Menjaga Hutan dari Secangkir Harapan

Agus Irwanto
Menjaga Hutan dari Secangkir Harapan
Di Kepel, Madiun, konservasi Cagar Alam Gunung Sigogor mulai dibicarakan dari kebun, kelompok, dan nilai tambah kopi

Madiun - Menjaga hutan tidak selalu dimulai dengan patroli. Di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Selasa (22/9/2026), percakapan tentang kelestarian Cagar Alam Gunung Sigogor justru dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, kopi.

Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, dan Resort Konservasi Wilayah 03 Madiun menggelar Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif bagi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tani Subur. Kegiatan berlangsung di Pendopo Taman Wisata Gligi, Desa Kepel.

Pelatihan tersebut bukan semata mengajarkan bagaimana kopi ditanam atau diolah. Anggota kelompok diajak melihat lebih jauh, bagaimana naik kelas dari petani kopi menjadi pelaku bisnis kopi.

Kepala Desa Kepel mengapresiasi pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur. Kepercayaan yang telah diberikan, menurutnya, perlu dimanfaatkan kelompok untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Pesan konservasi kemudian mengemuka dalam arahan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro. Masyarakat sekitar kawasan memiliki posisi penting dalam menjaga hutan. Karena itu, peningkatan kesejahteraan melalui pengembangan usaha seperti kopi diharapkan berjalan beriringan dengan meningkatnya kepedulian terhadap Cagar Alam Gunung Sigogor.

Hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera tidak seharusnya berjalan berlawanan arah.

Berangkat dari tema “Solid Team: Melangkah Bersama Menggapai Tujuan”, pelatihan menghadirkan Bernadi S. Dangin, aktivis dan praktisi pariwisata berbasis masyarakat sekaligus penggerak kelompok sadar wisata di Desa Gunung Sari, Kabupaten Madiun.

Tidak banyak waktu dihabiskan untuk sekadar mendengarkan.

Anggota KTH Tani Subur diajak membedah kelompok mereka sendiri, apa yang sudah dimiliki, apa yang masih menjadi kendala, di mana kekuatannya, dan peluang apa yang dapat dikembangkan. Melalui praktik langsung, persoalan usaha kopi dipetakan bersama, berikut kemungkinan solusi dan harapan kelompok ke depan.

Di sinilah kopi tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas yang selesai ketika dipanen. Ada pengolahan. Ada kualitas. Ada pemasaran. Ada kerja kelompok. Ada nilai tambah yang masih dapat dibangun.

Dan ada satu lompatan cara berpikir yang ingin ditumbuhkan, dari menjual hasil sebagai petani menuju mengelolanya sebagai sebuah usaha.

Pendampingan tersebut akan berlanjut. Sesuai rencana kegiatan tahun 2026, KTH Tani Subur direncanakan menerima bantuan usaha ekonomi produktif untuk mendukung pengembangan usaha pengolahan kopi.

Bagi BBKSDA Jawa Timur, pendekatan seperti ini memiliki tujuan yang lebih panjang daripada menghasilkan produk.

Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan adalah tetangga terdekat hutan. Ketika kelompok semakin kuat, usaha berkembang dan hasil pertanian memperoleh nilai tambah, tumbuh pula peluang untuk membangun hubungan yang semakin baik antara penghidupan masyarakat dan perlindungan kawasan.

Karena menjaga Cagar Alam Gunung Sigogor tidak mungkin hanya mengandalkan petugas. Ia membutuhkan masyarakat yang merasa mempunyai kepentingan untuk ikut menjaganya.

Hari itu tidak ada patroli panjang memasuki hutan. Tidak ada operasi penindakan. Yang terlihat hanyalah sekelompok petani berbicara tentang kopi dan masa depan kelompoknya.

Namun konservasi memang tidak selalu berbunyi derap sepatu di dalam hutan.

Kadang ia beraroma kopi, tumbuh dari usaha masyarakat, menguat dalam kebersamaan, lalu kembali menjadi kepedulian kepada hutan yang hidup di sebelahnya. 

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

8 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait