Api Menyala di Belakang Spanduk Himbauan Waspada Kebakaran Hutan di Hutan Bawean

Agus Irwanto
Api Menyala di Belakang Spanduk Himbauan Waspada Kebakaran Hutan di Hutan Bawean
Tim RKW 09 Gresik Bawean yang sedang melintas menemukan kebakaran di Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Api berhasil dikendalikan dalam tujuh menit sebelum meluas.

Gresik - Sebuah spanduk himbauan waspada kebakaran hutan berdiri di tepi jalan Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Ironisnya, Selasa siang, 20 Oktober 2026, api justru ditemukan menyala di belakangnya.

Kebakaran itu tidak ditemukan melalui laporan hotspot ataupun patroli khusus. Tim RKW 09 Gresik–Bawean sedang dalam perjalanan dari Sangkapura menuju Desa Paromaan melalui jalur tengah ketika melihat api pada pukul 14.22 WIB.

Karena kejadian ditemukan secara insidental, tim tidak membawa perlengkapan pemadaman, sehingga ranting kayu serta material yang tersedia di sekitar lokasi digunakan untuk memukul dan memutus rambatan api.

Tujuh menit kemudian, sekitar pukul 14.29 WIB, api berhasil dikendalikan. Luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 0,21 hektare.

Serasah Kering Menjadi Bahan Bakar
Kondisi tapak di lokasi didominasi tanah berbatu. Pada lantai hutan, serasah jati yang mengering menjadi bahan bakar utama yang terbakar. Dampak api juga terlihat pada sebagian vegetasi tingkat semai dan pancang.

Setelah nyala utama padam, tim tidak langsung meninggalkan lokasi. Penyisiran dilakukan untuk mencari bara dan memastikan tidak terjadi penyalaan kembali. Pada titik yang diperkirakan sebagai awal kebakaran di tepi jalan, petugas menemukan bekas kertas atau kardus terbakar.

Temuan tersebut menjadi indikasi awal yang masih perlu didalami. Belum dapat disimpulkan bahwa pembakaran kertas atau kardus merupakan penyebab kebakaran. Yang membuat situasi itu mencolok adalah posisinya. Titik tersebut berada tepat di belakang spanduk yang berisi imbauan waspada kebakaran hutan sekaligus larangan melakukan pembakaran hutan.

Tujuh Menit yang Menentukan
Kebakaran sekitar seperlima hektar mungkin terlihat kecil dibanding kebakaran hutan dalam skala luas. Namun pada musim kering, serasah dan semak yang kehilangan kelembapan menyediakan bahan bakar yang memungkinkan api berkembang apabila terlambat diketahui.

Peristiwa Payung-payung menunjukkan arti penting deteksi pada menit-menit pertama.

Kebakaran ditemukan ketika masih dapat ditangani oleh tiga orang dengan peralatan seadanya. Jika api terlambat diketahui dan merambat ke bahan bakar kering yang lebih luas, situasinya dapat berbeda.

RKW 09 Gresik–Bawean selanjutnya akan meningkatkan penyisiran, patroli pada jalur rawan, penggalian informasi mengenai kejadian, serta penyadartahuan kepada masyarakat.

Namun kejadian ini juga menyisakan persoalan komunikasi yang lebih sederhana. Larangan ternyata tidak cukup hanya dicetak besar dan dipasang di tepi jalan. Ia harus dibaca, dipahami, lalu menjadi perilaku.

Di Payung-payung hari itu, api berhasil dihentikan sebelum berkembang lebih jauh. Tetapi pemandangan bekas kebakaran di belakang informasi larangan meninggalkan ironi yang sulit diabaikan.

Spanduk informasi bisa mengingatkan bahwa api dilarang. Hanya kesadaran manusialah yang dapat memastikan api tidak pernah dinyalakan di lokasi yang tidak tepat. 

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

9 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait