Lebih dari Dua Dekade Bersama Manusia, Bisakah Elang Laut Kembali ke Alam?

Agus Irwanto
Lebih dari Dua Dekade Bersama Manusia, Bisakah Elang Laut Kembali ke Alam?

Tulungagung - Lebih dari dua dekade hidup bersama manusia meninggalkan pertanyaan besar bagi seekor Elang laut perut putih (Icthophaga leucogaster), masih bisakah ia kembali menjadi penghuni langit liar?

Pertanyaan itu muncul setelah Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah I Kediri menerima penyerahan satu individu Elang laut perut putih dari sebuah keluarga di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada 4 Agustus 2026. Bersama elang tersebut, keluarga juga menyerahkan dua individu Serak jawa (Tyto alba) dan satu Celepuk reban (Otus lempiji).

Dari keterangan keluarga, Elang tersebut dibeli dari pedagang di Kabupaten Trenggalek ketika masih muda, dan kemudian dipelihara oleh almarhum suami pelapor. Usianya kini diperkirakan lebih dari 20 tahun. Setelah sang pemilik meninggal dunia dan keluarga tidak lagi mampu merawatnya, satwa tersebut akhirnya diserahkan secara sukarela kepada negara melalui BBKSDA Jawa Timur.

Penyerahan itu bukan berarti pintu kandang dapat langsung dibuka di alam.

Selama sembilan hari, Tim Matawali melakukan observasi dan assessment perilaku di kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Riwayat hidup yang begitu panjang bersama manusia menjadi salah satu pertimbangan penting untuk melihat apakah perilaku alaminya masih cukup kuat untuk bertahan hidup di alam.

Hasil pengamatan awal menunjukkan elang tersebut belum memungkinkan untuk dilepasliarkan dalam waktu dekat. Satwa kemudian dipindahkan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa - BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan dan evaluasi lebih lanjut.

Berbeda dengan Elang laut tersebut, dua Serak jawa dan satu Celepuk reban masih menjalani perawatan di kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Apabila kondisi kesehatan dan perilakunya memenuhi persyaratan, satwa-satwa tersebut direncanakan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa mengembalikan satwa ke alam bukan sekadar membuka pintu kandang. Ada kesehatan yang harus dipastikan, perilaku yang harus dinilai, dan kemampuan bertahan hidup yang harus kembali ditemukan. Sebab alam bukan sekadar tempat satwa dilepaskan. Alam adalah tempat mereka harus mampu kembali hidup sebagai satwa liar. 

Dan setelah lebih dari dua dekade mengenal manusia, perjalanan Elang laut perut putih ini menuju alam mungkin tidak lagi sederhana. Bisakah ia kembali?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

15 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait