Labi-Labi Bawean Kembali ke Alam

Laporan warga Kotakusuma membawa petugas menemui seekor labi-labi di Sungai Bungkosobung. Setelah diperiksa dan dinyatakan sehat, satwa itu kembali dilepasliarkan pada hari yang sama.
Gresik - Perjalanannya bersama manusia hanya berlangsung beberapa jam saja. Rabu sore, 14 Oktober 2026, pukul 16.31 WIB, Tim Matawali – Resort KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean menerima laporan dari Firman Nur Santosa, warga Desa Kotakusuma, tentang keberadaan seekor Labi-labi (Amyda cartilaginea) di Sungai Bungkosobung, Pulau Bawean.
Laporan itu segera ditindaklanjuti. Tim mendatangi lokasi dan mengamankan satwa untuk memastikan kondisinya. Labi-labi kemudian dibawa ke Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean.
Di sana, petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pengukuran morfometri sebagai bagian dari pendataan satwa. Hasil pemeriksaan membawa kabar baik labi-labi dalam kondisi normal.
Tak Perlu Berlama-lama dengan Manusia
Karena kondisi fisiknya dinilai baik, satwa tidak perlu tinggal lebih lama dalam penanganan manusia. Setelah proses pendataan selesai dan mempertimbangkan kondisi satwa, tim memutuskan melepasliarkannya kembali ke habitat yang sesuai pada malam di hari yang sama.
Tidak ada proses panjang. Tidak pula harus berhari-hari berada di kandang transit.
Ketika satwa sehat dan kondisi memungkinkan untuk kembali ke alam, interaksi dengan manusia memang tidak perlu dibuat lebih lama dari yang dibutuhkan. Penyelamatan tersebut melibatkan personel RKW 09 Gresik–Bawean bersama anggota KPH Bawean Lestari.
Namun cerita pentingnya justru dimulai dari seorang warga yang memilih melapor. Respon seperti ini menjadi bagian penting dalam penyelamatan satwa liar di Pulau Bawean. Ketika masyarakat menemukan satwa dan memilih menghubungi petugas, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sekaligus memberi kesempatan bagi satwa untuk kembali ke habitatnya.
Sore itu, Sungai Bungkosobung memberikan satu cerita sederhana tentang konservasi. Seekor labi-labi ditemukan. Warga melapor. Petugas datang, memeriksa dan mencatatnya.
Lalu manusia mundur. Karena tidak setiap satwa yang diselamatkan harus tinggal bersama manusia. Terkadang, akhir terbaik dari sebuah penyelamatan justru ketika satwa itu kembali menghilang ke alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



