Sungai Kering, Warga Angkut Air dari Sumur Padamkan Api di Curah Manis

Agus Irwanto
Sungai Kering, Warga Angkut Air dari Sumur Padamkan Api di Curah Manis
Sempat padam, namun api kembali membara pada pohon besar. Hingga malam, warga Sidomulyo bertahan menjaga api agar tidak merambat menuju lahan dan rumah mereka.

Jember - Sungai di dekat kawasan sedang tidak mengalirkan air. Sementara di dalam Cagar Alam Curah Manis Sempolan VIII, sebuah pohon besar kembali membara.

Warga Desa Sidomulyo tak punya banyak pilihan. Air diangkut dari sumur mereka. Sedikit demi sedikit dibawa menuju lokasi kebakaran untuk menahan api agar tidak merambat lebih jauh.

Peristiwa itu bermula pada 6 Oktober 2026. Berdasarkan informasi masyarakat, titik api pertama kali diketahui sekitar pukul 13.00 WIB. Kelompok Tani Hutan (KTH) bersama masyarakat bergerak melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan sekitar pukul 16.22 WIB.

Namun rupanya api belum benar-benar selesai, sekitar pukul 18.45 WIB, bara kembali muncul pada sebuah pohon besar. Kondisi itu membuat masyarakat kembali bergerak. Kekhawatiran terbesar mereka adalah api merambat keluar dan mencapai lahan maupun rumah warga.

Di tengah keterbatasan sumber air, masyarakat bergotong royong mengangkut air dari sumur karena sungai di dekat kawasan dalam kondisi kering. Penjagaan dan pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Keesokan harinya, 7 Oktober 2026, Resor KSDA Wilayah 13 BBKSDA Jawa Timur melakukan pengecekan sekaligus pemadaman lanjutan di lokasi. Asap sisa kebakaran masih terlihat pada sebuah pohon besar.

Berdasarkan pemeriksaan awal, luas area yang terdampak diperkirakan sekitar 0,5 hektar. Kebakaran teridentifikasi sebagai kebakaran permukaan yang kemudian merambat pada pohon besar. Penyebabnya masih memerlukan pendalaman.

Dugaan sementara mengarah pada bara api yang tertinggal berkaitan dengan aktivitas pencarian madu alam. Namun, karena belum ada kepastian mengenai penyebab maupun apakah bara tersebut ditinggalkan secara sengaja atau tidak sengaja, dugaan itu masih harus diperlakukan sebagai informasi awal, bukan kesimpulan.

Peristiwa Curah Manis kembali menunjukkan satu karakter kebakaran hutan yang kerap mengecoh, api yang tidak terlihat belum tentu benar-benar mati.

Bara dapat bertahan pada kayu atau pohon besar dan kembali membesar ketika kondisi memungkinkan. Karena itulah pemadaman tidak berhenti ketika nyala api menghilang. Pendinginan dan pemeriksaan ulang menjadi bagian penting setelahnya.

Di Curah Manis, cerita itu terasa lebih nyata.

Ketika sungai tak lagi menyediakan air, warga justru mengambilnya dari sumur dan membawanya menuju api. Mereka bertahan sampai malam bukan hanya untuk menjaga kawasan, tetapi juga melindungi lahan dan rumah mereka sendiri.

Kebakaran hari itu mengingatkan bahwa dalam kebakaran hutan, pekerjaan belum selesai selama bara masih menyimpan panas.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

24 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait