Saat Ijen Kembali Diuji, Konservasi Menjadi Bagian dari Cerita Besarnya

Banyuwangi - Dua orang asesor internasional berjalan menelusuri sejumlah titik di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Rabu, 5 Agustus 2026. Mereka datang dari Jerman dan Cina. Kedatangan keduanya menjadi bagian dari proses Revalidasi II Ijen UNESCO Global Geopark.
Yang mereka lihat bukan hanya kawah. Ada pos pengendalian kebakaran hutan dan lahan, sistem pelayanan pengunjung, loket masuk, pusat informasi, hingga papan informasi geopark. Satu demi satu titik itu dikunjungi untuk melihat bagaimana sebuah bentang alam yang telah mendapat pengakuan dunia dikelola di lapangan.
Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi mendampingi perjalanan tim asesor selama berada di TWA Kawah Ijen.
Sebelum kunjungan berlangsung, tim Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan para pihak terkait. Pengecekan lapangan juga dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi dan kelancaran rangkaian kunjungan.
Perjalanan dimulai dari Pos Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan/HPKWI. Di tempat itu, perwakilan HPKWI menjelaskan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Ini menjadi bagian yang penting. Sebab di balik panorama Ijen yang dikenal luas, ada pekerjaan lain yang nyaris tak terlihat pengunjung: menjaga kawasan dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelestarian ekosistem dan keselamatan.
Dari pos tersebut, rombongan bergerak menuju loket masuk TWA Kawah Ijen. Tim asesor melihat langsung pelayanan pengunjung sekaligus memperoleh penjelasan mengenai mekanisme pembelian tiket melalui aplikasi AKTN.
Perjalanan kemudian berlanjut ke pusat informasi. Di tempat ini, asesor memperoleh berbagai penjelasan mengenai TWA Kawah Ijen. Informasi tentang kawasan menjadi bagian penting untuk memperlihatkan bahwa Ijen bukan hanya bentang alam untuk dilihat, difoto, lalu ditinggalkan.
Ada cerita yang lebih besar di baliknya. Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan papan informasi mengenai Ijen Geopark.
Ketika Konservasi Masuk dalam Cerita Ijen
Revalidasi menjadi momentum untuk melihat kembali Ijen secara lebih utuh. Sebab sebuah geopark tidak berdiri hanya karena keunikan batuan, kawah, atau proses geologi yang membentuknya.
Di dalam bentang alam yang sama terdapat ekosistem, tumbuhan dan satwa liar, masyarakat, aktivitas wisata, pendidikan, pengetahuan lokal, hingga berbagai kepentingan yang saling bertemu. Di sinilah konservasi menjadi bagian dari cerita besar Ijen.
TWA Kawah Ijen memiliki mandat yang melampaui urusan kunjungan wisata. Sebagai kawasan konservasi, pengelolaannya juga membawa tanggung jawab menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem, sekaligus memastikan pemanfaatannya berlangsung secara lestari.
Maka ketika Ijen kembali diuji, pertanyaannya bukan semata apakah kawahnya masih memesona.
Yang tak kalah penting adalah bagaimana nilai alam disekelilingnya terjaga. Bagaimana risiko kebakaran dikendalikan. Bagaimana pengunjung dikelola. Bagaimana informasi disampaikan. Dan bagaimana sebuah kawasan yang semakin dikenal dunia tetap memiliki ruang bagi proses-proses alam untuk berlangsung.
Pengakuan internasional tentu penting. Tetapi predikat tidak pernah menjadi akhir dari pekerjaan konservasi.
Justru semakin besar perhatian dunia terhadap sebuah kawasan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan nilai yang membuatnya istimewa tidak perlahan hilang karena popularitasnya sendiri.
Kunjungan dua asesor itu pada akhirnya hanya berlangsung dalam hitungan waktu. Mereka datang, melihat sejumlah titik, mencatat, lalu melanjutkan proses penilaian.
Sementara Ijen akan tetap di sana. Dengan kawahnya. Hutannya. Keanekaragaman hayatinya. Para petugas yang menjaganya. Masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dan ribuan orang yang datang untuk menyaksikan salah satu bentang alam paling dikenal dari Jawa Timur.
Karena Ijen tidak cukup hanya dikenal dunia. Cerita besarnya justru terletak pada bagaimana kita menjaganya agar tetap layak diwariskan.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Pak Jenggot
Wah alhamdulillah sudah beberapa kali ke kawah ijen, tapi belum seramai sekarang



