Empat Lutung Jawa Kembali ke Rimba Nusa Barung

Agus Irwanto
Empat Lutung Jawa Kembali ke Rimba Nusa Barung
Setelah melewati pemeriksaan kesehatan dan habituasi, empat Lutung Jawa dari dua Pusat Penyelamatan Satwa mendapat kesempatan kembali hidup liar di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung.

Jember - Empat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) kembali menjejak hutan Pulau Nusa Barung, Sabtu, 31 Oktober 2026. Dua jantan dan dua betina itu sebelumnya menjalani tahapan persiapan sebelum akhirnya dilepasliarkan di Blok Kandangan, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, Kabupaten Jember.

Pelepasliaran dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation melalui Javan Langur Center (JLC). Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, turut mendampingi kegiatan bersama petugas lapangan dan tim rehabilitasi.

Keempat primata tersebut berasal dari Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga dan PPS Tegal Alur. Sebelum dibawa menuju Nusa Barung menggunakan kandang angkut khusus, seluruh individu telah melewati pemeriksaan kesehatan dan tahap habituasi sebagai bagian dari persiapan kembali ke alam.

Lutung Jawa merupakan primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan. Daun menjadi komponen penting pakannya, disertai bagian tumbuhan lain. Di alam, kemampuan memilih pakan, bergerak di antara tajuk, mengenali ancaman, dan membangun hubungan sosial menentukan kelangsungan hidupnya.

Perjalanan itu tidak sesederhana memindahkan satwa dari satu kandang ke kawasan hutan. Bagi lutung yang pernah berada dalam penanganan manusia, kemampuan memilih pakan, bersosialisasi, dan mengenali ancaman perlu menjadi perhatian sebelum pelepasliaran.

Melanjutkan Jejak Konservasi di Nusa Barung
Pelepasliaran kali ini menambah rangkaian upaya pengembalian Lutung Jawa ke Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Pada Mei 2026, BBKSDA Jawa Timur bersama JLC juga melepasliarkan tujuh Lutung Jawa dalam dua kelompok di Blok Kudu dan Blok Cambah. 

Sebelumnya, tiga individu dilepasliarkan pada November 2025. Rangkaian tersebut memperlihatkan kesinambungan kerja penyelamatan dan rehabilitasi primata yang dilakukan bersama mitra konservasi. Namun jumlah satwa yang dilepas tidak serta-merta menunjukkan keberhasilan pemulihan populasi.

Pelepasliaran merupakan tahapan penting, sementara keberhasilan jangka panjang masih bergantung pada kemampuan individu beradaptasi, memperoleh pakan alami, menghindari ancaman, dan bertahan di habitat barunya. Pemantauan pascapelepasliaran diperlukan untuk menilai perkembangan tersebut.

Kerja sama BBKSDA Jawa Timur dengan The Aspinall Foundation selama ini juga mencakup rehabilitasi primata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penyadartahuan masyarakat mengenai perlindungan satwa liar. Bagi empat lutung yang dilepas di Kandangan, perjalanan dari pusat penyelamatan menuju Nusa Barung kini memasuki babak berbeda.

Tidak ada lagi manusia yang setiap hari menyediakan pakan atau mengatur ruang geraknya. Kehidupan mereka selanjutnya bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan sosial alaminya.

Empat lutung telah kembali ke hutan. Seberapa baik mereka menjalani kehidupan liar itulah yang kini perlu terus dipelajari dan dijaga.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

30 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait