Dari Stup ke AgroBee, Mutiara Madu Bawean Menata Lahan Baru

Separuh rencana belanja usaha telah direalisasikan. Kini KTH Mutiara Madu mencari ruang baru agar lebah, vegetasi pakan, dan usaha kelompok dapat tumbuh bersama.
Gresik - Rumah Bu Mita di Desa Peromaan, Kecamatan Tambak, menjadi ruang kecil untuk membicarakan masa depan madu Bawean. Seluruh pengurus KTH Mutiara Madu bersama pendamping kelompok duduk melingkar di basecamp mereka (24/10/2026).
Tidak ada seremoni. Yang dibuka malam itu bukan kotak bantuan, melainkan persoalan nyata, setelah bantuan diterima, ke mana usaha ini akan dibawa?
Sekitar 50 persen barang dan bahan dalam Rencana Anggaran Biaya bantuan Usaha Ekonomi Produktif BBKSDA Jawa Timur telah dibelanjakan. Pertemuan digunakan untuk mempercepat realisasi kebutuhan berikutnya sekaligus mengevaluasi perjalanan kelompok.
Mutiara Madu bukan kelompok yang baru belajar memelihara lebah. Sejak menerima penguatan usaha beberapa tahun lalu, madu telah dipanen dan sebagian hasilnya diputar kembali untuk menambah stup.
Kelompok juga pernah melewati dampak gempa Bawean dan perubahan musim berbunga yang memengaruhi koloni. Dan, kini tantangannya berbeda.
Lebah Membutuhkan Ruang
Sebagian lokasi budidaya yang digunakan selama ini bukan berada di lahan milik anggota kelompok. Akibatnya, pengaturan stup dan vegetasi pakan tidak sepenuhnya berada dalam kendali KTH.
Aktivitas pengelolaan pekarangan, termasuk pembersihan vegetasi pada waktu tertentu, juga dapat mengganggu keberlangsungan koloni. Persoalannya bukan tentang siapa yang salah. Budidaya yang ingin berkembang membutuhkan kepastian ruang.
Sejumlah lahan kosong milik anggota kini mulai dilirik sebagai lokasi baru. Kelompok berencana melakukan survei untuk melihat kesesuaiannya bagi penempatan koloni sekaligus menata tumbuhan berbunga sebagai sumber nektar dan polen.
Dari kebutuhan itulah muncul gagasan AgroBee KTH Mutiara Madu.
Konsepnya masih harus dikaji. Namun arahnya mulai terbaca, budidaya lebah tidak hanya menghasilkan madu, tetapi dapat dikembangkan sebagai ruang belajar tentang koloni, vegetasi pakan, proses produksi, dan usaha masyarakat.
Saliman, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) yang mendampingi kelompok, menekankan bahwa bantuan tidak seharusnya berhenti pada cepatnya anggaran dibelanjakan. Barang yang dibeli harus menjawab kebutuhan kelompok, sementara lahan baru diharapkan memberi ruang bagi budidaya untuk berkembang lebih aman dan terencana.
Di sinilah pemberdayaan mulai mendapat bentuk. Bukan ketika seluruh anggaran habis dibelanjakan, tetapi ketika kelompok mampu membaca persoalannya sendiri, menentukan kebutuhan, dan mengambil keputusan tentang masa depannya.
Mutiara Madu belum sampai di ujung perjalanan. AgroBee pun masih berupa rencana. Namun malam itu, pembicaraan mereka telah bergerak lebih jauh dari sekadar membeli stup.
Mereka mulai berbicara tentang tanah, bunga, koloni, pasar, dan kemandirian. Sebab bantuan bisa membeli peralatan. Tetapi hanya kelompok yang dapat menumbuhkan usaha.
Dan dari sebuah basecamp sederhana di Peromaan, mereka membawa harapan yang tak kalah sederhana, “Manis madunya, sejahtera warganya.”
Penulis : Ach. Onky Pryono - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama & Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



