Selain Rusa dan Anggrek, Tim Smart Patrol Juga Temukan Jejak Gergaji di Hutan Bawean

Agus Irwanto
Selain Rusa dan Anggrek, Tim Smart Patrol Juga Temukan Jejak Gergaji di Hutan Bawean
SMART Patrol di Suaka Margasatwa Pulau Bawean merekam rusa endemik, elang, anggrek hingga mata air. Di sisi lain, petugas menemukan dua pohon gondang yang telah ditebang di Blok Payung-payung.

Gresik - Enam hari menyusuri hutan Bawean memperlihatkan dua wajah kawasan konservasi yang berjalan berdampingan. Di satu bagian hutan, Rusa Bawean masih terpantau, elang melintas di atas tajuk, anggrek tumbuh di antara vegetasi, dan sebuah mata air ditemukan tetap mengalir. 

Namun di Blok Payung-payung, petugas menjumpai dua pohon Gondang (Ficus variegata) yang telah ditebang. Temuan itu diperoleh selama SMART Patrol Resort KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari pada 7–12 Oktober 2026 di Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Patroli dilakukan dengan berjalan kaki melalui jalur lama maupun jalur baru. Data mengenai flora, fauna, sumber air dan potensi gangguan kawasan direkam menggunakan GPS, kamera, serta aplikasi SMART Mobile.

Selain menjangkau grid baru sekitar 54,69 hektar, tim juga melakukan pengulangan pemantauan sekitar 70 hektar. Berdasarkan rekap hingga periode tersebut, SMART Patrol di Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean telah menjangkau sekitar 1.330 hektar.

Hutan yang Masih Menyimpan Kehidupan
Di Blok Gunung Besar, tim mencatat keberadaan mata air serta sejumlah satwa. Rusa Bawean (Axis kuhlii) menjadi salah satu mamalia yang terpantau. Monyet Ekor Panjang dan Kalong juga tercatat selama perjalanan.

Dari kelompok burung, tim menjumpai antara lain Elang Ular Bawean, Elang Laut Perut Putih, Pergam Hijau, Raja Udang Punggung Merah, Madu Kelapa dan Beo. Keragaman tumbuhan pun masih terlihat. Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), Anggrek Ekor Tupai (Rhynchostylis retusa) serta sejumlah kelompok anggrek lain ditemukan di sepanjang jalur patroli.

Data tersebut bukan sekadar daftar jenis. Pemantauan berulang membantu pengelola membaca perubahan kawasan dari waktu ke waktu: di mana satwa masih bergerak, sumber air berada, vegetasi bertahan, dan tekanan terhadap hutan mulai muncul.

Ketika Jejak Satwa Bertemu Jejak Gergaji
Cerita berbeda ditemukan di Blok Payung-payung. Petugas menemukan dua pohon gondang telah ditebang. Berdasarkan karakter bekas potongan kayu, penebangan diduga menggunakan gergaji rantai / Chainsaw. Temuan telah didokumentasikan, tonggak diukur, dan laporan kejadian dibuat sebagai dasar penanganan lebih lanjut.

Pada lokasi lain di blok yang sama juga ditemukan indikasi pemotongan kayu. Karena proses penelusuran masih berjalan, temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan siapa pelakunya maupun motif penebangan.

Di Blok Alas Timur, tim juga menemukan pembangunan gubuk di sekitar batas kawasan. Petugas kemudian berdialog dengan warga yang membangunnya. Setelah mendapat penjelasan mengenai status dan ketentuan kawasan konservasi, warga menyatakan bersedia memindahkan atau membongkar bangunan tersebut. 

Pendekatan persuasif semacam itu menjadi bagian penting pengamanan kawasan. Tidak setiap persoalan harus dimulai dari penindakan, terutama ketika komunikasi masih memungkinkan mencegah gangguan berkembang lebih jauh.

Menjaga Hutan Sebelum Dampaknya Terasa
Temuan pohon yang ditebang juga menjadi pengingat bahwa kehilangan tegakan tidak hanya berarti berkurangnya jumlah pohon. Vegetasi hutan merupakan bagian dari sistem ekologis yang membantu melindungi tanah, mempertahankan tutupan kawasan, menyediakan habitat satwa, serta mendukung fungsi tata air. 

Dampak perubahan tutupan hutan pun tidak selalu terlihat seketika. Karena itu, masyarakat sekitar kawasan diharapkan ikut saling mengingatkan agar penebangan dan aktivitas yang berpotensi merusak hutan tidak kembali terjadi.

Peran masyarakat menjadi penting karena merekalah yang hidup paling dekat dengan kawasan dan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui perubahan di lapangan. Informasi yang cepat dapat membantu petugas melakukan pencegahan sebelum gangguan berkembang lebih besar.

Pengawasan pada titik rawan akan terus diperkuat melalui patroli terfokus, pelibatan MMP serta komunikasi dengan desa-desa penyangga, termasuk mengenai pencegahan kebakaran hutan dan perlindungan sumber air.

SMART Patrol pada akhirnya bukan hanya menghitung berapa jauh petugas berjalan atau berapa banyak spesies ditemukan. Patroli adalah cara membaca tanda-tanda yang diberikan hutan. Ada rusa yang masih berjalan. Ada anggrek yang tetap tumbuh. Ada mata air yang masih mengalir. Tetapi ada pula tunggak pohon yang mengingatkan bahwa tekanan terhadap kawasan belum selesai.

Kita mungkin tidak langsung mengetahui apa yang akan terjadi ketika pohon demi pohon hilang. Justru karena itu, jangan menunggu mata air mengecil atau satwa menghilang untuk mulai bertanya ke mana hutannya pergi. Jika dilakaukan bersama, menjaga hutan Bawean hari ini jauh lebih mudah daripada memulihkan kerusakan yang terlanjur terjadi.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

22 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait