Saat Bunga Itu Tidak Ada, Hanya Dua Foto yang Tertinggal

Dua foto, enam hari bersama api, dan sebuah nama yang belum selesai dari Dataran Tinggi Yang
Situbondo, 21 September 2026. Masih teringat dalam benak saya tentang sekuntum bunga kecil. Bukan karena warnanya paling mencolok. Bukan pula karena tumbuh mendominasi lereng. Namun, diantara luasnya bentang Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, ia sangat mudah dilewatkan.
Batangnya ramping dan dipenuhi rambut-rambut halus. Daunnya berhadapan. Pada ujung batang berdiri bulir-bulir kecil, tempat bunga putih dengan semburat ungu pucat menyembul di antaranya.
Saya berhenti. Mengeluarkan telepon genggam. Lalu mengambil dua foto. Hanya dua. Ya Hanya Dua.
Saat itu saya berpikir sederhana, nanti saya akan kembali. Saya belum tahu bahwa dua foto itulah satu-satunya yang akan saya bawa pulang.
Hari itu ada yang lebih mendesak daripada bunga
Kami berada di Dataran Tinggi Yang bukan untuk melakukan eksplorasi botani. Kami datang bersama Tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) untuk menghadapi kebakaran hutan yang telah mengubah sebagian bentang Argopuro menjadi medan penuh asap dan bara.
Gunung Gilap masih menyimpan api. Pagi hari dimulai dengan membaca asap. Siang dihabiskan mengejar bara dan membuat sekat bakar. Sore digunakan untuk memastikan api tidak mendapatkan jalan baru.
Malam membawa persoalannya sendiri, udara Cikasur yang dingin, pakaian yang terus menyimpan bau asap, tubuh yang kelelahan, dan pikiran yang masih bertanya apakah bara yang kami tinggalkan sore tadi benar-benar telah mati.
Dalam keadaan seperti itu, sebuah bunga kecil harus menunggu. Saya menyimpan telepon genggam dan kembali berjalan. Tidak ada pengukuran. Tidak ada catatan koordinat. Tidak ada foto bagian bawah daun, detail bunga ataupun keseluruhan habitus. Apalagi spesimen.
Saat itu saya tidak merasa kehilangan apa pun. Saya masih berpikir bahwa besok, atau lusa, saya dapat menemukannya kembali. Ternyata alam tidak pernah menjanjikan kesempatan kedua.
Enam hari lima malam kemudian
Enam hari lima malam kami berada bersama api. Hari-hari itu mengubah cara kami membaca gunung. Asap tipis yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, bagi kami bisa menjadi tanda bahwa bara masih bekerja. Batang menghitam harus diperiksa. Tunggak harus dipastikan. Arah angin harus terus dibaca.
Ketika kondisi akhirnya memberi sedikit ruang, ingatan saya kembali kepada bunga itu. Saya ingin mencarinya. Bukan lagi sekadar karena bunganya menarik. Ada rasa penasaran yang belum selesai.
Saya mencoba mengingat tempat saya berdiri ketika mengambil foto. Kembali menyusuri vegetasi. Memperlambat langkah. Mata mencari bentuk daun dan bulir bunga yang sama.
Beberapa kali saya berhenti ketika melihat tumbuhan yang sekilas menyerupainya. Bukan. Saya berjalan lagi. Tetap tidak ada.
Saya kembali. Bunga itu tidak ada lagi di tempat saya mencarinya.
Entah karena saya keliru mengingat titiknya, tumbuhan itu telah melewati fase berbunga, tersembunyi di antara vegetasi lain, atau memang berada beberapa meter dari jalur pencarian saya.
Saya tidak tahu.
Tetapi saat itulah muncul perasaan yang tidak saya rasakan ketika pertama kali meninggalkannya. Sebuah penyesalan. Bukan karena saya tidak memetiknya. Saya menyesal karena tidak mengenalnya sedikit lebih lama.
Dua foto menjadi satu-satunya petunjuk
Sepulang dari lapangan, dua foto itu saya buka kembali. Saya memperbesarnya. Bunga. Daun. Batang. Rambut-rambut halus. Susunan perbungaan.
Dari karakter yang terekam, penelusuran awal membawa saya kepada famili Acanthaceae.
Acanthaceae merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang cukup beragam. Kajian terhadap Acanthaceae Jawa mencatat sekitar 164 jenis pernah dikoleksi di Pulau Jawa berdasarkan koleksi Herbarium Bogoriense, dengan puluhan di antaranya diperkirakan merupakan flora asli Jawa. Anggotanya umumnya memiliki daun sederhana yang berhadapan dan bunga yang dapat tersusun dalam bulir atau tandan.
Penelusuran berikutnya membawa saya kepada satu nama Rostellularia backeri Bremek. Saya berhenti cukup lama pada nama itu.
World Flora Online menerima Rostellularia backeri sebagai spesies dalam famili Acanthaceae dan mencatat distribusi alaminya di Jawa. Nama tersebut dipublikasikan Bremekamp pada 1948. Digital Flora of Indonesia bahkan mencatat spesies ini sebagai endemik Jawa.
Plants of the World Online, Kew Science, juga memasukkan R. backeri sebagai salah satu spesies yang diterima dalam genus Rostellularia.
Tiba-tiba dua foto dari telepon genggam terasa jauh lebih menarik. Tetapi sekaligus jauh lebih berbahaya jika saya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Satu nama, tetapi belum boleh diberi tanda titikAda godaan ketika menemukan kemiripan.
Kita ingin segera mengatakan Ini adalah Rostellularia backeri. Namun ilmu pengetahuan meminta sesuatu yang berbeda.
Ia meminta bukti. Dan saya tidak mempunyai cukup bukti. Saya hanya memiliki dua foto.
Dalam identifikasi tumbuhan, karakter yang tampak sederhana dapat menentukan, bentuk dan ukuran bagian bunga, susunan braktea, tipe rambut, kelopak, buah hingga biji. Tidak semuanya dapat diperiksa dari dokumentasi saya.
Maka nama itu belum pantas mendapat tanda titik. Untuk sementara, tumbuhan dalam foto tersebut diduga atau mengarah pada Rostellularia backeri.
Bukan: “Rostellularia backeri ditemukan di Dataran Tinggi Yang.”
Perbedaannya mungkin hanya beberapa kata. Tetapi beberapa kata itulah yang membedakan rasa penasaran dengan kesimpulan ilmiah.
Saya semakin memahami bahwa dalam ilmu keanekaragaman hayati, mengatakan “saya belum tahu” bukan sebuah kelemahan. Kadang justru itulah bentuk kejujuran yang paling penting.
Kemudian saya menemukannya kembali tetapi bukan di gunung
Penelusuran berikutnya membawa saya kepada sebuah gambar spesimen herbarium. Di sana tidak ada warna ungu pucat seperti yang saya lihat di lapangan.
Tumbuhannya telah mengering. Batangnya menjadi kecokelatan. Daunnya pipih. Bunga yang dahulu hidup tinggal menyisakan struktur yang dipertahankan di atas lembar koleksi.
Nama di sana tertulis Rostellularia backeri Bremek. Saya membandingkannya dengan dua foto dari Dataran Tinggi Yang. Ada karakter yang membuat rasa penasaran semakin besar.
Namun sekali lagi saya harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh. Herbarium bukan sekadar album foto tumbuhan kering. Spesimen ilmiah memungkinkan peneliti memeriksa karakter morfologi, meninjau kembali identifikasi dan menyimpan bukti keberadaan tumbuhan melintasi waktu.
Dan justru di situlah saya menyadari kelemahan dokumentasi saya. Saya mempunyai gambar, namun tidak mempunyai tumbuhan yang dapat diperiksa kembali.
Nama Rostellularia backeri akhirnya menjadi sebuah hipotesis kecil dalam catatan lapangan saya.
Menarik.
Menjanjikan.
Tetapi belum selesai.
Namun saya tidak menyesal tidak memetiknya Ada satu hal yang perlu saya luruskan. Penyesalan ini bukan karena saya tidak mengambil tumbuhan tersebut dari alam.
Kami berada di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, sebuah kawasan konservasi. Pengambilan spesimen ilmiah bukan perkara sekadar menemukan tumbuhan menarik lalu memasukkannya ke dalam kantong. Ada tujuan penelitian, metode, pertimbangan populasi, kewenangan dan ketentuan yang harus dipenuhi.
Justru saya bersyukur tidak tergesa-gesa mengambil tumbuhan yang bahkan belum saya kenal. Tetapi seandainya waktu dapat dikembalikan beberapa menit, saya tahu apa yang akan saya lakukan.
Saya akan memotret keseluruhan habitusnya. Bunga dari depan dan samping. Permukaan atas dan bawah daun. Batang. Pangkal tumbuhan. Lingkungan tempat ia tumbuh.
Saya akan meletakkan skala di sampingnya. Dan yang paling sederhana tetapi mungkin paling berharga bahwa saya akan mencatat koordinatnya. Karena satu koordinat dapat membedakan antara “saya pernah melihatnya” dan “kita dapat menemukannya kembali.”
Kebakaran membuat dua foto itu terasa berbeda
Awalnya saya menganggapnya hanya sebagai kesempatan dokumentasi yang terlewat. Tetapi setelah enam hari lima malam berada bersama api, saya mulai memandang dua foto itu dengan cara berbeda.
Ketika terjadi kebakaran hutan, kita membutuhkan angka. Berapa hektar terdampak? Berapa personel dikerahkan? Berapa titik api? Berapa meter sekat bakar dibuat? Berapa hari operasi berlangsung?
Semua itu diperlukan. Tetapi ekosistem tidak hidup sebagai angka.
Cobalah mengecilkan skala dari ratusan hektar menjadi satu meter persegi.
Apa yang hidup di sana?
Rumput.
Herba.
Semak kecil.
Biji yang menunggu berkecambah.
Serangga yang mengunjungi bunga.
Fungi.
Mikroorganisme tanah.
Dan mungkin tumbuhan kecil yang bahkan belum pernah dicatat oleh petugas yang berjalan melewatinya.
Api tidak membaca buku flora. Ia tidak membedakan tumbuhan yang umum dengan yang distribusinya sempit. Ia tidak mengetahui mana yang sudah diteliti dan mana yang bahkan belum pernah kita dokumentasikan dengan baik.
Api hanya menemukan bahan bakar. Maka ketika suatu kawasan terbakar, yang terancam bukan sekadar hamparan vegetasi. Ada perjumpaan-perjumpaan biologis yang mungkin hilang sebelum sempat menjadi pengetahuan.
Apakah bunga itu ikut terbakar? Saya tidak tahu.
Tidak ditemukannya kembali satu individu tidak membuktikan bahwa spesies tersebut hilang dari lokasi, apalagi dari Dataran Tinggi Yang. Bisa jadi saya tidak tepat kembali ke titik semula. Bisa jadi tumbuhan tersebut masih tumbuh beberapa meter dari tempat saya mencari.
Bisa jadi fase bunganya telah berubah sehingga mata saya tidak lagi mengenalinya. Bisa pula ada banyak individu lain di tempat yang belum kami jelajahi.
Semua kemungkinan itu terbuka. Justru karena itulah dua foto tadi meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Di mana tumbuhan tersebut sebenarnya tersebar? Pada elevasi berapa ia tumbuh? Bagaimana habitat mikronya? Berapa banyak individunya? Bagaimana fenologinya? Bagaimana responsnya terhadap kebakaran?
Dan tentu saja pertanyaan pertama yang belum selesai benarkah tumbuhan itu Rostellularia backeri?
Saya belum mempunyai jawabannya. Mungkin jawaban itu masih tumbuh di suatu sudut Dataran Tinggi Yang.
Suatu hari saya ingin kembali
Bukan untuk mencari api. Bukan membawa jet shooter. Bukan pula untuk mengejar asap di Gunung Gilap.
Saya ingin kembali ketika Dataran Tinggi Yang sedang tenang. Kali ini saya ingin berjalan lebih lambat. Memandangi vegetasi bawah.
Dan, berhenti ketika menemukan bunga kecil. Mencatat koordinat. Mengukur. Memotret. Mengamati tumbuhan di sekelilingnya.
Jika kemudian diperlukan koleksi ilmiah untuk memastikan identitasnya, tentu harus dilakukan melalui metode dan ketentuan yang semestinya.
Sampai hari itu tiba, saya akan membiarkan satu nama dalam catatan saya tetap ditemani tanda tanya, Rostellularia backeri?
Bukan karena tumbuhan tersebut tidak penting. Justru karena ia terlalu penting untuk diberi nama secara gegabah.
Enam hari lima malam bersama api di Dataran Tinggi Yang meninggalkan banyak cerita. Tentang dinginnya Cikasur. Tentang asap yang datang dan pergi. Tentang bara yang tampak mati tetapi masih menyimpan panas. Tentang petugas dan masyarakat yang bekerja bersama menjaga agar api tidak memperoleh jalan lebih jauh.
Namun dari semua itu, salah satu pelajaran yang paling lama tinggal dalam pikiran saya justru datang dari sesuatu yang sangat kecil.
Sebuah bunga. Saya pernah berdiri di depannya. Saya sempat mengaguminya. Saya mengambil dua foto. Kemudian saya berkata dalam hati nanti saya kembali.
Saya memang kembali. Bunga itu tidak ada lagi di tempat saya mencarinya. Saya tidak menyesal tidak memetiknya. Saya hanya menyesal tidak mengenalnya sedikit lebih lama.
Barangkali itulah salah satu pelajaran paling sederhana dari konservasi, bahwa kita tidak hanya bertugas menjaga kehidupan yang telah kita kenal namanya. Kita juga menjaga ribuan kehidupan yang belum sempat kita kenali.
Sebab di alam, kita tidak selalu memperoleh kesempatan kedua. Dan jangan menunggu sesuatu tak lagi kita temukan, untuk mulai merasa perlu mengenalnya.
Penulis: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



