Menanam Air, Mengembalikan Kepak Sayap ke Hutan Trenggalek

Dua puluh pohon ditanam di sekitar mata air Pundensari. Pada hari yang sama, Paok Pancawarna dan tiga Gelatik Jawa hasil penyerahan warga kembali mengepakkan sayapnya ke alam.
Trenggalek - Ada yang ditanam agar kelak menaungi tanah. Ada pula yang dilepaskan agar kembali memenuhi langit. Selasa, 6 Oktober 2026, keduanya bertemu di Dusun Pundensari, Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek.
Sebanyak 20 bibit beringin dan salam ditanam di sekitar mata air. Lokasi tersebut dipilih karena ketersediaan air diharapkan membantu bibit bertahan sekaligus memudahkan perawatan setelah penanaman.
Tak jauh dari sana, empat burung menunggu giliran kembali ke alam. Satu individu Paok Pancawarna (Hydrornis guajanus) dan tiga individu Gelatik Jawa (Padda oryzivora) kemudian dilepasliarkan di kawasan lindung Perhutani.
Keempatnya merupakan satwa hasil penyerahan sukarela masyarakat Trenggalek kepada petugas pada 2 Oktober 2026. Ketika kandang angkut dibuka, seluruh burung berhasil terbang dengan baik meninggalkan titik pelepasliaran.
Bukan Sekadar Menanam
Kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan undangan Perhutani KPH Kediri itu mempertemukan BBKSDA Jawa Timur, Polres Trenggalek, Perhutani KPH Kediri, Koramil, Forkopimcam Gandusari, kelompok tani hutan, serta masyarakat Desa Gandusari.
Penanaman sengaja dilakukan di sekitar mata air. Bukan hanya agar bibit memperoleh cukup air pada fase awal pertumbuhannya. Kehadiran pohon juga membawa pesan sederhana tentang hubungan antara tutupan vegetasi dan ruang hidup yang perlu terus dijaga.
Masyarakat tidak hanya terlibat pada lokasi kegiatan. Warga juga memperoleh bibit alpukat untuk ditanam secara mandiri. Dengan demikian, ada dua jenis manfaat yang mulai ditanam hari itu: pohon untuk menjaga bentang, serta tanaman buah yang dapat tumbuh bersama masyarakat.
Dari Tangan Warga, Kembali ke Alam
Cerita empat burung yang dilepas juga bermula dari masyarakat. Paok Pancawarna dan tiga Gelatik Jawa sebelumnya diserahkan secara sukarela oleh warga Trenggalek. Setelah melalui proses penanganan, satwa tersebut memperoleh kesempatan kembali ke alam.
Perhutani KPH Kediri dan Polres Trenggalek pun mengapresiasi kolaborasi dengan BBKSDA Jawa Timur serta mendorong kerja bersama dalam pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar.
Pemandangan di Pundensari hari itu akhirnya mempertemukan dua bentuk konservasi dalam satu tempat. Yang satu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Yang lainnya hanya membutuhkan beberapa detik untuk menghilang di balik pepohonan.
Beringin dan salam mulai menancapkan akar di dekat mata air. Paok pancawarna dan gelatik jawa kembali membawa sayapnya ke alam. Karena menjaga kehidupan tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama.
Ada yang harus kita tanam. Ada yang harus kita rawat. Dan ketika waktunya tiba, ada yang harus kita relakan kembali menjadi liar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



