7 Garuda Masih Mengepakkan Sayapnya di Langit Sigogor

Ponorogo - Jauh di atas kanopi hutan, tujuh bayangan masih melintas. Berputar mengikuti arus udara, sesekali mengepakkan sayap, lalu menghilang di balik punggungan.
Mereka bukan garuda dalam cerita atau lambang di dinding. Mereka adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), sang garuda yang masih menjaga langit hutan Ponorogo.
Survei Balai Besar KSDA Jawa Timur pada 11–16 Agustus 2026 mencatat sementara sedikitnya tujuh individu Elang jawa di Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor. Dengan metode point count, tim mencatat kehadirannya pada empat lokasi pengamatan: Blok Sangubanyu di CA Gunung Picis, serta Sedayu, Blok Ngesep, dan Blok Sigombal di CA Gunung Sigogor.
Catatan itu menjadi penting. Gunung Picis dan Gunung Sigogor, dengan luas kawasan keseluruhan sekitar 218,4 ha, merupakan salah satu lokasi monitoring Elang jawa di Jawa Timur. Dari bentang hutan inilah perubahan keberadaan dan dinamika populasinya terus dibaca dari waktu ke waktu.
Survei juga memperlihatkan bahwa langit Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor bukan hanya milik Elang jawa. Tim mencatat kehadiran Elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan Elang-ular bido (Spilornis cheela), melengkapi catatan keragaman burung pemangsa pada bentang alam tersebut.
Namun, angka tujuh belum menjadi kesimpulan akhir.
Survei lanjutan direncanakan pada minggu keempat Agustus 2026 untuk meningkatkan validitas data sekaligus memperoleh gambaran populasi yang lebih kuat. Sebab menghitung Elang jawa bukan semata menghitung berapa ekor yang terlihat terbang. Di balik setiap kepakan sayapnya tersimpan cerita tentang habitat, ketersediaan pakan, ruang hidup, dan keberlangsungan sebuah ekosistem.
Hari itu, setidaknya ada tujuh yang terlihat.
Tujuh garuda yang mengingatkan kita bahwa selama hutan Picis dan Sigogor tetap terjaga, harapan masih mempunyai sayap untuk terbang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Foto & Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Cak Ir
Keren



