Empat Jam, Sembilan Cemara Tumbang

Api bekerja dalam hitungan jam. Hutan menjawabnya dalam hitungan tahun.
Situbondo, 23 September 2026. Suara pohon tumbang terdengar dari lereng seberang. Satu cemara gunung (Casuarina junghuhniana) roboh diterjang api. Tak lama kemudian menyusul pohon berikutnya.
Selama kurang lebih empat jam, kami menghitung delapan hingga sembilan cemara tumbang di tengah kebakaran Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Kami hanya bisa mengamati dari jarak aman. Api masih aktif dan pohon yang terbakar sewaktu-waktu dapat roboh.
Yang menarik, tempat kami berdiri juga menyimpan jejak api. Vegetasi di sekitar kami merupakan bagian dari suksesi alami kawasan yang terbakar lebih dari lima tahun lalu.
Di satu sisi, hutan sedang tumbuh kembali. Di sisi lain, hutan sedang terbakar. Kami seperti berdiri di antara dua waktu.
Cemara dan api
Cemara gunung adalah bagian alami pegunungan Jawa (C. Junghuhniana) tercatat sebagai spesies asli Jawa hingga Kepulauan Sunda Kecil, yang tumbuh alami pada ketinggian sekitar 1.200–3.100 meter dan berasosiasi dengan hutan pegunungan yang memiliki sejarah kebakaran.
Hubungan itu kerap membuat cemara gunung dianggap tangguh menghadapi api. Namun, toleran terhadap gangguan bukan berarti setiap pohon akan selamat dari kebakaran.
Sore itu kami melihat batasnya. Pohon-pohon yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh kehilangan kemampuan berdiri dalam beberapa jam.
Keesokan hari kami kembali. Beberapa batang yang sehari sebelumnya masih terlihat utuh telah menghitam. Sebagian yang tumbang terus terbakar hingga menyisakan arang dan abu. Kebakaran mendadak terasa lebih dari sekadar angka hektar.
Ketika pohon tumbang, habitat ikut berubah
Cemara bukan sekadar batang dan tajuk. Pohon dewasa membentuk struktur habitat, mengatur cahaya yang mencapai lantai hutan, memengaruhi kondisi mikro, menghasilkan serasah, serta menyediakan ruang bagi kehidupan lain.
Ketika pohon-pohon itu hilang, ruang ikut berubah.
Bagi Dataran Tinggi Yang, perubahan tersebut penting karena kehidupan tidak berhenti pada cemara. Di bawah dan di antara tegakan hidup tumbuhan bawah, fungi, serangga, burung, mamalia dan berbagai organisme lain yang terhubung dalam satu ekosistem pegunungan.
Karena itu, luas areal terbakar hanya menjelaskan berapa besar ruang yang terdampak. Ia belum menjelaskan seberapa jauh habitat berubah.
Belajar dari kebakaran beberapa tahun lalu
Kami sebenarnya mempunyai petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kemudian. Petunjuk itu berada tepat di bawah kaki kami.
Lebih dari lima tahun setelah kebakaran terdahulu, vegetasi telah kembali menutup sebagian bentang tempat kami berdiri. Suksesi alami sedang berlangsung.
Namun hijau yang kembali tidak otomatis berarti ekosistem telah kembali seperti sebelumnya. Suksesi membutuhkan waktu. Komposisi tumbuhan dapat berubah. Struktur tegakan harus dibangun kembali. Satwa pun harus menyesuaikan diri dengan habitat yang berubah.
Itulah pekerjaan berikutnya setelah api padam, untuk segera kembali dan membaca perubahan.
Apakah cemara muda muncul? Jenis apa yang pertama mengisi ruang terbuka? Bagaimana vegetasi bawah berkembang? Apakah tumbuhan asing ikut memperoleh ruang? Dan bagaimana satwa menggunakan kembali habitat tersebut?
Jawabannya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Sore itu, dari kawasan yang pernah terbakar dan kini sedang tumbuh kembali, kami menyaksikan kebakaran baru di lereng seberang. Delapan hingga sembilan cemara tumbang dalam sekitar empat jam.
Di belakang kami, bekas kebakaran lebih dari lima tahun lalu telah kembali hijau. Di depan kami, perjalanan ekologis yang baru saja dimulai.
Api bekerja dalam hitungan jam. Hutan menjawabnya dalam hitungan tahun. Dan di Dataran Tinggi Yang, kami perlu kembali untuk mendengar jawabannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



