Pagi Menjaga Kamera, Siang Menjaga Hutan: Sehari Bersama Tim Konservasi Bawean

Agus Irwanto
Pagi Menjaga Kamera, Siang Menjaga Hutan: Sehari Bersama Tim Konservasi Bawean
Dari ruang desa hingga Sumber Elong, konservasi di Bawean hari itu berjalan dalam dua wajah, berbicara dengan masyarakat dan memastikan hutan tetap aman

Gresik - Pagi belum terlalu jauh ketika Nurhayyan Jahansyah dan Abdul Rahim memulai pekerjaan di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Hari itu tidak ada satwa yang harus dievakuasi, tak ada pula api yang harus dipadamkan.

Namun, ada kamera yang harus dijaga. Ada masyarakat yang perlu diajak bicara. Dan beberapa jam kemudian, ada hutan yang harus diperiksa.

Jumat pagi, 25 September 2026, Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean mendampingi Frank Drygala berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kumalasa terkait rencana sosialisasi pemasangan kamera jebak atau camera trap di lahan masyarakat untuk mengetahui koridor Babi Kutil dan Rusa Bawean. 

Kamera-kamera tersebut direncanakan terpasang pada bentang lahan yang meliputi tiga desa, Kumalasa, Dekatagung, dan Suwari. Karena berada di ruang yang juga digunakan masyarakat, pekerjaan lapangan tidak cukup hanya dengan memasang kamera lalu meninggalkannya.

Masyarakat perlu mengetahui untuk apa kamera dipasang, mengapa keberadaannya perlu dijaga, dan mengapa perangkat tersebut tidak boleh dipindahkan atau diganggu.

Sosialisasi direncanakan melibatkan kepala desa dari ketiga desa serta perwakilan masyarakat. Masing-masing desa akan mengikutsertakan sekitar sepuluh orang, termasuk petani.

Selepas berdiskusi di Kumalasa, tim bergerak menuju Desa Dekatagung dan Suwari untuk menyampaikan rencana kegiatan yang sama 

Dari Kamera Trap ke Bekas Penebangan
Menjelang siang, pekerjaan berubah. Sekitar pukul 13.00 WIB, tim meninggalkan agenda koordinasi dan bergerak menuju kawasan Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Tujuannya kali ini bukan kamera. Tim kembali mengecek lokasi temuan penebangan sebelumnya dan memastikan barang bukti yang masih berada di lapangan tetap aman.

Pemeriksaan tidak berhenti pada satu titik. Nurhayyan dan Rahim melanjutkan penyisiran dari kawasan Sumber Elong di Desa Diponggo hingga kawasan Geligir, Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak.

Bentang tersebut diperiksa untuk memastikan tidak muncul aktivitas penebangan baru ataupun gangguan lain terhadap kawasan. Hasil patroli hari itu cukup melegakan. Tim tidak menjumpai pelanggaran maupun aktivitas mencurigakan selama penyisiran.

Namun tidak menemukan pelanggaran bukan berarti patroli menjadi pekerjaan yang sia-sia. Justru dalam perlindungan kawasan, hutan yang tetap tenang adalah hasil yang diharapkan.

Konservasi Tidak Selalu Berisik
Hari itu menggambarkan pekerjaan konservasi yang sering luput dari perhatian. Pagi hari, petugas duduk bersama pemerintah desa membicarakan kamera kecil yang kelak bekerja tanpa suara, merekam kehidupan satwa ketika manusia tidak berada di sana.

Siang harinya, petugas berjalan menyusuri hutan, kembali ke lokasi bekas penebangan, memeriksa barang bukti dan memastikan tidak ada pohon lain yang menyusul tumbang. Dua pekerjaan yang terlihat berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama.

Penelitian membutuhkan dukungan masyarakat. Perlindungan kawasan membutuhkan kehadiran petugas. Keduanya membutuhkan komunikasi dan kepercayaan.

Sebab menjaga Suaka Margasatwa Pulau Bawean tidak selalu berarti berhadapan dengan api, mengejar pelaku, atau mengevakuasi satwa.

Kadang pekerjaan itu sesederhana mengetuk pintu desa pada pagi hari, lalu menyusuri hutan pada siangnya. Pagi menjaga kamera agar pengetahuan tidak hilang. Siang menjaga hutan agar kehidupan di depannya tetap ada.

Begitulah konservasi bekerja di Bawean hari itu, tidak banyak suara, tetapi terus bergerak.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

22 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait