Jancukan, Musuh yang Tak Boleh Dimusuhi

Cerita dari sekat bakar Argopuro, ketika menghindari api ternyata belum cukup
Situbondo, 23 September 2026. Membuat sekat bakar di Argopuro ternyata bukan hanya urusan api. Vegetasi rapat harus dibelah. Parang membuka jalan, ranting disingkirkan, bahan bakar diputus agar api kehilangan kesempatan merambat.
Di tengah pekerjaan itulah kami berkenalan atau lebih tepatnya berulang kali bersenggolan dengan satu tumbuhan yang namanya sudah cukup untuk membuat orang Jawa Timur tersenyum. Jancukan!
Di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, tumbuhan penyengat ini menjadi salah satu “ujian kecil” bagi petugas dan masyarakat yang membuka sekat bakar. Lolos dari satu rumpun belum tentu selamat.
Tangan berhasil menghindar, betis yang kena. Betis aman, lengan menyentuh daun. Kadang merasa sudah cukup jauh, ternyata ada satu batang lain tersembunyi di antara rimbun.
Beberapa saat kemudian datang sensasi yang sulit dipilih salah satunya.
Gatal.
Perih.
Panas.
Kalau harus diringkas dalam bahasa lapangan: rasanya memang "njancuki".
Di tengah tubuh yang sudah lelah menghadapi asap, dingin dan medan pegunungan, jancukan kadang berhasil membuat kami berhenti beberapa detik, untuk menggaruk, menggerutu, lalu tertawa bersama. Setelah itu parang kembali bekerja, karena api masih menunggu di depan.
Sebenarnya siapa jancukan?
Nama “jancukan” rupanya telah lama dikenal dalam cerita perjalanan Argopuro. Catatan perjalanan pendaki juga menyebut tumbuhan dengan nama tersebut di jalur pegunungan ini dan menggambarkan sensasi gatal serta perih yang sangat, ketika kulit bersentuhan dengannya.
Namun nama lokal tidak selalu sama dengan nama ilmiah.
Dalam penelusuran awal, karakter jancukan mengarah pada kelompok jelatang dari famili Urticaceae. Salah satu spesies yang layak dibandingkan adalah Girardinia diversifolia, tumbuhan yang oleh Kew Science dicatat memang berasal secara alami dari Jawa, selain tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis Dunia Lama.
Spesies ini memiliki senjata yang membuatnya terkenal, yaitu rambut sengat. Batangnya dipenuhi rambut penyengat yang dapat mencapai sekitar 7–9 milimeter. Rambut serupa terdapat pada tangkai dan permukaan daun, bahkan pada bagian perbungaan.
Jadi rasa panas dan perih yang kami rasakan bukan karena tumbuhan itu sedang marah. Itulah perangkat pertahanannya dan nama lokalnya jauh lebih mudah diingat.
Jancukan. Musuh petugas? Tidak juga
Saat membuka sekat bakar, kami sempat bercanda bahwa jancukan adalah musuh alami petugas. Pernyataan itu terasa benar ketika kulit sedang panas. Secara ekologis, tentu tidak.
Tumbuhan tersebut tidak pernah mengejar kami. Ia tidak tumbuh untuk mengganggu pendaki atau petugas. Rambut sengat merupakan bagian dari strategi pertahanan yang dimilikinya. Kami yang hari itu memasuki tempat tumbuhnya.
Ada ironi kecil di sana. Kami sedang membuat sekat bakar untuk melindungi hutan, dan untuk melakukannya kami harus membelah vegetasi yang juga merupakan bagian dari hutan itu sendiri. Maka parang digunakan seperlunya. Jalur dibuka untuk menghentikan api, bukan untuk membersihkan semua tumbuhan yang dianggap mengganggu.
Jancukan boleh membuat kulit panas. Tetapi itu bukan alasan untuk memusuhinya.
Tidak semua penjaga hutan terlihat gagah
Cerita tentang konservasi sering dipenuhi satwa karismatik, pohon besar dan pemandangan pegunungan. Jancukan hampir tidak pernah mendapat tempat.
Ia tumbuh di antara rimbun, tidak memiliki bunga yang membuat orang berhenti memotret, dan pengalaman pertama manusia dengannya biasanya berakhir dengan umpatan.
Namun hutan tidak dibangun hanya oleh kehidupan yang kita sukai. Ada tumbuhan berduri. Ada yang beracun. Ada yang berbau tidak sedap. Dan, ada pula yang cukup disentuh sekali untuk membuat kulit mengingatnya berjam-jam.
Masing-masing menjalani strategi hidupnya sendiri.
Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran sederhana bekerja di lapangan, tentang nilai sebuah spesies tidak ditentukan oleh nyaman atau tidaknya ia bagi manusia.
Hari itu kami terus membuka sekat. Satu rumpun berhasil dilewati. Beberapa meter kemudian seseorang kembali berseru. Kena lagi. Kami tertawa. Tidak lama.
Parang kembali diayunkan karena api jauh lebih mendesak daripada rasa gatal.
Sampai sekarang, jika mengingat pembuatan sekat bakar di Argopuro, saya tidak hanya mengingat asap, bara dan dinginnya pegunungan. Kami semua juga mengingat tumbuhan yang berkali-kali berhasil membuat petugas konservasi kehilangan sedikit kewibawaannya, menggaruk tangan dan kaki sambil menahan perih.
Namanya jancukan. Musuh alami petugas saat membuat sekat bakar? Mungkin saja, kalau sedang bercanda. Sebab setelah rasa panasnya hilang, kami harus mengakui satu hal bahwa jancukan tidak pernah mengganggu kami.
Kamilah yang hari itu sedang bekerja di rumahnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
P dwi bermi
Saya juga kena Ndan, kena pagi sorenya baru ilang rasa sakitnya



