Konflik Belum Usai, Kolaborasi Membuka Harapan Baru bagi Babi Kutil Bawean

Batu - Menyelamatkan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) tidak cukup dengan memindahkan satwa dari ruang konflik. Ketika laporan gangguan masih muncul di beberapa titik Pulau Bawean, satu hal semakin jelas bahwa konservasi membutuhkan kerja bersama.
Pesan itu mengemuka dalam monitoring dan evaluasi penanganan darurat konflik Babi Kutil Bawean pada 12–13 Agustus 2026 di Sidoarjo dan Kota Batu. Kegiatan mempertemukan Balai Besar KSDA Jawa Timur, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Ditjen KSDAE, Sekretariat Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group), serta perwakilan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan.
Penanganan darurat tersebut didukung melalui skema IBioFund (Indonesia Biodiversity Fund), mekanisme pembiayaan campuran (blended finance) Kementerian Kehutanan yang dikelola BPDLH untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati beserta habitatnya secara berkelanjutan di Indonesia.
Pertemuan tidak sekadar mengevaluasi apa yang telah dilakukan, tetapi mulai melihat persoalan lebih jauh tentang bagaimana mencegah konflik berulang sekaligus membangun masa depan konservasi Babi Kutil Bawean secara in situ dan ex situ.
“Konflik Babi Kutil Bawean bukan persoalan satwa semata. Ada habitat, ruang hidup manusia, pertanian, sampah, hingga perilaku yang saling beririsan. Karena itu, penyelesaiannya juga tidak dapat dilakukan sendiri. Kolaborasi harus menjadi kekuatan utama, dengan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya,” ujar Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Dari tujuh individu yang dievakuasi ke Jatim Park 2 pada Juni lalu, satu betina dewasa mati. Hasil nekropsi antara lain menemukan gangguan pada saluran pencernaan dan material plastik di dalam lambung, sebuah catatan bahwa jejak aktivitas manusia dapat menjangkau kehidupan satwa lebih jauh dari yang terlihat.
Enam individu lainnya terpantau sehat, meski masih sensitif terhadap kehadiran manusia. Keberadaan mereka kini diarahkan untuk mendukung riset, breeding loan, hingga genetic insurance Babi Kutil Bawean.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group).
“Kami siap berkomitmen mendukung dan membantu konservasi, baik secara ex situ maupun in situ, bagi satwa-satwa endemik Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya, termasuk Babi Kutil Bawean. Konservasi membutuhkan kerja bersama agar apa yang kita selamatkan hari ini tetap memiliki masa depan,” ujar Ir. Gunadi, perwakilan PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group).
Namun, menjaga enam individu di luar habitat hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar. Di Pulau Bawean, survei populasi, distribusi, daya dukung dan daya tampung habitat tetap diperlukan sebagai pijakan ilmiah. Pemerintah daerah, sektor pertanian dan lingkungan hidup, akademisi, peneliti, lembaga konservasi, dunia usaha, serta masyarakat perlu bergerak dalam arah yang sama.
In-situ menjaga rumahnya. Ex-situ menjaga harapannya. Kolaborasi memastikan keduanya tetap terhubung.
Sebab masa depan Babi Kutil Bawean tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita menyelamatkannya ketika konflik terjadi, tetapi oleh seberapa kuat kita bekerja bersama agar satwa, habitat, dan manusia tetap memiliki ruang untuk hidup berdampingan.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



