Ketika Rimbawan Bertemu Gen Z, Konservasi Menemukan Bahasa Baru

Agus Irwanto
Ketika Rimbawan Bertemu Gen Z, Konservasi Menemukan Bahasa Baru

Jakarta - Catatan lapangan bisa bermula dari koordinat perjumpaan satwa, perubahan tutupan vegetasi, jejak ancaman, hingga percakapan dengan masyarakat di tepian hutan. Namun bagi Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), catatan itu tak boleh berhenti sebagai data. Ia harus dibaca, dianalisis, dikomunikasikan, lalu menjadi bagian dari arah kebijakan.

Pesan itu mengemuka dalam Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Jumat, 21 Agustus 2026, di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Bertajuk “Membuka Catatan Lapangan PEH Indonesia”, forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman, inovasi, dan strategi PEH dari berbagai UPT lingkup Ditjen KSDAE dan Ditjen Pengelolaan Hutan Lestari.

Di antara para rimbawan, hadir Anya Cahyara, wildlife photographer, content creator, sekaligus influencer peduli alam. Kehadirannya membawa perspektif berbeda, mempertemukan catatan lapangan konservasi dengan kekuatan komunikasi generasi digital.

Melalui materi “Peduli Alam versi Gen Z”, Anya menawarkan konsep sederhana, Aware–Act–Amplify. Mengenali spesies, habitat, dan persoalannya adalah menerjemahkan kepedulian menjadi tindakan, kemudian memperluas pesan itu melalui ruang digital.

Pesannya menyentuh satu tantangan penting konservasi hari ini, data yang hanya tersimpan sebagai angka belum tentu mampu membuat orang peduli.

PEH memiliki banyak cerita dari lapangan. Tentang satwa yang bertahan, habitat yang berubah, konflik yang harus diselesaikan, hingga masyarakat yang memilih menjadi mitra konservasi. Ruang digital memberi cerita-cerita itu kesempatan menjangkau publik lebih luas.

Perspektif tersebut sejalan dengan arahan Wakil Menteri Kehutanan RI agar PEH terus memperkuat integritas, kompetensi, profesionalisme, serta budaya kerja adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkontribusi dalam pengambilan kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan.

Maka PEH hari ini tak cukup hanya membawa data pulang dari hutan. Data harus dibaca. Temuan harus dianalisis. Analisis harus dikomunikasikan.

Rumusan akhir sarasehan menegaskan transformasi itu dalam jati diri bahwa “PEH adalah ASN Bertalenta Digital, Pengumpul Data, Analisis, dan Komunikator Lapangan.”  Komunikasi publik dan keterlibatan generasi muda pun ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk memperluas dukungan terhadap konservasi.

Salah satu rekomendasinya adalah memperkuat kanal komunikasi konservasi berbasis digital, termasuk kolaborasi dengan content creator dan influencer untuk menjangkau generasi muda.

Kehadiran Anya Cahyara akhirnya membawa satu pengingat bahwa hutan membutuhkan orang yang bekerja menjaganya, tetapi juga membutuhkan orang yang mampu membuat publik memahami mengapa ia harus tetap dijaga.

Sebab catatan lapangan tak seharusnya berakhir di lembar laporan. Dari lapangan menjadi data, dari data menjadi cerita, dari cerita menjadi kepedulian, dan dari kepedulian menjadi arah kebijakan.

Penulis: Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto

44 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait