Tamu Tak Diundang, Damkarla dan Matawali Menjawab Konflik di Batas Ruang Hidup

Gresik - Tamu itu tak pernah diundang. Sejak sehari sebelumnya, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) mondar-mandir di atas atap permukiman Kebomas, Kabupaten Gresik. Ia berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain. Sulit didekati, apalagi ditangkap.
Senin siang, 10 Agustus 2026, pergerakannya berakhir di sebuah toko mebel di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Kebomas. Di tempat itulah urusan menjadi berbeda. Jarak antara satwa liar dan manusia tinggal beberapa hasta saja.
Hana, seorang warga, melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Gresik. Laporan masuk pukul 11.17 WIB. Tiga menit berselang, petugas Damkarla Gresik Pos Kota sudah tiba. Mereka mencoba mengevakuasi satwa. Namun kali ini terasa tak mudah bagi mereka
Monyet terus berpindah tempat. Dari satu titik ke titik lain. Sesekali bertahan di tempat yang sulit dijangkau. Upaya menggiringnya agar turun dan keluar sendiri pun belum berhasil.
Satwa liar yang terdesak bisa memberikan respons defensif. Di tengah permukiman, dengan warga yang berada tidak jauh dari lokasi, satu keputusan yang keliru bisa berakhir dengan cedera, baik bagi manusia maupun satwa.
Damkarla Gresik kemudian menghubungi Balai Besar KSDA Jawa Timur. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera bergerak menuju Kebomas.
Setibanya di lokasi, mereka tak langsung menangkap satwa. Tim terlebih dahulu melakukan asesmen. Perilaku monyet diamati. Posisi dan ruang geraknya dipetakan. Kondisi bangunan, keberadaan warga, akses evakuasi, serta risiko penanganan diperhitungkan. Sebab menangani satwa liar bukan perkara siapa yang paling cepat menangkap.
Yang dicari adalah cara paling aman.
Hasil asesmen mengarah pada satu keputusan, penggunaan perangkat anestesi jarak jauh. Pilihan itu diambil setelah mempertimbangkan karakter satwa, posisi keberadaannya, keselamatan masyarakat, serta risiko cedera jika penangkapan dilakukan secara paksa.
Proses evakuasi dilanjutkan
Satu individu Monyet Ekor Panjang jantan akhirnya berhasil diamankan dalam kondisi hidup. Pemeriksaan awal menyimpulkan bahwa secara umum satwa tidak menunjukkan kondisi yang membutuhkan tindakan kedaruratan saat itu.
Selanjutnya monyet tersebut dievakuasi menuju Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa milik BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di sana, satwa akan menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, perawatan, serta evaluasi sebelum ditentukan langkah penanganan selanjutnya.
Pukul 14.03 WIB, kegiatan evakuasi monyet di Kebomas berakhir. Kurang dari tiga jam sejak laporan pertama masuk.
Siapa Masuk ke Ruang Siapa?
Peristiwa Kebomas boleh jadi terlihat sederhana, seekor monyet masuk permukiman, petugas datang, satwa dievakuasi. Tapi konflik manusia dan satwa liar hampir tak pernah sesederhana itu.
Kemunculan satwa liar di permukiman tidak dapat serta-merta dijelaskan dengan satu penyebab. Pergerakan alami satwa, perubahan bentang alam, konektivitas habitat, keberadaan sumber pakan, hingga interaksi manusia dengan satwa dapat menjadi bagian dari persoalan.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa seekor monyet berada di sebuah toko mebel. Ada pertanyaan lain yang patut diajukan, di mana sebenarnya batas ruang hidup manusia dan satwa hari ini?
Pada lanskap yang terus berubah, batas itu bisa menjadi semakin tipis. Ruang yang bagi manusia adalah permukiman, jalan, toko, dan halaman rumah bisa saja bersinggungan dengan jalur pergerakan satwa. Pertemuan semacam itulah yang berpotensi melahirkan konflik.
Dan konflik tidak selalu dimulai oleh satwa. Respons manusia ikut menentukan bagaimana sebuah perjumpaan akan berakhir.
Mengejar, mengepung, melempari, atau mencoba menangkap sendiri dapat membuat satwa merasa terancam. Kerumunan warga juga bisa mempersempit ruang geraknya dan meningkatkan risiko respons defensif.
Pilihan paling aman justru sering kali sederhana: menjaga jarak, tidak memprovokasi, mengurangi kerumunan, lalu menghubungi petugas yang memiliki kompetensi untuk melakukan penanganan.
Konservasi di Depan Rumah
Selama ini konservasi kerap dibayangkan berlangsung jauh di dalam hutan. Ada petugas yang berpatroli. Kamera jebak yang dipasang di antara pepohonan. Satwa langka yang dicari jejaknya. Atau kawasan konservasi dengan batas-batas yang tegas di atas peta.
Kebomas memperlihatkan wajah lain. Konservasi ternyata juga bisa terjadi di atas genting rumah, di antara bangunan, dan di sebuah toko mebel.
Di sana, persoalannya bukan lagi sekadar menjaga satwa tetap berada di dalam hutan. Tantangannya adalah bagaimana manusia bertindak ketika kehidupan liar tiba-tiba hadir di ruang yang dianggap miliknya.
Kerja bersama masyarakat, Damkarla Gresik, dan Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur pada siang itu memang berhasil mengamankan satu individu Monyet Ekor Panjang. Namun ukuran keberhasilan penanganan konflik manusia dan satwa liar seharusnya tidak berhenti pada berapa ekor satwa yang berhasil ditangkap.
Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap perjumpaan membuat manusia semakin memahami cara hidup berdampingan. Sebab, saat batas ruang hidup semakin tipis, pertanyaan terpenting mungkin bukan lagi siapa yang datang tanpa diundang. Melainkan, seberapa siap kita berbagi ruang dengan kehidupan lain yang sejak lama tumbuh bersama kita.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Cak Agus
semangat jangan blendrang ...



