Api Masuk Jalur Argopuro, Cemara Tumbang dan Titik Kebakaran Masih Tersebar

Jalur kunjungan terbatas Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang tetap ditutup. Pemantauan Minggu menemukan dampak kebakaran telah mencapai sejumlah bagian jalur Baderan, sementara asap masih terlihat dari kawasan sekitar Cikasur hingga sejumlah gunung di sekitarnya.
Situbondo - Api telah meninggalkan jejak di jalur Argopuro. Saat tim menyusuri jalur Baderan di SM. Dataran Tinggi Yang pada 18 Oktober 2026, sebagian bentang yang beberapa waktu sebelumnya ditumbuhi cemara gunung, kirinyuh, dan alang-alang telah terbakar. Sejumlah pohon cemara tumbang melintang di jalur.
Pada beberapa tempat, asap bahkan masih keluar dari sisa serasah dan batang cemara yang terbakar. Kondisi tersebut membuat kunjungan terbatas ke kawasan tetap ditutup. Tidak ada pengunjung tercatat berada di dalam kawasan.
Pemantauan Tim BBKSDA Jawa Timur dilakukan melalui citra hotspot, pengamatan visual, serta pengecekan di lapangan. Empat personel bergerak dari Baderan dan kembali sekitar pukul 14.30 WIB.
Hasil pemantauan menunjukkan indikasi kebakaran masih tersebar antara lain di sekitar Mata Air 2, Gunung Semen, Alun-alun Besar, Gunung Pandu, Gunung Gilap, Gunung Krincing, Cisentor hingga sekitar Puncak Argopuro.
Dua Setengah Jam Berjalan, Asap Masih Terlihat
Pada bagian awal jalur dari Pos Jaga hingga batas hutan heterogen, kondisi terpantau aman dari kebakaran. Situasi berubah selepas Blok Dungdung. Dari Cemara Panjang menuju Mata Air 2 hingga sekitar Panyongsonan, bekas kebakaran terlihat pada sisi kanan dan kiri jalur.
Beberapa batang cemara gunung masih menyimpan bara, baik pada pohon yang berdiri maupun telah roboh. Berdasarkan pengamatan lapangan, bara pada bagian tersebut diperkirakan tidak lagi merambat karena bahan bakar di sekelilingnya telah habis.
Namun gambaran berbeda terlihat setelah tim berjalan sekitar 2,5 jam dari Pos Jaga hingga sekitar Panyongsonan. Dari sana, kepulan asap tebal masih terlihat ke arah Savana Cikasur. Kebakaran juga terpantau di sekitar Gunung Lengleng dan Gunung Semen.
Medan bertopografi berat dan keterbatasan sumber air membuat beberapa lokasi sulit dijangkau untuk pemadaman langsung. Selama masih tersedia vegetasi kering sebagai bahan bakar, potensi rambatan ke bagian kawasan yang belum terbakar tetap menjadi perhatian.
Dugaan Sumber Api Masih Perlu Dipastikan
Informasi lapangan mengindikasikan sebagian api yang mendekati kawasan berasal dari aktivitas pembakaran lahan di sekitar kawasan Perhutani. Pada lokasi lain terdapat dugaan api berkaitan dengan perapian yang ditinggalkan orang yang beraktivitas di hutan.
Informasi tersebut belum merupakan kesimpulan penyebab kebakaran dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
BBKSDA Jawa Timur telah berkoordinasi dengan BPBD Jawa Timur serta BPBD Kabupaten Probolinggo, Situbondo, dan Jember, Perum Perhutani, kepolisian, serta TNI. Kondisi kebakaran juga telah disampaikan dalam koordinasi terkait kemungkinan dukungan pemadaman dari udara, termasuk water bombing.
Sejak Jumat, 16 Oktober, pemantauan lapangan telah menunjukkan api masih muncul di sejumlah bagian kawasan. Dua hari kemudian, persoalannya bukan hanya titik api yang belum sepenuhnya hilang. Dampak kebakaran telah terlihat langsung pada jalur yang biasa dilalui menuju bentang Argopuro.
Untuk saat ini, hujan menjadi salah satu kondisi alam yang sangat diharapkan membantu menekan kebakaran pada lokasi-lokasi yang sulit dicapai dari darat.
Argopuro masih terbakar, tetapi keselamatan tidak boleh ikut dipertaruhkan. Selama asap masih mengepul dan bara masih tersimpan di batang-batang cemara, jalur boleh sepi, penjagaan tidak boleh berhenti.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Posko Dalkarhutla BBKSDA Jatim
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



