Cikasur Aman, Tapi Argopuro Belum Boleh Ditinggalkan

Agus Irwanto
Cikasur Aman, Tapi Argopuro Belum Boleh Ditinggalkan
Hotspot bergeser ke lereng barat Gunung Kerincing. Di tengah langit yang mulai mendung, petugas tetap bertahan di lapangan, memastikan bara tidak kembali menjadi api.

Situbondo - Dari Cikasur, kabar baik akhirnya datang. Hamparan sabana di jantung Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang itu terpantau aman hingga Kamis, 1 Oktober 2026. Dua personel yang masih berada di lapangan sempat mengirimkan dokumentasi: tidak terlihat api mengancam Cikasur.

Namun luasnya bentang alam SM. Dataran Tinggi Yang, berakhirnya api di satu tempat belum berarti seluruh pekerjaan selesai.

Pemantauan satelit pada hari yang sama masih menangkap hotspot di sisi timur kawasan, pada lereng barat Gunung Kerincing. Posisi titik panas tersebut telah menjauh dari Cikasur dibandingkan pantauan beberapa hari sebelumnya.

Belum dapat dipastikan apakah titik tersebut merupakan api aktif. Evaluasi sementara menduga hotspot berkaitan dengan sisa bara kebakaran sebelumnya. Karena itu, informasi satelit tetap harus dibaca bersama pemantauan lapangan. Api mungkin tak lagi terlihat dari kejauhan, tetapi bara adalah alasan mengapa kewaspadaan belum boleh dipadamkan.

Dua Turun, Dua Naik
Penjagaan pun berlanjut. Dari Pos Baderan, petugas BBKSDA Jawa Timur berkoordinasi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan masyarakat pelaku wisata untuk melakukan pergantian personel.

Dua orang yang telah berada di lapangan dijadwalkan turun. Dua personel lain disiapkan naik menggantikan mereka untuk melanjutkan pemantauan. Cuaca ikut menjadi bagian penting dari pengamatan.

Sejak menjelang siang hingga sore, langit di sekitar Baderan terlihat mendung. Pengamatan dari areal perkebunan juga menunjukkan awan menggantung di atas kawasan.

Mendung tentu membawa harapan. Tetapi setelah rangkaian kebakaran yang terjadi di bentang Argopuro, petugas belum menjadikannya alasan untuk menurunkan kewaspadaan.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa fase setelah api terkendali tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran hutan.

“Cikasur yang terpantau aman adalah perkembangan yang baik, tetapi pekerjaan belum selesai selama masih ada indikasi hotspot dan kemungkinan bara di kawasan. Pemantauan lapangan harus tetap berjalan. Yang kita jaga bukan hanya agar api padam hari ini, tetapi memastikan tidak ada bara yang kembali berkembang menjadi kebakaran,” ujarnya. 

Menghitung Jejak yang Ditinggalkan Api
Ketika sebagian personel menjaga kawasan, pekerjaan lain mulai memasuki tahap berikutnya, menghitung dampak kebakaran. BBKSDA Jawa Timur mulai melakukan penghitungan luas areal Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang yang terdampak hingga akhir September 2026 dengan dukungan analisis citra satelit. 

Data tersebut penting untuk membaca jejak yang ditinggalkan api secara lebih terukur dan menjadi pijakan bagi evaluasi serta tindak lanjut pengelolaan kawasan. Sebab setelah api padam, pertanyaan konservasi tidak berhenti pada berapa hektar yang terbakar.

Ada pertanyaan berikutnya yang jauh lebih panjang,  apa yang terjadi pada vegetasi, habitat dan proses pemulihan kawasan?

Setelah Api, Sampah
Di tengah pekerjaan besar itu, ada cerita kecil dari Pos Baderan. Di hari yang sama, petugas melakukan kegiatan yang mereka sebut “Baderan Rijik” yaitu ritual membersihkan sampah di sekitar pos setelah berbagai aktivitas beberapa hari sebelumnya.

Pekerjaannya sederhana, memungut apa yang tertinggal. Namun justru di situlah pesan konservasi Argopuro terasa lengkap.

Berhari-hari petugas, masyarakat dan berbagai unsur berjibaku menghadapi api. Setelah asap berangsur menipis, perhatian kembali kepada sesuatu yang sering terlihat sepele, yaitu  memastikan manusia tidak meninggalkan persoalan baru di tempat yang baru saja berjuang melewati kebakaran. 

Nur Patria kembali mengingatkan bahwa fase pemulihan tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas.

“Argopuro membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, setelah api terkendali, tugas kita berikutnya adalah memberi kesempatan alam memulihkan dirinya dan memastikan aktivitas manusia tidak menambah tekanan baru. Menjaga kawasan adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya. 

Cikasur hari ini memang aman. Langit mulai mendung. Titik panas telah bergeser menjauh. Personel bergantian naik dan turun. Citra satelit mulai digunakan untuk menghitung jejak yang ditinggalkan api. 

Namun Argopuro mengajarkan satu hal, bahwa kebakaran hutan tidak selesai ketika nyala terakhir menghilang. Pekerjaan baru benar-benar bergerak menuju selesai ketika bara tak lagi menyala, manusia berhenti menambah tekanan, dan alam mendapatkan ruang untuk memulihkan dirinya. Api boleh padam lebih dahulu. Kewaspadaan jangan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Posko Dalkarhut - BBKSDA Jawa Timur

43 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait