Monyet Masuki Pesantren di Jember, Matawali Bergerak

Agus Irwanto
Monyet Masuki Pesantren di Jember, Matawali Bergerak

Jember - Konflik antara manusia dan satwa liar kembali pecah di ruang yang tak terduga. Seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) memasuki lingkungan Pondok Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel, Jember. Satwa tersebut bahkan sempat melukai seorang anak sebelum akhirnya berhasil dievakuasi pada 22 Agustus 2026 yang lalu.

Laporan pertama disampaikan pengasuh pondok pesantren, Kyai Ahmad Nafi’ atau Gus Nafi’, kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Informasi tersebut segera ditindaklanjuti melalui koordinasi Bidang Teknis dan penugasan tim untuk melakukan penanganan di lokasi.

Tim Matawali bersama personel Bidang KSDA Wilayah III Jember dan tim Jember Mini Zoo (JMZ) kemudian bergerak melakukan penanganan.

Situasi membutuhkan kehati-hatian. Monyet ekor panjang merupakan satwa dengan kemampuan adaptasi tinggi dan dapat memberikan respons agresif ketika merasa terancam, terpojok, atau mengalami tekanan. Karena itu, keselamatan warga sekaligus kesejahteraan satwa menjadi pertimbangan utama selama proses evakuasi.

Setelah dilakukan pengamatan dan penentuan metode penanganan, tim memutuskan melakukan evakuasi melalui pembiusan. Metode ini dipilih agar satwa dapat diamankan dengan risiko seminimal mungkin, baik terhadap masyarakat, petugas, maupun satwa itu sendiri.

Upaya tersebut berhasil. Monyet ekor panjang akhirnya dapat dievakuasi dari lingkungan pesantren dan selanjutnya dibawa ke kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember untuk penanganan lebih lanjut.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa batas perjumpaan antara manusia dan satwa liar semakin dinamis. Monyet ekor panjang mampu beradaptasi pada lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia, terutama ketika tersedia sumber pakan yang mudah diperoleh.

Karena itu, penanganan konflik tidak cukup berhenti ketika satwa berhasil dievakuasi. Pencegahan perlu dimulai dari lingkungan: tidak memberi makan satwa liar, mengelola sampah dan sisa makanan dengan baik, serta menghindari tindakan mengejar, memukul, menangkap, atau memojokkan satwa ketika terjadi perjumpaan.

Respons cepat masyarakat juga menjadi bagian penting dari mitigasi konflik. Laporan Gus Nafi’ memungkinkan petugas segera melakukan penanganan sebelum interaksi berkembang menjadi risiko yang lebih besar.

Di tengah ruang hidup manusia yang terus bergerak, satwa liar terkadang muncul di tempat yang tidak pernah kita perkirakan. Ketika itu terjadi, konservasi bukan sekadar soal menyelamatkan satwa, tetapi tentang menemukan cara agar keselamatan manusia tetap terjaga dan kehidupan liar tetap mendapat tempatnya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah  III Jember

30 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait