Api Tak Terpantau, Barisan Argopuro Terus Diperkuat

Agus Irwanto
Api Tak Terpantau, Barisan Argopuro Terus Diperkuat

Situbondo - Tidak ada titik panas (hotspot) baru yang terpantau satelit di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, Rabu pagi, 9 September 2026. Tetapi alih-alih mengurangi kekuatan, BBKSDA Jawa Timur justru menambah personel dan dukungan menuju Pos Baderan.

Mengapa? Jawabnya sederhana. Hotspot tak terpantau satelit bukan berarti bara telah benar-benar mati.

Pukul 06.30 WIB, sebanyak 14 personel lebih dahulu bergerak menuju lereng Gunung Gilap. Mereka terdiri atas satu personel BBKSDA Jawa Timur, tiga personel BPBD Kabupaten Situbondo, serta 10 anggota dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pelaku wisata ojek.

Misi mereka adalah memeriksa bekas kebakaran, melakukan mopping up, serta memadamkan apabila masih ditemukan api atau bara di lapangan.

Dari Ijen Langsung Merapat ke Baderan
Penguatan berikutnya datang dari tubuh BBKSDA Jawa Timur sendiri. Sebanyak 10 personel BKO I BBKSDA Jawa Timur yang sebelumnya terlibat dalam operasi pengendalian kebakaran Kawah Ijen, langsung bergeser menuju Baderan untuk memperkuat operasi Argopuro.

Tidak berhenti di sana. Tujuh personel gabungan BKO II BBKSDA Jawa Timur juga bergerak dari Sidoarjo menuju Baderan dengan membawa perbekalan untuk mendukung kebutuhan tim.

Artinya, Setidaknya ada tambahan 17 personel BBKSDA Jawa Timur yang disiapkan untuk memperkuat operasi dan mengantisipasi berbagai kemungkinan perkembangan di lapangan.

Di Pos Baderan, BPBD Kabupaten Situbondo, Koramil dan Polsek Sumbermalang juga tetap memberikan dukungan. Informasi dari APGI Jawa Timur menyebutkan relawan turut dipersiapkan untuk membantu penanganan kebakaran.

Kepala Balai Besar Naik ke Baderan
Penguatan tidak hanya berupa tambahan personel. Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., turut bergabung di Pos Pendakian Baderan untuk mengikuti perkembangan operasi dan memberikan dukungan kepada personel yang bekerja di lapangan.

Kehadirannya sekaligus menegaskan bahwa fase ketika api tidak lagi terlihat justru membutuhkan disiplin pengawasan. Informasi satelit menjadi petunjuk penting, tetapi kondisi sebenarnya tetap harus dipastikan oleh orang-orang yang berjalan langsung menuju bekas kebakaran.

Sebab di lapangan, bara dapat bersembunyi pada kayu, serasah, atau material terbakar dan dapat kembali menyala ketika kondisi memungkinkan. Karena itu, tidak ditemukannya titik api bukan alasan untuk buru-buru pulang.

116 Pengunjung Masih Bergerak Keluar
Operasi juga tidak hanya berbicara tentang api. Hingga pukul 09.50 WIB (9/9/2026), sistem booking Ayo ke Taman Nasional masih mencatat 116 pengunjung di dalam kawasan. Mereka dilaporkan terus bergerak turun menuju pintu keluar melalui Pos Bermi, Kabupaten Probolinggo.

Situasi di Pos Baderan, Kabupaten Situbondo, dilaporkan aman dan terkendali. Pemantauan kondisi kebakaran, pergerakan pengunjung, serta koordinasi antarunsur tetap dilakukan.

Jadi, mengapa barisan Argopuro justru diperkuat ketika api tak lagi terpantau?

Jawabannya ada di gunung itu sendiri. Karena dalam kebakaran hutan, yang paling berbahaya terkadang bukan api yang terlihat, melainkan bara api yang tersisa.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Posko Dalkarhut - BBKSDA Jawa Timur

122 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait