Malam-malam Trenggiling Muncul di Wonoayu, Warga Memilih Menyerahkannya

Agus Irwanto
Malam-malam Trenggiling Muncul di Wonoayu, Warga Memilih Menyerahkannya
Ditemukan di sekitar permukiman yang berdekatan dengan aliran sungai, seekor trenggiling seberat sekitar 2,5 kilogram akhirnya dievakuasi Tim MATAWALI BBKSDA Jawa Timur.

Sidoarjo - Malam di Desa Tanggul Kidul, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, membawa perjumpaan yang tidak biasa. Seekor trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga di sekitar permukiman yang berdekatan dengan aliran sungai. Satwa itu masih hidup dan bergerak liar.

Warga tidak memilih memeliharanya.

Informasi penemuan diteruskan melalui M. Tohir dari Family Satwa Sidoarjo kepada Seksi KSDA Wilayah (SKW) III Surabaya pada Jumat, 2 Oktober 2026, dengan satu tujuan, Trenggiling tersebut akan diserahkan kepada negara untuk mendapatkan penanganan.

Laporan itu kemudian ditindaklanjuti Tim Matawali SKW III Surabaya. Adnan Aribowo, Cicik Sulfa Dewi, dan Ego Lion Sakty bergerak menuju lokasi dengan membawa perlengkapan evakuasi satwa.

Setelah berkoordinasi dan menggali informasi mengenai kronologi penemuan, petugas melakukan pemeriksaan awal. Trenggiling tersebut memiliki berat sekitar 2,5 kilogram. Berdasarkan pengamatan visual, sisiknya masih tampak gelap dan perilakunya masih liar. Petugas juga tidak menemukan tanda-tanda pemeliharaan pada pemeriksaan awal.

Proses evakuasi dilakukan menggunakan kandang angkut untuk meminimalkan stres dan risiko cedera. Setelah penyerahan sukarela dituangkan dalam berita acara, trenggiling dibawa menuju Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo.

Di sana, kondisinya akan diperiksa lebih lanjut dan mendapatkan penanganan medis, perawatan serta rehabilitasi sesuai prosedur sebelum keputusan penanganan berikutnya ditentukan.

Belum diketahui mengapa Trenggiling tersebut sampai berada di sekitar permukiman. Karena itu, kemunculannya tidak perlu buru-buru diterjemahkan sebagai perubahan habitat ataupun gangguan tertentu tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Namun ada satu hal yang sudah jelas dari kejadian malam itu. Ketika satwa liar muncul di ruang hidup manusia, warga memilih melapor daripada menjadikannya peliharaan.

Pilihan sederhana itulah yang memberi Trenggiling kesempatan mendapatkan penanganan yang semestinya. Sebab penyelamatan satwa liar tidak selalu dimulai dari operasi besar di tengah hutan. Kadang ia bermula pada malam yang biasa, di dekat aliran sungai, ketika seseorang menemukan seekor trenggiling, lalu memilih membiarkannya tetap menjadi satwa liar.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

20 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait