Api Menembus Batas, 6,14 Hektar Suaka Margasatwa Pulau Bawean Terbakar

Agus Irwanto
Api Menembus Batas, 6,14 Hektar Suaka Margasatwa Pulau Bawean Terbakar
Tim RKW 09 Gresik Bawean menemukan bara masih bertahan pada kayu lapuk di Blok Kumalasa. Keterbatasan air dan vegetasi rapat membuat penanganan berlangsung dengan dukungan masyarakat sekitar kawasan.

Gresik - Batas kawasan konservasi tidak mampu menghentikan api. Di Blok Kumalasa, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, tim menemukan areal terbakar seluas sekitar 6,14 hektar setelah menindaklanjuti informasi mengenai kebakaran yang terjadi pada Rabu malam.

Pemantauan lapangan menunjukkan kebakaran diduga merambat dari lahan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan. Namun indikasi tersebut masih perlu didalami sebelum penyebab kebakaran dapat dipastikan.

Tim RKW 09 Gresik–Bawean awalnya menyusuri Grid 877–868 tanpa menemukan bekas kebakaran. Jejak api baru ditemukan ketika penyisiran berlanjut ke Grid 878–869. Di sana, ujung areal terbakar mulai terlihat. Bara masih tersimpan pada kayu lapuk dan beberapa batang kayu rimba.

Ketika Air Sulit Ditemukan
Persoalan berikutnya muncul segera setelah lokasi kebakaran ditemukan, sumber air jauh dan sulit dijangkau. Dengan vegetasi yang rapat serta hembusan angin yang berpotensi menyalakan kembali bara, tim meminta dukungan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan KPH Bawean Lestari berupa jet shooter, peralatan, dan logistik.

Sambil menunggu bantuan tiba, kayu-kayu yang masih menyimpan bara dipotong dan dikumpulkan pada satu titik untuk memperkecil kemungkinan rambatan. Pemadaman dilanjutkan dengan proses mopping up, memastikan tidak ada bara yang tertinggal pada material terbakar.

Pada pukul 14.20 WIB, api dinyatakan padam menyeluruh. Hasil pemetaan memperkirakan luas areal terdampak mencapai 6,14 hektar.

Api Tidak Mengenal Pal Batas
Kebakaran di Kumalasa kembali menunjukkan persoalan klasik pada kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan aktivitas masyarakat. Api tidak mengenal pal, peta, ataupun garis administrasi.

Begitu bahan bakar kering tersedia dan angin membantu rambatan, nyala dari luar kawasan dapat bergerak masuk dalam waktu singkat.

Karena itu, penanggulangan kebakaran tidak cukup hanya dilakukan setelah api berada di dalam kawasan. Pencegahan di lahan-lahan yang bersinggungan langsung dengan hutan konservasi menjadi sama pentingnya.

Tim selanjutnya melakukan pemantauan pascapemadaman untuk mengantisipasi penyalaan kembali, mendalami informasi mengenai sumber kebakaran, serta melengkapi dokumentasi dan pemetaan areal terdampak.

Koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat sekitar juga akan diperkuat. Di Bawean, masyarakat kembali menjadi bagian penting dari respons lapangan, mulai dari informasi awal hingga dukungan peralatan saat tim menghadapi keterbatasan air.

Karena dalam kebakaran hutan, batas kawasan mungkin terlihat jelas di peta. Bagi api, batas itu tidak pernah ada.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

9 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait