Menjaga Rusa, Mendengar Warga: Dialog Konservasi dari Balikterus

Petugas datang membawa rencana memasang kamera jebak untuk membaca pergerakan rusa Bawean. Warga membuka lahannya, sekaligus membuka percakapan tentang babi kutil, kebun, mata air, dan hutan yang mereka rasakan berubah.
Bawean - “Warga menyelamatkan tanaman, KSDA menyelamatkan rusa. Yang menjadi masalah adalah babi.” Kalimat Matrusi, warga Sungaiterus, membuka sisi lain percakapan konservasi di Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura, Senin, 5 Oktober 2026.
Sederhana, tetapi di baliknya tersimpan persoalan yang lebih rumit, bagaimana melindungi satwa liar sekaligus mendengar masyarakat yang setiap hari berbagi ruang hidup dengannya.
Pagi itu, Tim Resort KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama peneliti Frank Drygala datang untuk menyosialisasikan rencana pemasangan kamera jebak. Kamera tersebut akan membantu mempelajari pergerakan rusa Bawean pada bentang antara Blok Gunung Besar ke Blok Payung Payung.
Namun pertemuan berkembang jauh melampaui urusan kamera.
Warga Membuka Lahan, Sekaligus Percakapan
Kepala Desa Balikterus, perangkat desa, serta masyarakat dari Sungaiterus Laok, Sungaiterus Deje, Manggu Leban, Gandariyah, dan Pasartelaga hadir dalam dialog tersebut.
Tim menjelaskan pentingnya perlindungan rusa Bawean, ancaman terhadap satwa, serta tujuan penelitian. Dengan bentang kawasan yang luas dan jumlah petugas terbatas, menjaga hutan Bawean tidak mungkin hanya mengandalkan petugas.
Masyarakat memberikan respons positif.
Mereka menyetujui pemasangan kamera jebak pada lahan milik warga dan menyatakan siap ikut menjaga perangkat penelitian. Tetapi dukungan itu datang bersama pesan yang tak kalah penting. Ketika Rusa Dilindungi, Siapa Menjaga Kebun?
Matrusi mengusulkan pagar sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi gangguan satwa ke lahan masyarakat. Ia juga meminta perhatian terhadap areal hutan yang dinilai perlu ditanami kembali karena warga mulai merasakan berkurangnya ketersediaan air dan sumber mata air.
Sadiman membawa pengalaman berbeda. Menurutnya, masyarakat memiliki cara lokal untuk mengurangi gangguan monyet, salah satunya menggunakan terasi yang digantung. Namun gangguan rusa dan babi dinilai lebih sulit ditangani sehingga membutuhkan alternatif mitigasi yang lebih efektif.
Dari Gandariyah, Subhan menegaskan bahwa masyarakat telah lama memahami larangan berburu. Sepanjang pengetahuannya, ia tidak pernah mendengar adanya rusa yang dibunuh masyarakat setempat.
Persoalan mereka bukan keinginan mengganggu satwa. Mereka ingin mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika satwa justru memasuki kebun dan ruang hidup mereka.
Subhan juga meminta solusi untuk mengurangi masuknya rusa, babi dan monyet ke lahan atau pekarangan. Ia turut menanyakan tindakan yang diperbolehkan ketika babi kutil memasuki wilayah desa.
Semua aspirasi itu dicatat. Usulan pagar mitigasi, rehabilitasi atau penanaman kembali, perlindungan sumber air hingga pohon rawan roboh akan memerlukan verifikasi lapangan dan tindak lanjut sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
Kamera Hanya Alat, Kepercayaanlah yang Menjaganya
Pertemuan Balikterus akhirnya menghasilkan dua komitmen. Masyarakat bersedia membuka lahannya untuk penelitian dan membantu menjaga camera trap.
Pada sisi lain, persoalan yang mereka hadapi, konflik satwa, kondisi hutan hingga sumber air, menjadi bagian yang harus didengar dalam pengelolaan kawasan. Di sinilah konservasi berjalan dua arah.
Petugas membutuhkan masyarakat untuk membantu menjaga rusa dan hutannya. Masyarakat pun membutuhkan pengelolaan konservasi yang hadir ketika kehidupan mereka bersinggungan dengan satwa liar.
Kelak, kamera jebak mungkin merekam rusa melintas antara Gunung Besar dan Payung Payung. Namun kamera tidak dapat merekam seluruh hubungan manusia dengan hutan.
Ia tidak dapat mengukur kekhawatiran petani ketika satwa memasuki kebun. Tidak dapat merasakan kegelisahan warga ketika sumber air berkurang. Dan tidak dapat menggantikan percakapan ketika masyarakat dan petugas duduk bersama mencari jalan keluar.
Sebab menjaga Rusa Bawean tidak cukup hanya mengetahui ke mana satwa itu berjalan. Kita juga perlu mendengar manusia yang setiap hari hidup di sepanjang jalannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



