Tak Semua yang Hijau Baik bagi Hutan, 27 Tumbuhan Berpotensi Invasif Kepung Cagar Alam Manggis Gadungan

Agus Irwanto
Tak Semua yang Hijau Baik bagi Hutan, 27 Tumbuhan Berpotensi Invasif Kepung Cagar Alam Manggis Gadungan

Kediri - Hutan yang hijau belum tentu sedang baik-baik saja. Di Cagar Alam Manggis Gadungan, Kabupaten Kediri, pelajaran itu sedang dibaca dari sesuatu yang sekilas justru tampak sebagai tanda kesuburan, tumbuhan yang tumbuh, merambat, dan memenuhi ruang di antara tegakan. 

Hasil analisis risiko mencatat 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, tiga jenis menempati prioritas pengendalian dengan nilai keinvasifan tertinggi, yakni Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis.

Ketiganya memiliki kesamaan: berhabitus liana atau tumbuhan merambat.

Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan penting dalam Focus Group Discussion (FGD) Dokumen Analisis Risiko Invasive Alien Species (IAS) Cagar Alam Manggis Gadungan, yang diselenggarakan Balai Besar KSDA Jawa Timur pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Ruang Rapat Kelud, Fave Hotel Kediri, secara hybrid.

Forum itu tidak sekadar membicarakan tumbuhan mana yang harus dikendalikan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar tentang Bagaimana mengetahui bahwa sesuatu yang tumbuh hijau di dalam hutan justru mulai memberikan tekanan terhadap ekosistemnya. 

Jawabannya tidak dapat diberikan hanya dengan melihat. Ia membutuhkan data.

Ketika Hijau Tak Lagi Cukup Menjadi Ukuran
Bagi kebanyakan orang, hutan yang rimbun adalah hutan yang sehat. Semakin rapat vegetasinya, semakin hijau tajuknya, semakin mudah pula kita beranggapan bahwa alam sedang baik-baik saja. Namun ekosistem bekerja dengan cara yang jauh lebih rumit.

Di dalam hutan berlangsung kompetisi mendapatkan cahaya, ruang, air, dan unsur hara. Setiap tumbuhan memiliki strategi bertahan hidup. Ada yang tumbuh perlahan di bawah naungan, ada yang menjulang membangun tajuk, dan ada pula yang merambat dengan memanfaatkan tumbuhan lain sebagai penopang.

Liana adalah bagian dari dinamika alami banyak ekosistem hutan. Kehadirannya tidak serta-merta berarti ancaman. Persoalan muncul ketika jenis tertentu berkembang sedemikian dominan sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap vegetasi lain dan memengaruhi struktur maupun proses ekologis di dalam kawasan.

Karena itulah, konservasi tidak dapat bekerja hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata. Keputusan harus dibangun dari pengetahuan.

Membaca Risiko, Bukan Sekadar Mencabut Tumbuhan
Penyusunan Dokumen Analisis Risiko IAS Cagar Alam Manggis Gadungan dilakukan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengelolaan tumbuhan invasif sekaligus bagian dari upaya pemulihan ekosistem. Analisis risiko digunakan untuk menentukan prioritas pengelolaan dengan mempertimbangkan risiko invasi dan fisibilitas atau kelayakan pengendaliannya.

Melalui serangkaian pertanyaan dan sistem pemberian skor, setiap jenis dibandingkan berdasarkan nilai relatif risiko dan kemungkinan pengendaliannya. Hasilnya kemudian dikelompokkan ke dalam kategori mulai sangat tinggi, tinggi, medium, rendah hingga kategori yang dapat diabaikan. Dengan demikian, pengendalian tidak dilakukan hanya karena suatu tumbuhan terlihat banyak atau dianggap mengganggu.

Ada dua pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu, Seberapa besar risikonya bagi ekosistem?  Dan, seberapa memungkinkan jenis tersebut dikendalikan tanpa menimbulkan persoalan ekologis baru?

Dua pertanyaan itu penting. Sebab di kawasan konservasi, mencabut tumbuhan pun tidak boleh dilakukan sembarangan.

Tiga Liana Menjadi Prioritas
Dari 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif yang dianalisis, tiga jenis memperoleh nilai keinvasifan tertinggi dan menjadi prioritas pengendalian: Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis.  Ketiganya merupakan liana. 

Liana memiliki strategi hidup yang khas. Alih-alih menghabiskan banyak energi membangun batang kokoh untuk mencapai cahaya, tumbuhan ini memilih merambat memanfaatkan vegetasi lain sebagai penopang menuju bagian atas tajuk.

Strategi tersebut merupakan bagian dari perjalanan evolusi tumbuhan dan memiliki tempat dalam ekosistem hutan. Karena itu, persoalannya bukan tentang liana baik atau liana buruk. Yang harus dipahami adalah jenisnya, tingkat dominansinya, pola penyebarannya, risiko ekologis yang ditimbulkan, serta bagaimana kemungkinan pengendaliannya.

Di Cagar Alam Manggis Gadungan, hasil analisis risiko memberikan dasar awal untuk menentukan jenis mana yang membutuhkan perhatian lebih dahulu. Namun menetapkan prioritas bukan berarti pekerjaan telah selesai. Justru dari situlah pekerjaan sebenarnya dimulai.

Kegelisahan yang Menyeberangi Batas Cagar Alam
Diskusi kemudian membawa persoalan tumbuhan invasif keluar dari batas Cagar Alam Manggis Gadungan. Perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek bersama pegiat konservasi di Kediri menyampaikan kegelisahan terhadap kondisi sejumlah kawasan pelindung sumber mata air yang antara lain ditopang oleh keberadaan jenis-jenis Ficus.

Di kawasan tersebut juga dijumpai persoalan tumbuhan invasif, sementara beberapa pohon besar dilaporkan tumbang. Kondisi itu memunculkan harapan adanya kolaborasi untuk menangani tumbuhan invasif pada kawasan-kawasan penting bagi perlindungan sumber mata air di Kediri.

Kegelisahan tersebut membawa diskusi pada perspektif yang lebih luas. Alam tidak mengenal batas administratif seperti manusia mengenal garis di atas peta. Air mengalir melewati batas desa. Satwa berpindah melintasi bentang alam. Benih dapat terbawa angin, air, satwa maupun aktivitas manusia.

Karena itu, persoalan ekologis di sebuah kawasan konservasi dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah di sekitarnya begitu pula sebaliknya.

Saat Banyak Mata Membaca Hutan yang Sama
FGD mempertemukan mereka yang melihat hutan dari sudut pandang berbeda. Hadir secara langsung antara lain Dinas Lingkungan Hidup Kediri, Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Muspika Kecamatan Puncu, serta pemerintah desa penyangga cagar alam: Desa Manggis, Desa Wonorejo, dan Desa Asmorobangun.

Forum juga melibatkan Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia, Wild Water Indonesia, Pramuka Saka Wanabakti Kediri, Pokmas Alas Simpenan Sejahtera, Mapala Pelita, staf lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur, serta Kader Konservasi Rudiyanto. Sementara melalui ruang virtual bergabung unsur lingkup BBKSDA Jawa Timur, dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya, serta peneliti Kebun Raya Purwodadi.

Mereka membawa pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengenal kebijakan. Ada yang memahami tumbuhan. Ada yang bekerja langsung di lapangan. Dan, ada pula masyarakat yang hidup berdampingan dengan bentang alam tersebut.

Seluruh peserta diberikan ruang menyampaikan pendapat, pertanyaan, pengalaman hingga dukungan terhadap analisis risiko dan upaya pengendalian jenis berpotensi invasif di Cagar Alam Manggis Gadungan.

Memulihkan Hutan Tidak Selalu dengan Menanam
Ada gambaran yang telanjur melekat kuat ketika kita berbicara tentang pemulihan hutan: bibit, lubang tanam, tangan yang menggenggam tanah, lalu pohon kecil berdiri di tempat yang sebelumnya terbuka. Penanaman memang menjadi salah satu instrumen penting dalam pemulihan ekosistem ketika kondisi ekologis membutuhkannya.

Tetapi pemulihan ekosistem tidak identik dengan penanaman pohon. Di beberapa tempat, pekerjaan yang lebih penting justru memastikan regenerasi alami memiliki kesempatan tumbuh. Di tempat lain, gangguan harus terlebih dahulu dikurangi. 

Dan pada ekosistem yang menghadapi tekanan tumbuhan invasif, pengendalian dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju pemulihan. Itulah mengapa pekerjaan konservasi terkadang tidak menghasilkan pemandangan dramatis.

Tidak selalu ada ribuan bibit yang ditanam dalam sehari. Tidak selalu ada angka besar yang mudah dipamerkan.

Kadang pekerjaan itu hanya berupa seseorang yang berjalan perlahan di bawah tajuk, mencatat jenis, mengukur dominansi, membandingkan data, dan kembali datang beberapa bulan kemudian untuk melihat apakah sesuatu telah berubah. Konservasi memang sering bekerja seperti itu. Perlahan. Berulang. Dan membutuhkan kesabaran.

Tak Semua yang Hijau Baik bagi Hutan
Dari kejauhan, Cagar Alam Manggis Gadungan tetap terlihat hijau. Namun kini ada 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif yang telah masuk dalam analisis risiko. Tiga liana berada pada prioritas pengendalian berdasarkan nilai keinvasifannya. 

Angka itu bukan alasan untuk memandang hutan dengan ketakutan. Sebaliknya, ia adalah alasan untuk mengenalnya lebih dalam. Sebab ancaman terhadap hutan tidak selalu datang sebagai api yang membakar tajuk, suara gergaji yang merobohkan pohon, atau lahan terbuka yang mudah terlihat dari kejauhan.

Karena itulah, menjaga Cagar Alam Manggis Gadungan bukan hanya tentang mempertahankan warna hijaunya. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kehidupan di balik warna hijau itu tetap memiliki ruang, keragaman, dan keseimbangan untuk bertahan.

Sebab pada akhirnya, hutan tidak membutuhkan manusia sekadar untuk membuatnya terlihat hijau. Hutan membutuhkan kita untuk memahami kapan warna hijau itu merupakan kehidupan dan kapan ia sedang memberi tanda bahwa sesuatu mulai berubah.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

21 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait