Dari Serasah, Bawean Menanam Masa Depan

Ketika kampus, kelompok masyarakat, pelajar, dan konservasi bertemu, daun yang jatuh pun bisa menjadi jalan kecil menuju Bawean yang lebih mandiri.
Bawean - Daun-daun kering yang jatuh di halaman rumah sering berakhir di tumpukan sampah atau dibakar. Di Bawean, sesuatu yang sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari itu mulai dilihat dengan cara berbeda. Seresah dikembalikan ke tanah sebagai kompos, digunakan untuk mendukung budidaya sayuran, sekaligus menjadi ruang belajar tentang bagaimana alam bekerja.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang berlangsung di Pos Riset Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur, 3–4 Oktober 2026.
Kegiatan melibatkan KPH Bawean Lestari, KTH Mutiara Madu, KTH Putra Daun, serta siswa MA Hasan Jufri Bawean. Pertemuan lintas generasi dan latar belakang itu membawa satu semangat yang sama, ilmu pengetahuan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan dengan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Salah satunya melalui pengolahan serasah dan bahan organik menjadi kompos. Namun, ada batas yang penting dipahami. Serasah yang dimaksud bukanlah serasah yang sengaja diambil dari dalam kawasan hutan.
Di lantai hutan, daun, ranting, bunga, buah, dan bagian tumbuhan yang gugur bukanlah sampah. Material tersebut merupakan bagian dari proses ekologis. Melalui dekomposisi, unsur hara dikembalikan ke tanah, kehidupan organisme pengurai berlangsung, kelembapan tanah terbantu dipertahankan, dan siklus pertumbuhan vegetasi terus bergerak.
Hutan memiliki cara sendiri untuk mendaur ulang kehidupannya.
Karena itu, pelatihan justru mendorong pemanfaatan bahan organik yang tersedia dekat dengan masyarakat dari halaman rumah, pekarangan, kebun, lingkungan sekolah maupun ruang-ruang lain di sekitar permukiman. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah tanpa harus mengambil sesuatu dari hutan.
Dari halaman menuju meja makan
Kompos hanyalah awal. Peserta juga dikenalkan pada pemanfaatannya untuk mendukung budidaya sayuran yang dipadukan dengan sistem irigasi tetes. Teknologi ini memperkenalkan cara mengalirkan air secara lebih terukur langsung ke sekitar perakaran tanaman.
Bagi sebuah pulau seperti Bawean, pendekatan sederhana semacam ini memiliki arti lebih luas. Pekarangan dapat menjadi ruang produksi pangan. Bahan organik lokal dapat kembali menjadi penyubur tanaman. Air digunakan lebih efisien, sementara keluarga mempunyai kesempatan menghasilkan sebagian kebutuhan sayurnya sendiri.
Skalanya mungkin dimulai dari beberapa tanaman. Tetapi kemandirian memang sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan berulang kali.
Jika pengetahuan tersebut berkembang di rumah, kelompok masyarakat, dan sekolah, manfaatnya tidak berhenti pada hasil panen. Ada keterampilan baru yang tumbuh, ada pengeluaran rumah tangga yang berpotensi ditekan, dan ada peluang usaha yang suatu hari dapat dikembangkan sesuai potensi setempat.
Sekolah bertemu kehidupan nyata
Kehadiran siswa MA Hasan Jufri Bawean memberi warna tersendiri. Mereka tidak hanya belajar bahwa tumbuhan membutuhkan unsur hara sebagaimana tertulis dalam buku pelajaran. Mereka dapat melihat hubungan yang lebih utuh: daun jatuh, bahan organik terurai, unsur hara kembali ke tanah, tanaman tumbuh, air dikelola, lalu pangan dihasilkan.
Sains bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Di titik inilah pengabdian masyarakat menemukan maknanya. Kampus tidak datang membawa pengetahuan untuk berhenti di ruang pertemuan. Ilmu diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dicoba, dikembangkan, bahkan dikritisi kembali oleh masyarakat sesuai kondisi Bawean.
Sebaliknya, masyarakat bukan sekadar peserta. Pengetahuan lokal, pengalaman mengelola lahan, serta pemahaman terhadap kondisi pulau menjadi bagian penting untuk menentukan apakah sebuah teknologi benar-benar dapat diterapkan.
Konservasi yang tumbuh bersama masyarakat
Bagi wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam hayati seperti Bawean, kemajuan tidak seharusnya dibangun dengan mempertentangkan ekonomi dan konservasi. Keduanya justru harus bertemu.
Masyarakat dapat meningkatkan produktivitas tanpa menjadikan kawasan hutan sebagai sumber bahan baku. Pekarangan dapat dioptimalkan tanpa membuka kawasan baru. Bahan organik dapat didaur ulang tanpa harus dibakar. Teknologi dapat membantu menghemat air. Sementara hutan tetap diberi ruang untuk menjalankan fungsi ekologisnya.
Cara pandang seperti ini penting bagi Bawean. Pulau ini memiliki masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi dan kekayaan hayati yang tidak dimiliki banyak tempat lain. Karena itu, setiap inovasi akan jauh lebih berarti ketika mampu menjawab kebutuhan manusia sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam.
Pemberdayaan pada akhirnya bukan soal seberapa banyak bantuan yang datang ke sebuah pulau. Ukurannya adalah seberapa jauh pengetahuan dapat tinggal setelah sebuah kegiatan selesai, dipraktikkan masyarakat, diteruskan kepada orang lain, lalu berkembang menjadi kemandirian.
Pos riset sebagai ruang bertemu
Pelaksanaan kegiatan di Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean BBKSDA Jawa Timur juga memberi gambaran bahwa ruang konservasi dapat berkembang menjadi tempat bertemunya banyak gagasan.
Penelitian tetap penting. Perlindungan kawasan tetap menjadi tugas utama. Namun pengetahuan konservasi juga perlu bertemu dengan pendidikan, teknologi, pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan dan kebutuhan generasi muda.
Kolaborasi antara Universitas Airlangga, Balai Besar KSDA Jawa Timur kelompok masyarakat, pelajar, dan pengelola kawasan menjadi contoh kecil bagaimana sekat antarsektor dapat dipertemukan.
Kampus membawa ilmu pengetahuan. Masyarakat membawa pengalaman. Pelajar membawa masa depan. Konservasi menjaga agar semuanya tetap memiliki batas ekologis.
Tidak ada satu pihak yang dapat membawa Bawean maju sendirian.
Kemajuan pulau membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan seperti ini, tempat persoalan lokal dibicarakan bersama, ilmu pengetahuan diuji dalam kehidupan nyata, teknologi disederhanakan agar dapat digunakan masyarakat, dan kekayaan alam tetap ditempatkan sebagai modal yang harus diwariskan, bukan dihabiskan.
Dari sebuah daun kering, pembicaraan akhirnya menjadi jauh lebih besar. Tentang pangan. Tentang air. Tentang pendidikan. Tentang ekonomi keluarga. Tentang hutan. Dan tentang generasi yang kelak akan menentukan wajah Bawean.
Serasah di dalam hutan biarlah kembali menjadi hara bagi hutan. Serasah di sekitar kehidupan kita dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Sebab Bawean yang maju bukan Bawean yang mengambil lebih banyak dari alam, tetapi Bawean yang semakin pandai mengelola apa yang dimiliki, semakin kuat masyarakatnya, semakin maju pengetahuannya, dan tetap terjaga hutannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



