauh dari hutan. Ia merupakan Elang Jawa hasil sitaan operasi penegakan hukum di Kabupaten Sidoarjo pada 28 September 2012. Dari sana, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Raptor Indonesia dan berbagai pihak memulai proses untuk mengembalikannya ke habitat alami. 

Namun melepaskan satwa hasil sitaan bukan perkara membuka pintu kandang.

Sebelum Sylvia dibawa ke Ijen, habitat calon lokasi pelepasliaran terlebih dahulu dinilai. Tim melihat daya dukung kawasan, ketersediaan pakan, keberadaan kompetitor, potensi perburuan, hingga menentukan lokasi kandang habituasi.

Survei kala itu mencatat 62 jenis burung dari 22 famili, lima jenis elang lain, enam jenis mamalia dan satu jenis reptilia. Sejumlah satwa yang ditemukan merupakan mangsa potensial Elang Jawa. Dari rangkaian penilaian itulah kawasan Kawah Ijen dinilai sesuai sebagai lokasi pelepasliaran. 

Ijen, dengan kata lain, tidak dipilih semata karena hutannya masih hijau. Ia dipilih karena dinilai mampu menyediakan apa yang dibutuhkan seekor Elang Jawa untuk kembali hidup sebagai satwa liar. Ijen dipilih menjadi rumah.

24 Hari Sebelum Pintu Dibuka
Sebuah kandang habituasi kemudian dibangun di perbatasan Cagar Alam Kawah Ijen dengan hutan lindung Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

Di sanalah Sylvia menjalani proses yang menentukan. Selama 24 hari, dari 22 Desember 2012 hingga 14 Januari 2013, ia beradaptasi dengan lingkungan barunya. Posisi kandang yang berdekatan dengan hutan memungkinkan Sylvia kembali mengenali mangsa alami sekaligus melatih kemampuan berburunya. 

Kemudian datanglah 15 Januari 2013. Pintu kandang dibuka. Dan, Sylvia terbang.

Satu kepakan membawa JATIM 01 keluar dari dunia manusia dan kembali menuju kehidupan yang seharusnya. Namun, dalam konservasi satwa liar, pelepasliaran bukan akhir cerita. Justru di sanalah ketidakpastian dimulai. 9,7 Kilometer dari Ijen Tim terus mengikuti Sylvia.

Monitoring dilakukan sejak hari pertama untuk melihat perilaku, daerah jelajah, serta kemampuan adaptasinya. Dalam 18 hari pertama tercatat 37 perjumpaan. Pada masa awal, Sylvia lebih banyak berada tidak jauh dari lokasi pelepasliaran, kemudian perlahan memperluas pergerakannya.  Seratus meter. Ratusan meter. Satu kilometer. Kemudian semakin jauh.

Hingga pada 1 Februari 2013, hari ke-18 setelah pelepasliaran, Sylvia ditemukan warga di Dusun Krajan, Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Jaraknya sekitar 9,7 kilometer dari titik pelepasliaran. 

Ketika ditemukan, Sylvia berada di tanah. Tubuhnya basah kuyup dan kondisinya lemah.

Penanda pada sayapnya kemudian memainkan peran penting. Nomor kontak pada wingmarker membuat warga dapat melaporkan temuan tersebut kepada petugas.

Sylvia kembali. Tetapi bukan untuk kembali hidup di dalam kandang. Ia kembali untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Terbang untuk Kedua Kalinya
Pada pagi 2 Februari 2013, Sylvia kembali dimasukkan ke kandang habituasi. Selama 13 hari kondisinya dipulihkan. Tim kembali mengamati kesiapan fisik dan perilakunya sebelum memutuskan apakah ia masih mampu menghadapi kehidupan liar. 

Jawabannya datang pada 15 Februari 2013. Pintu kandang kembali dibuka. Di hadapan petugas, sukarelawan, masyarakat sekitar, dan sejumlah pengunjung TWA Kawah Ijen, Sylvia kembali mengepakkan sayap.

JATIM 01 terbang untuk kedua kalinya.

Setelah pelepasliaran kedua, monitoring kembali dilakukan secara intensif. Catatan lapangan menunjukkan Sylvia menggunakan beberapa tipe habitat untuk bertengger, terbang dan berburu. Hutan sekunder tercatat sebagai tipe habitat yang paling banyak digunakannya selama periode pengamatan. 

Waktu terus berjalan, hari menjadi bulan. Dan, bulan menjadi tahun.

Kini, tiga belas tahun kemudian, Ijen kembali memanggil orang-orang konservasi untuk alasan yang sangat berbeda.

Ketika Rumah Itu Terbakar
Kebakaran hutan kerap diterjemahkan menjadi angka, luas terbakar, jumlah personel, titik api, atau lama waktu pemadaman.

Angka-angka itu penting. Tetapi hutan tidak dibangun dari angka. Di dalam bentang yang terbakar terdapat pohon tempat burung bertengger, semak tempat mangsa berlindung, jalur pergerakan satwa, sumber pakan, serta hubungan ekologis yang dibentuk selama bertahun-tahun.

Catatan pelepasliaran Sylvia pada 2013 menunjukkan betapa pentingnya elemen-elemen itu. Bahkan sebelum seekor Elang Jawa dilepas, daya dukung habitat, ketersediaan mangsa dan keberadaan kompetitor harus dipelajari terlebih dahulu. 

Itulah sebabnya kebakaran Ijen bukan hanya persoalan vegetasi yang hangus. Ia adalah persoalan ruang hidup.

Kisah Sylvia sejak awal pun tidak semata ditujukan untuk menyelamatkan satu individu. Pelepasliaran itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan potensi konservasi jangka panjang terhadap spesies dan kawasan, sekaligus mengembalikan fungsi ekologis satwa di habitat alaminya. 

Saat kawasan ditutup untuk kunjungan wisata, petugas justru bergerak naik. Di tangan mereka bukan teropong seperti tiga belas tahun silam, melainkan perlengkapan pemadaman.

Mereka berhadapan dengan asap, panas, medan terjal, dan arah angin yang dapat berubah. Setiap langkah harus memperhitungkan keselamatan, karena tidak ada kawasan konservasi yang layak dipertahankan dengan mengabaikan nyawa orang-orang yang menjaganya.

Di lapangan, satu titik api yang berhasil dihentikan mungkin tampak kecil.

Tetapi di baliknya bisa berdiri pohon yang tidak jadi terbakar. Semak yang tetap menjadi tempat berlindung. Atau, sepotong habitat yang kelak menjadi titik awal pemulihan.

Karena itu perjuangan di Ijen hari ini bukan pertandingan antara manusia dan api. Ia adalah usaha memberi kesempatan kepada alam untuk bertahan.

Dan kepada rekan-rekan yang masih berjibaku di garis api, satu hal harus tetap menjadi pegangan, padamkan apinya, jaga hutannya, tetapi pulanglah dengan selamat. Sebab hutan masih membutuhkan mereka esok hari.

Sylvia, Masihkah Kau Terbang di Atas Ijen?
Tak ada yang tahu apakah Sylvia masih hidup hari ini. Tak ada pula bukti yang dapat memastikan bahwa ia berada di bagian kawasan yang sekarang terdampak kebakaran.

Alam memiliki perjalanan dan waktunya sendiri. Karena itu, pertanyaan tentang Sylvia tidak perlu dijawab dengan dugaan.

Namun, kisah JATIM 01 meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada keberadaan satu individu.

Hari ini, bentang yang sama sedang menghadapi api. Di situlah konservasi menemukan maknanya yang paling sederhana.

Menyelamatkan satwa tidak pernah berhenti pada pelepasliaran. Sebab setelah pintu kandang dibuka dan seekor satwa kembali menjadi milik alam, masih ada pekerjaan yang jauh lebih panjang, memastikan ia selalu memiliki tempat untuk pulang.

Hari ini, kami berjuang agar hutannya tetap ada.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

56 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait