Surabaya Tak Hanya Milik Manusia, Dua Alap-Alap Sapi Muncul di Tengah Kepadatan Kota

Agus Irwanto
Surabaya Tak Hanya Milik Manusia, Dua Alap-Alap Sapi Muncul di Tengah Kepadatan Kota

Surabaya - Siapa sangka, di tengah padatnya Kota Surabaya masih ada cerita kehidupan liar yang berlangsung di atas kepala kita. Rabu (12/8), dua ekor Alap-Alap Sapi (Falco moluccensis) berhasil didokumentasikan di halaman Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Jalan Kutisari Utara XIII/39.

Menariknya, kedua burung pemangsa tersebut tidak sendiri. Beberapa Walet linchi (Collocalia linchi) terlihat terbang mendekat dan beberapa kali mengusik keduanya. Perjumpaan dua jenis burung ini menjadi pemandangan menarik di tengah lanskap perkotaan yang semakin padat.

Momen tersebut didokumentasikan Tifan Nur Rizal, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari. Terbiasa berkegiatan di bentang alam Pulau Bawean, Tifan mengaku tidak menyangka justru menjumpai Alap-Alap Sapi ketika berada di Surabaya.

“Saya tidak menyangka. Selama ini sebagai Masyarakat Mitra Polhut saya banyak berkegiatan di Bawean. Ternyata di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya saya masih bisa menjumpai Alap-Alap Sapi. Apalagi saat itu keduanya terlihat berinteraksi dengan Walet linchi. Ini menarik, karena ternyata ruang udara kota juga digunakan berbagai jenis burung,” ungkap Tifan.

Alap-alap sapi merupakan burung pemangsa dari famili Falconidae. Jenis ini dapat dijumpai pada bentang alam terbuka dan mampu memanfaatkan lanskap yang telah mengalami perubahan. Pohon tinggi maupun struktur buatan dapat digunakan sebagai tempat bertengger untuk mengamati lingkungan dan mencari mangsa, seperti serangga berukuran besar dan satwa kecil lainnya.

Sementara Walet linchi merupakan burung pemakan serangga yang banyak menghabiskan aktivitasnya di udara dan cukup akrab dengan lingkungan perkotaan. Interaksi yang terlihat di atas langit Kutisari diduga mengarah pada perilaku mobbing, ketika burung berukuran lebih kecil mendekati atau mengusik burung pemangsa yang dianggap sebagai ancaman. Meski demikian, pengamatan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan karakter interaksi tersebut.

Tersesat atau Memang Menjelajah Kota?
Kemunculan dua Alap-Alap Sapi ini tidak serta merta berarti keduanya tersesat ataupun sedang bermigrasi. Bisa jadi mereka sedang melakukan pergerakan lokal, mencari pakan, atau memanfaatkan ruang-ruang tertentu di Surabaya sebagai bagian dari wilayah jelajahnya.

Kota bagi burung tentu berbeda dengan kota dalam pandangan manusia. Pepohonan, taman, sempadan sungai, lahan terbuka hingga bangunan tinggi dapat menjadi bagian dari ruang yang mereka gunakan untuk bergerak, mencari makan ataupun sekadar bertengger.

Temuan ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat dan pemerhati burung untuk ikut mencatat keberadaan Alap-Alap Sapi di Surabaya. Jika kembali menjumpainya, masyarakat dapat mendokumentasikan dari jarak aman serta mencatat lokasi, waktu, jumlah individu dan perilakunya tanpa mengejar atau mengganggu satwa.

Catatan sederhana semacam ini penting. Jika dilakukan secara berulang, kita mungkin dapat mengetahui apakah Alap-Alap Sapi hanya sesekali melintas atau memang ada bagian-bagian Kota Surabaya yang rutin mereka gunakan.

Di bawahnya, Surabaya tetap sibuk dengan kendaraan dan aktivitas manusianya. Namun di atas Kutisari pagi itu, dua Alap-Alap Sapi dan Walet Linchi menyajitkan cerita lain. Surabaya ternyata tak hanya milik manusia. Pertanyaannya, seberapa banyak ruang yang masih kita sisakan agar kehidupan liar tetap memiliki tempat di kota ini?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Foto : Tifan Nur Rizal
Editor : Agus Irwanto

7 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Cak Agus

wow keren

Artikel Terkait

Kasur Ijo di Tengah Bara
Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik - Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari