Tujuh Tahun Menanti, Dermaga Taman Hidup Kembali Berdiri

Agus Irwanto
Tujuh Tahun Menanti, Dermaga Taman Hidup Kembali Berdiri

Probolinggo - Di tepian Danau Taman Hidup, sebuah dermaga kayu kembali berdiri. Bukan bangunan megah, tetapi di tengah sunyi hutan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, dermaga itu menyimpan cerita tentang manusia yang datang, menikmati alam, lalu memilih kembali untuk merawatnya.

Terakhir mendapat sentuhan perbaikan pada 2019 melalui keterlibatan komunitas Semanggi Alas, waktu dan cuaca pegunungan perlahan meninggalkan jejak. Kayu menua, beberapa bagian mulai rapuh, dan akses menuju dermaga membutuhkan pembenahan.

Tujuh tahun kemudian, momentum Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia menjadi penanda dimulainya kembali kerja bersama itu.

Pada rangkaian kegiatan 13–17 Agustus 2026, BBKSDA Jawa Timur bersama masyarakat sekitar kawasan bergotong royong membangun kembali dermaga Danau Taman Hidup. Tukang dari Desa Kalianan, ojek dan pelaku wisata alam Bermi, serta petugas BBKSDA Jawa Timur mengambil perannya masing-masing.

Kerja bersama itu mendapat dukungan dari Asuransi Kita Bisa, mitra yang telah menjalin kerja sama dengan BBKSDA Jawa Timur selama kurang lebih dua tahun. Dukungan material kayu diberikan untuk membantu pembenahan dermaga tersebut, sebuah bentuk kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, mitra, dan masyarakat dalam kerja nyata bagi kawasan konservasi. 

Atap seng dermaga diganti. Kayu meranti sepanjang empat meter digunakan untuk memperkuat penyangga. Tangga menuju dermaga sepanjang kurang lebih 30 meter dengan lebar 1,2 meter turut diperbaiki.

Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Namun di Taman Hidup, membawa setiap material melewati jalur pegunungan bukan perkara mudah. Ada tenaga, waktu, dan kebersamaan yang ikut dipikul menuju tepian danau.

Bersamaan dengan pembangunan kembali dermaga, Mahapena Jember, relawan, dan petugas Resort Dataran Tinggi Yang juga bergerak membersihkan sampah di sepanjang jalur Baderan–Bermi. Sampah dikumpulkan dalam trash bag dan dibawa turun menuju Pos Bermi.

Bagi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., pembangunan kembali dermaga bukan semata memperbaiki sebuah fasilitas. Ada pesan konservasi yang jauh lebih penting di baliknya.

“Dermaga Taman Hidup ini bukan sekadar fasilitas. Ia adalah bagian dari cara kita menata kehadiran manusia di dalam kawasan konservasi. BBKSDA Jawa Timur mendapat mandat untuk menjaga kawasan ini, tetapi kami tidak mungkin berjalan sendiri. Ada masyarakat, pelaku wisata, ojek, pecinta alam, dunia usaha, dan banyak pihak yang selama ini ikut merawat Taman Hidup,” ujarnya.

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan. Mereka hidup berdampingan dengan hutan, mengenal jalurnya, sekaligus merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ketika dikelola secara baik dan bertanggung jawab.

Karena itu, kunjungan terbatas ke Taman Hidup tidak semata berbicara tentang membawa orang menikmati keindahan danau. Ada batas yang harus dihormati dan tanggung jawab yang harus dibawa pulang.

Danau Taman Hidup berada di dalam Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Setiap aktivitas kunjungan harus tetap menempatkan perlindungan kawasan dan kelestarian ekosistem sebagai kepentingan utama.

Pada 17 Agustus 2026, setelah Merah Putih dikibarkan di tepian Danau Taman Hidup, pemotongan pita oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur menandai penggunaan kembali dermaga tersebut. Peresmian itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional 2026.

“Momentum 81 tahun Indonesia merdeka kami maknai dengan kerja nyata. Kita memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, membersihkan apa yang selama ini tertinggal, dan mengingatkan kembali bahwa menikmati alam selalu diikuti tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Nur Patria.

Beliau kemudian menitipkan satu pesan yang menjadi ruh dari pembangunan kembali fasilitas tersebut.

“Dermaga boleh kita bangun kembali, tetapi yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran bersama agar Taman Hidup tetap hidup.”

Tujuh tahun setelah perbaikan sebelumnya, dermaga itu kini kembali berdiri. Di atas kayu-kayunya kelak akan kembali terdengar langkah manusia yang datang untuk menyaksikan tenangnya Danau Taman Hidup.

Namun dermaga itu juga membawa pesan sederhana, bahwa alam tidak membutuhkan manusia untuk membuatnya indah. Manusialah yang membutuhkan kesadaran agar keindahan itu tidak hilang.

Di jantung Argopuro, kemerdekaan akhirnya tidak hanya dirayakan dengan Merah Putih yang berkibar. Ia diwujudkan melalui tangan-tangan yang memungut sampah, bahu yang memikul material, kayu yang kembali disambung, dan kesediaan banyak orang untuk menjaga apa yang diwariskan alam kepada negeri ini.

Sebab merdeka bukan hanya tentang memiliki. Merdeka juga tentang menjaga.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

74 views
1 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Cak Agus

makin antri yg mau foto di dermaga taman hidup

Artikel Terkait