Tiga Panggilan dalam Sehari, Matawali Membuka Jalan Pulang

Agus Irwanto
Tiga Panggilan dalam Sehari, Matawali Membuka Jalan Pulang

Surabaya -  Tiga laporan datang dalam satu hari. Tiga satwa liar, tiga tempat, dan tiga cerita yang sama sekali berbeda. Ada trenggiling yang muncul selepas kebun tebu dipanen. Ada Monyet ekor panjang yang hampir sembilan tahun hidup dalam peliharaan, sedangkan seekor lainnya ditemukan pada sebuah rumah tak berpenghuni.

Ketiganya dipertemukan oleh satu hal, yaitu keputusan manusia untuk tidak lagi membiarkan satwa liar menghadapi nasibnya sendiri.

Merespons laporan tersebut, Tim Matawali- Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Surabaya bergerak melakukan penanganan dan evakuasi. Tim terdiri atas Hartono (Polisi Kehutanan), Ferdinan Sebantian (Penyuluh Kehutanan), dan Kukuh Iswahyudi (Operator Layanan Operasional).

Cerita pertama datang dari Dusun Kepindon, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. 

Seekor Trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga di sekitar kebun tebu yang baru selesai dipanen. Perubahan kondisi tutupan di sekitar lokasi diduga membuat satwa tersebut terlihat oleh warga.

Alih-alih menangkap atau memeliharanya, warga memilih menyerahkan satwa bersisik itu kepada perangkat Desa Japan. Mengetahui bahwa satwa tersebut jenis yang dilindungi, perangkat desa kemudian menghubungi Call Center BBKSDA Jawa Timur.

Sebuah keputusan sederhana, tetapi sangat berarti bagi keselamatan satwa.

Sembilan Tahun di Balik Kandang
Cerita kedua datang dari Dusun Turi, Desa Turi, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Kali ini bukan satwa yang baru ditemukan dari alam, melainkan seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) betina yang telah dipelihara kurang lebih sembilan tahun. 

Pemiliknya, Rizky, akhirnya mengambil keputusan untuk menyerahkannya secara sukarela kepada BBKSDA Jawa Timur. Kesadaran itu tidak datang dalam semalam. 

Selama bertahun-tahun satwa tersebut tumbuh dari usia muda hingga dewasa di dekat kehidupan manusia. Salah satu momen yang membekas bagi Rizky adalah ketika mengetahui monyet betina tersebut mengalami siklus menstruasi. Peristiwa biologis yang alamiah itu justru menjadi semacam teguran personal, bahwa satwa yang selama ini berada di dalam kandang adalah makhluk hidup yang tumbuh, berkembang, dan memiliki kebutuhan alaminya sendiri. 

Dari situlah muncul rasa bersalah karena telah membatasi kehidupan satwa liar begitu lama. Dan setelah sembilan tahun, pintu kandang itu akhirnya mengarah pada sebuah keputusan berbeda, untuk menyerahkannya kepada negara untuk mendapatkan penanganan yang semestinya.

Dari Rumah yang Kosong
Cerita ketiga bergerak ke Surabaya. Di Perumahan Graha Family Blok L7 Surabaya, seekor Monyet ekor panjang ditemukan berada di dalam kandang pada sebuah rumah yang tidak berpenghuni.

Hanah Fung yang mengetahui keberadaan satwa tersebut merasa tidak tega melihat kondisinya. Satwa itu kemudian diambil untuk dirawat sementara sebelum keberadaannya dilaporkan kepada BBKSDA Jawa Timur dan diserahkan kepada petugas.

Tidak semua penyelamatan satwa liar bermula dari operasi besar. Kadang ia bermula dari seseorang yang memilih berhenti, melihat lebih dekat, lalu bertanya dalam hati, apa yang bisa saya lakukan?

Dari Penyerahan Menuju Penyelamatan
Ketiga satwa dievakuasi menuju Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur. Di tempat inilah perjalanan berikutnya dimulai. 

Kondisi kesehatan, perilaku, serta kemampuan adaptasi masing-masing satwa perlu diperiksa sebelum menentukan langkah penanganan selanjutnya. Terlebih bagi satwa yang telah lama berada dalam pemeliharaan manusia, pelepasliaran tidak dapat dilakukan hanya dengan membuka pintu kandang lalu membiarkannya pergi.

Setiap individu membawa riwayat berbeda. Karena itu, keputusan terhadap masa depannya pun harus didasarkan pada pertimbangan medis, perilaku, biologis, serta kesesuaian habitat.

Bagi BBKSDA Jawa Timur, tiga penyerahan pada 15 September 2026 ini juga membawa pesan yang lebih besar. Bahwa konservasi tidak selalu dimulai jauh di dalam hutan. 

Pada akhirnya, perlindungan satwa liar tidak hanya bergantung pada petugas yang datang melakukan evakuasi. Ia membutuhkan masyarakat yang bersedia menjadi mata pertama yang melihat, hati pertama yang peduli, sekaligus tangan pertama yang memilih untuk tidak mengambil keuntungan dari satwa yang ditemukan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

23 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait