Secangkir Teh dari Lereng yang Terbakar di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

Catatan tentang Elsholtzia pubescens, enam hari di Cikasur, dan kehati-hatian mengenal apa yang disediakan alam
Situbondo, 21 September 2026. Asap belum sepenuhnya hilang dari Gunung Gilap ketika kami duduk beristirahat di Sabana Cikasur. Enam hari lima malam berada di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang membuat tubuh mulai mengenal ritmenya sendiri.
Pagi membaca asap. Siang mengejar bara. Sore memastikan api tidak memperoleh jalan baru. Malam berhadapan dengan dingin yang kadang turun di bawah 10 derajat Celsius.
Pakaian berbau asap. Sepatu berselimut debu. Wajah dan tangan menghitam oleh arang.
Di antara pekerjaan itu, perhatian saya justru tertuju pada tumbuhan yang tidak terlalu mencolok. Tingginya kira-kira sepinggang orang dewasa. Daunnya berbulu. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan berkumpul membentuk bulir.
Ketika tersibak oleh langkah dan daunnya diremas, keluar aroma yang kuat. Kami kemudian mengenalnya sebagai Elsholtzia pubescens Benth.
Identifikasi berdasarkan karakter lapangan dan foto tentu belum menggantikan determinasi botani berbasis spesimen. Tetapi ciri yang kami jumpai sesuai dengan deskripsi Flora Malesiana, tumbuhan tegak setinggi sekitar 1–2 meter, berdaun berhadapan, perbungaan menyerupai bulir, bunga putih, dan hidup pada tempat terbuka, padang rumput serta hutan Casuarina pada ketinggian 1.000–2.950 m. Tercatat persebarannya di Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Timor, hingga Sulawesi bagian barat daya.
Jadi tumbuhan yang kami temui di pegunungan ini bukan pendatang yang kebetulan lewat. Ia adalah bagian dari flora pegunungan Jawa. Dan ternyata ceritanya jauh lebih panjang daripada secangkir minuman yang kemudian kami buat.
Di balik 488 hektar
Ketika kebakaran melanda Dataran Tinggi Yang, perhatian kami tentu tertuju pada api. Sekitar 488 hektar kawasan terdampak berdasarkan penghitungan yang melalui kombinasi pemetaan drone, hotspot, dan tutupan lahan.
Angka itu diperlukan untuk laporan. Tetapi setelah berhari-hari berjalan di dalam bentang yang terbakar, saya merasa angka tidak pernah benar-benar mampu menceritakan kehilangan. Sebab 488 hektar bukan hanya 4,88 kilometer persegi di atas peta.
Di dalamnya ada rumput, perdu, semak, pohon, lumut, fungi, mikroorganisme tanah, serangga dan satwa yang saling terhubung. Ada tumbuhan yang terbakar habis. Ada yang hanya hangus di bagian atas. Ada pula yang berdiri beberapa meter dari lidah api dan selamat.
Elsholtzia pubescens termasuk yang kami temukan di antara cerita itu. Sebagian tegakannya di Gunung Gilap telah dilewati api.
Ini menarik karena literatur klasik flora pegunungan Jawa memang mengenal E. pubescens sebagai salah satu tumbuhan yang kerap dijumpai pada vegetasi pegunungan, termasuk pada hutan cemara gunung. The Mountain Flora of Java bahkan mencatatnya sebagai salah satu tumbuhan yang dapat membentuk tegakan pada lingkungan pegunungan Jawa.
Lebih dekat lagi dengan Argopuro, basis data Key Biodiversity Areas secara eksplisit memasukkan Elsholtzia pubescens dalam daftar flora Dataran Tinggi Yang/pegunungan Hyang. Dokumen tersebut juga mencatat kebakaran hutan dan padang rumput sebagai salah satu ancaman terhadap biodiversitas kawasan.
Tiba-tiba tumbuhan kecil yang kami temui itu tidak lagi terasa biasa. Ia punya alamat ekologis. Dan kami sedang berdiri di rumahnya.
Lalu daun itu masuk ke dalam cangkir
Pada suatu waktu istirahat, beberapa helai daunnya kami seduh dengan air panas. Sedikit madu ditambahkan.
Aroma segeranya keluar. Kuat, hangat, agak menusuk dan menyegarkan di tengah udara Cikasur yang dingin, minuman sederhana itu terasa berbeda.
Kami menyebutnya teh.
Secara botani tentu bukan teh seperti Camellia sinensis. Istilah yang lebih tepat adalah seduhan herbal atau tisane.
Saya meminumnya.
Sebagai orang yang bekerja dengan keanekaragaman hayati, belakangan justru muncul pertanyaan yang lebih serius dalam pikiran saya, Apa dasar saya mengatakan tumbuhan ini dapat dikonsumsi? Pertanyaan itu penting. Alam menyediakan begitu banyak tumbuhan, tetapi “alami” tidak pernah otomatis berarti “aman”.
Saya kemudian menelusuri literaturnya.
Ternyata Flora Malesian, salah satu rujukan penting flora kawasan Malesia, mencatat secara eksplisit bahwa daun E. pubescens kadang digunakan sebagai sayuran. Literatur yang sama menyebut tumbuhan ini sebagai penghasil madu yang baik bagi lebah liar.
Useful Tropical Plants, yang merujuk Flora Malesiana, juga mencatat daun spesies ini dimasak dan dimakan sebagai sayuran.
Catatan tersebut penting karena menunjukkan bahwa pemanfaatan daun E. pubescens sebagai bahan pangan bukan sesuatu yang hanya muncul dari pengalaman kami di Cikasur. Ada riwayat penggunaan pangan yang tercatat dalam literatur botani.
Namun di sinilah kehati-hatian harus dimulai, bukan dihentikan.
Catatan “dimakan sebagai sayuran” tidak sama dengan bukti bahwa seduhan dengan konsentrasi berapa pun aman diminum setiap hari. Dalam penelusuran yang saya lakukan, belum ditemukan uji klinis pada manusia yang secara khusus menetapkan dosis aman, frekuensi konsumsi, keamanan jangka panjang ataupun batas konsumsi E. pubescens sebagai tisane.
Karena itu saya tidak ingin menyebutnya sebagai “teh herbal yang terbukti aman”.
Lebih tepat mengatakan bahwa pengalaman kami menyeduh sedikit daun dan mengonsumsinya sesekali mempunyai pijakan etnobotani dari catatan pemanfaatannya sebagai pangan. Namun, belum tersedia dasar yang cukup untuk menggeneralisasi keamanan konsumsi rutin atau dosis tertentu.
Perbedaannya hanya beberapa kata. Dalam ilmu pengetahuan, beberapa kata itu sangat penting.
Aroma itu ternyata juga mempunyai cerita kimia
Aroma kuat yang kami rasakan pun bukan sekadar kesan. Hasyim, Muryati, Mizu Istianto dan W.J. de Kogel pernah meneliti distilat daun E. pubescens. Hasil analisis mereka menemukan camphor, camphene dan α-pinene, dengan camphor sebagai komponen utama dalam ekstrak yang dianalisis.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam Asian Journal of Plant Sciences dan tujuan sebenarnya adalah menguji daya tarik senyawa tersebut terhadap lalat buah jantan Bactrocera tau. Temuan itu membantu menjelaskan mengapa ketika daun diremas atau terkena air panas, aromanya terasa kuat.
Tetapi sekali lagi, jangan melompat terlalu jauh.
Adanya senyawa aromatik atau bioaktif bukan bukti bahwa seduhannya menyembuhkan penyakit. Penelitian Hasyim, dkk adalah penelitian kimia dan entomologi, bukan uji keamanan pangan atau uji klinis minuman herbal pada manusia.
Saya justru merasa bagian inilah yang penting diceritakan kepada masyarakat. Kita boleh penasaran terhadap tumbuhan. Kita boleh mempelajarinya. Tetapi rasa ingin tahu harus berjalan bersama kehati-hatian.
Jangan meniru kami hanya karena membaca cerita ini Pengalaman lapangan sering mempunyai godaan tersendiri.
Seseorang membaca bahwa petugas pernah menyeduh tumbuhan di Cikasur, lalu ketika mendaki menemukan tanaman yang dianggap serupa dan melakukan hal yang sama.
Di sinilah masalah dapat bermula.
Famili Lamiaceae sangat besar. Banyak spesies mempunyai morfologi yang bagi orang awam terlihat mirip. Bahkan foto yang bagus belum selalu cukup untuk memastikan identitas suatu tumbuhan. Kesalahan identifikasi dapat membuat tumbuhan berbeda dianggap sebagai spesies yang sama.
Belum lagi persoalan bagian tumbuhan, jumlah yang dikonsumsi, kondisi individu, interaksi dengan obat, kehamilan, alergi, atau kontaminasi lingkungan.
Karena itu cerita kami bukan panduan membuat teh liar di gunung. Apalagi Cikasur berada di dalam kawasan konservasi.
Catatan bahwa sebuah tumbuhan dapat dimanfaatkan manusia tidak otomatis memberi legitimasi untuk memetiknya dari alam. Sebaliknya, informasi tersebut seharusnya menambah alasan mengapa biodiversitas perlu dipelajari dan dijaga.
Bagi saya ada prinsip sederhana, kita harus kenali dahulu, pastikan identitasnya, pahami literaturnya, baru bicara pemanfaatan. Jika masih ragu, jangan dikonsumsi.
Api membuat saya melihat tumbuhan itu dengan cara berbeda Ada ironi yang baru saya rasakan setelah beberapa hari.
Kami datang ke Cikasur untuk melindungi sebuah ekosistem dari api. Tetapi ketika tubuh kelelahan dan udara pegunungan menusuk, beberapa helai daun dari salah satu tumbuhan penyusun ekosistem itu justru memberi kami secangkir kehangatan.
Tidak perlu dilebih-lebihkan menjadi obat. Tidak perlu pula dibuat mitos. Air panas memberi kehangatan. Madu memberi rasa manis sekaligus karbohidrat. Elsholtzia memberi aroma yang khas.
Itu sudah cukup.
Beberapa puluh menit kemudian kami kembali bekerja. Dan ketika kemudian menemukan sebagian tumbuhan yang sama hangus di Gunung Gilap, saya memandang kebakaran dengan cara sedikit berbeda.
Yang terbakar bukan hanya “vegetasi”. Ada nama di sana. Ada Elsholtzia pubescens. Ada organisme yang berinteraksi dengannya.
Flora Malesiana menyebutnya sebagai penghasil madu yang baik bagi lebah liar. Artinya, paling tidak ada hubungan tumbuhan-penyerbuk yang patut diperhatikan. Kebakaran membuat pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih menarik, bagaimana tumbuhan ini merespons api?
Apakah ia akan tumbuh kembali dari bagian yang selamat? Apakah regenerasi lebih banyak berasal dari biji? Berapa lama sampai berbunga kembali? Bagaimana kelimpahannya dibandingkan sebelum kebakaran? Kapan lebah dan serangga pengunjung bunga kembali?
Saya belum mempunyai jawabannya. Dan saya tidak ingin mengarang jawabannya. Justru itulah pekerjaan berikutnya. Setelah asap hilang
Suatu hari saya ingin kembali ke Gunung Gilap. Bukan membawa jet shooter. Bukan untuk mencari bara. Bukan pula untuk membuat sekat bakar.
Saya ingin kembali, membawa kamera, GPS dan lembar pengamatan. Saya ingin berdiri di titik yang pernah kami lihat menghitam dan mencari sesuatu yang sangat sederhana tunas.
Kalau Elsholtzia pubescens kembali muncul, kami dapat mulai mencatat. Jika berbunga, kami mencatat lagi. Jika serangga datang, kami amati.
Dari sana cerita tentang kebakaran berubah menjadi cerita tentang pemulihan. Sebab tugas pengendalian kebakaran sebenarnya tidak selesai ketika asap terakhir menghilang dari lereng.
Api dapat dipadamkan dalam hitungan hari. Ekosistem membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk menjawab apa yang telah hilang dan apa yang mampu kembali.
Enam hari lima malam di Cikasur akhirnya meninggalkan banyak cerita bagi saya.
Tentang sebuah cangkir. Cangkir berisi air panas, madu, dan beberapa helai daun tumbuhan yang sebelumnya mungkin akan saya lewati begitu saja.
Dari cangkir itu saya belajar kembali bahwa mengenal keanekaragaman hayati tidak cukup dengan mengetahui namanya. Kita perlu memahami ekologinya, manfaatnya, batas pengetahuan kita dan risiko ketika manusia terlalu cepat merasa telah mengenalnya.
Alam memang menyimpan banyak manfaat. Tetapi tidak semua yang tumbuh harus dipetik. Tidak semua yang beraroma harus diminum. Dan, tidak semua yang pernah dimanfaatkan berarti aman digunakan tanpa batas.
Kadang bentuk penghormatan terbaik terhadap tumbuhan yang baru kita kenal justru sederhana, mempelajarinya lebih dahulu, dan membiarkannya tetap tumbuh.
Penulis: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



