Saat Danau Kastoba Tak Lagi Terasa Sama

Agus Irwanto
Saat Danau Kastoba Tak Lagi Terasa Sama

Bawean, 11 Agustus 2026 - Ada sesuatu yang perlahan berubah di Danau Kastoba. Perubahannya tidak terjadi dalam semalam. Ia seperti berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun, tersimpan di balik permukaan salah satu danau alami yang berada di Pulau Bawean. 

Air yang sekitar satu dekade lalu dikenang relatif jernih, tanpa aroma amis ikan yang kuat, dalam dua hingga tiga tahun terakhir mulai memperlihatkan karakter berbeda. Warnanya cenderung lebih hijau, sementara aroma khas perairan yang sebelumnya nyaris tidak terasa mulai sesekali tercium.

Belum diketahui apa penyebabnya. Namun sebuah pengamatan malam pada 29 Juli 2026, memberikan petunjuk baru, sekaligus membuat misteri Danau Kastoba semakin menarik untuk dipecahkan.

Malam itu, Tim Resor KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama beberapa mahasiswa Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Airlangga masih berada di sekitar Danau Kastoba hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketika aktivitas mulai berhenti dan suara hutan mengambil alih, permukaan danau yang tenang tiba-tiba mengeluarkan suara. Percikan air terdengar dari beberapa titik. Sesekali muncul riak dan gelembung yang cukup kuat untuk memecah keheningan malam.

Awalnya kami menganggapnya biasa. Tetapi ketika suara itu kembali terdengar, cahaya headlamp secara refleks diarahkan ke permukaan air. Di bawah sorot cahaya itulah sesuatu yang tidak kami duga muncul.

Seekor ikan lele berukuran cukup besar, diperkirakan sebesar lengan orang dewasa, terlihat berenang perlahan di perairan tepian Danau Kastoba. Tidak jauh darinya, individu lain berukuran lebih kecil tampak berada dekat permukaan air.

Malam yang semula hanya menjadi bagian dari kegiatan lapangan berubah menjadi ruang penuh pertanyaan.

Kesaksian dari Orang yang Tumbuh Bersama Bawean
Bagi Nurhayyan Jahansyah, petugas RKW 09 Gresik–Bawean yang juga merupakan warga asli Pulau Bawean, pemandangan tersebut cukup mengejutkan.

Selama berkegiatan di sekitar Danau Kastoba, kehidupan perairan yang lebih sering ia kenali adalah udang, kepiting air tawar, serta ikan-ikan kecil yang secara sepintas menyerupai mujair. Keberadaan ikan lele, terlebih dengan ukuran cukup besar, belum pernah ia saksikan secara langsung sebelumnya.

“Baru malam ini saya melihat langsung ada ikan lele di Kastoba, bahkan ukurannya cukup besar,” ujar Nurhayyan.

Namun kesaksian tersebut tentu tidak berarti bahwa ikan lele baru saja hadir di Danau Kastoba. Bisa jadi ikan itu telah lama hidup di sana dan tidak pernah teramati karena perilakunya, waktu aktivitasnya, kedalaman habitatnya, atau terbatasnya pengamatan terhadap komunitas ikan dan biota air tawar di danau tersebut.

Di situlah temuan malam itu menjadi penting. Bukan karena seekor lele serta merta menjawab perubahan yang sedang terjadi di Kastoba, melainkan karena keberadaannya menunjukkan bahwa masih ada bagian dari ekosistem danau yang belum sepenuhnya kita kenali.

“Ke depan kami berharap ada penelitian yang lebih khusus mengenai keanekaragaman biota air tawar penghuni Danau Kastoba. Bukan hanya jenis ikannya, tetapi juga udang, kepiting, plankton, dan biota lainnya, termasuk bagaimana keterkaitannya dengan kondisi kualitas air. Data tersebut penting sebagai dasar agar pengelolaan kawasan Cagar Alam Pulau Bawean, khususnya Blok Kastoba, dapat dilakukan semakin optimal dan berbasis ilmu pengetahuan,” tambah Nurhayyan.

Jangan Terburu-buru Menyalahkan Lele
Pertanyaan kemudian menjadi lebih besar. Apakah keberadaan ikan lele memiliki hubungan dengan perubahan warna dan aroma air yang dirasakan dalam beberapa tahun terakhir?

Jawabannya belum diketahui! 

Secara ekologis, terlalu dini, dan tidak tepat, menjadikan keberadaan satu jenis ikan sebagai penyebab perubahan kondisi perairan tanpa penelitian yang memadai. Ekosistem danau bekerja melalui hubungan yang kompleks. Perubahan warna air dapat berkaitan dengan dinamika fitoplankton atau alga, kandungan unsur hara, material organik, sedimentasi, perubahan vegetasi pada daerah tangkapan air, kondisi musim dan cuaca, hingga perubahan struktur komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keberadaan dan kelimpahan ikan tertentu juga dapat berinteraksi dengan rantai makanan, organisme dasar perairan, sedimen maupun siklus nutrien. Namun apakah mekanisme tersebut sedang berlangsung di Danau Kastoba, semuanya membutuhkan pembuktian.

Karena itu, ikan lele yang muncul malam itu lebih tepat dipandang sebagai sebuah petunjuk ekologis, bukan tersangka. Petunjuk bahwa ada kehidupan di bawah permukaan Kastoba yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Membaca Ulang Kastoba
Temuan itu sekaligus membuka peluang untuk melihat Danau Kastoba dengan pendekatan yang lebih luas. Inventarisasi biota air tawar menjadi salah satu kebutuhan penting. Jenis ikan yang hidup di dalamnya perlu diketahui dan diidentifikasi secara ilmiah, termasuk struktur komunitas, ukuran populasi, persebaran, hingga status asal-usulnya.

Pertanyaan mengenai apakah suatu jenis merupakan penghuni alami, telah berada di sana sejak lama, atau merupakan hasil introduksi pada masa tertentu juga tidak dapat dijawab hanya melalui pengamatan visual.

Penelitian kualitas perairan dapat berjalan beriringan. Parameter seperti suhu, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, kandungan nutrien, bahan organik hingga klorofil-a dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekologis perairan. 

Kajian terhadap plankton, organisme dasar perairan, udang, kepiting air tawar, serta vegetasi di sekitar danau dapat melengkapi potongan-potongan informasi yang selama ini masih terpisah. Data tersebut selanjutnya dapat dibandingkan antar waktu.

Sebab dalam konservasi, satu kali pengukuran hanya memberikan sebuah potret. Monitoring jangka panjanglah yang dapat memperlihatkan sebuah cerita tentang perubahan.

Ketika Ingatan Bertemu Sains
Ada satu hal lain yang tidak kalah menarik dari cerita Kastoba, tentang ingatan orang-orang yang hidup dekat dengan kawasan. Mereka mengingat bagaimana warna air dahulu. Mereka mengenali organisme apa yang biasa terlihat. Mereka mengetahui kapan sesuatu mulai terasa berbeda.

Ingatan ekologis semacam itu berharga sebagai informasi awal untuk mengarahkan pertanyaan penelitian. Tetapi ia tidak boleh berdiri sendiri sebagai kesimpulan ilmiah. Di sinilah pengetahuan lapangan dan sains dapat bertemu.

Pengalaman petugas dan masyarakat dapat menunjukkan sesuatu yang perlu diperhatikan. Penelitian kemudian mengujinya melalui metode, pengukuran dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Keduanya dapat menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif.

Danau Kastoba bukan sekadar genangan air di tengah Pulau Bawean. Perairannya terhubung dengan hutan di sekelilingnya, vegetasi, tanah, mikroorganisme, satwa, siklus air, hingga berbagai proses ekologis yang mungkin tidak terlihat dari permukaan.

Karena itu, ketika salah satu bagiannya memperlihatkan perubahan, pertanyaan tidak seharusnya berhenti pada “apa yang berubah?” Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting “Mengapa ia berubah?”

Misteri yang Belum Selesai
Malam semakin larut ketika cahaya headlamp kembali menyapu permukaan Kastoba. Riak perlahan menghilang. Air kembali tenang. Ikan yang beberapa saat sebelumnya terlihat di tepian perlahan lenyap dari jangkauan cahaya, kembali ke bagian danau yang gelap.

Tidak ada jawaban yang kami bawa pulang malam itu. Apakah ikan lele telah lama menjadi bagian dari ekosistem Danau Kastoba? Jika iya, mengapa selama ini keberadaannya jarang teramati?

Seberapa banyak ikan dan biota air tawar lain yang sebenarnya hidup di bawah permukaannya? Mengapa air yang dahulu dikenang berbeda kini terlihat semakin hijau?

Apakah perubahan warna dan aroma itu merupakan dinamika alami sebuah danau, perubahan produktivitas perairan, pengaruh lingkungan di sekelilingnya, perubahan komunitas biota atau kombinasi berbagai proses yang belum kita pahami?

Dan apakah kemunculan ikan lele malam itu memiliki hubungan dengan semuanya? Kita belum tahu.

Barangkali jawabannya memang tidak akan ditemukan dari satu malam pengamatan.

Ia mungkin tersimpan dalam sampel air, plankton yang hanya terlihat di bawah mikroskop, komposisi ikan di berbagai kedalaman, sedimen di dasar danau, vegetasi di sekelilingnya, atau catatan perubahan yang dikumpulkan bertahun-tahun.

Malam itu, Kastoba hanya memberikan sebuah petunjuk. Sebuah percikan terdengar dari kegelapan. Cahaya diarahkan ke permukaan. Seekor lele besar melintas perlahan, lalu menghilang kembali ke dalam air.

Dan Danau Kastoba kembali tenang, seolah menyimpan jawabannya sedikit lebih lama.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

18 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Kasur Ijo di Tengah Bara
Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik - Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari