Kayu Paek dan Pertanyaan tentang Air di Hutan Bawean

Tumbuh di tebing dan sekitar aliran air, buahnya menjadi sumber pakan satwa, sementara ingatan masyarakat Bawean menyimpan cerita tentang buah yang dahulu dimakan dan diperjualbelikan. Prunus javanica menunjukkan bahwa nilai sebuah pohon mungkin jauh lebih besar ketika ia tetap berdiri di hutan.
Gresik, 13 Oktober 2026. Ada satu pohon yang belakangan membuat kami lebih sering berhenti saat menyusuri hutan Pulau Bawean. Masyarakat mengenalnya sebagai kayu paek atau kayu pahit. Ilmu botani mencatatnya sebagai Prunus javanica, anggota famili Rosaceae yang tumbuh alami di hutan tropis Asia.
Awalnya perhatian terhadap pohon ini muncul karena potensi bioprospeksinya. Namun perjalanan Smart Patrol di kawasan konservasi Pulau Bawean perlahan menghadirkan pertanyaan lain.
Beberapa kali kami menjumpainya tumbuh di tebing dan sekitar aliran air. Namun belum ada alasan ilmiah untuk menyebut kayu paek sebagai pohon penyimpan mata air. Hubungan antara pohon dan air terlalu kompleks untuk disimpulkan hanya dari perjumpaan lapangan.
Tetapi pola itu cukup menarik untuk membuat kami bertanya, Mengapa ia tumbuh di sana?
Pohon Pahit yang Dicari Ilmu Pengetahuan
Prunus javanica bukan jenis yang sama sekali asing bagi ilmu pengetahuan. BBKSDA Jawa Timur telah melakukan inventarisasi P. javanica dan kerabatnya, Prunus arborea, di kawasan konservasi Pulau Bawean. Kayu paek tercatat antara lain di Danau Kastoba, Gigir Gunung, dan Pangambaan serta beberapa lokasi di luar kawasan konservasi.
Penelitian bioprospeksi kemudian membawa tumbuhan ini lebih jauh, dari hutan menuju herbarium dan laboratorium. Daun, bunga hingga buah dikoleksi secara terbatas untuk kepentingan ilmiah. Pengetahuan tradisional masyarakat ikut didokumentasikan, sementara kandungan kimianya mulai dipelajari untuk melihat kemungkinan aktivitas biologis yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Hasil penelitian mencatat kelompok Prunus memiliki metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, fenolik, saponin dan triterpenoid yang menarik untuk penelitian biofarmaka.
Tetapi bioprospeksi seharusnya tidak hanya bertanya “Apa yang dapat manusia ambil dari pohon ini?” Namun ada pertanyaan yang mungkin lebih penting, Apa yang diberikan pohon ini ketika tetap hidup di hutan?
Buah yang Menghubungkan Pohon dan Satwa
Salah satu jawabannya berada pada buah. Dalam rantai ekologi terhadap Prunus javanica di hutan tropis Asia menunjukkan buah pohon ini dimanfaatkan berbagai satwa pemakan buah. Burung-burung kecil dan bajing tercatat memakan buahnya, sementara primata dan rangkong dapat membawa bijinya menjauh dari pohon induk.
Hubungan itu tidak berhenti ketika buah selesai dimakan. Sebagian satwa menjadi penyebar biji.
Buah memberi energi kepada satwa. Satwa bergerak membawa biji. Biji memperoleh kesempatan tumbuh jauh dari induknya. Pohon baru kemudian berpotensi menjadi bagian dari generasi hutan berikutnya.
Sebuah hubungan timbal balik yang berlangsung tanpa manusia perlu mengaturnya. Hasil inventarisasi BBKSDA Jawa Timur pun menempatkan Prunus javanica dan Prunus arborea sebagai bagian penting struktur ekosistem hutan yang mendukung satwa penyebar biji dan regenerasi vegetasi.
Artinya, ketika satu pohon kayu paek berbuah, yang sedang bekerja bukan hanya satu individu tumbuhan. Ada jaring kehidupan yang ikut bergerak bersamanya.
Ketika Buah Hutan Pernah Sampai ke Pasar
Di Bawean, cerita buah kayu paek ternyata tidak hanya tersimpan di hutan. Sejumlah informasi dan ingatan lokal masyarakat menyebut buahnya pada masa lalu pernah dimakan sebagai buah tradisional, bahkan diperjualbelikan secara lokal.
Cerita tersebut menarik, tetapi masih membutuhkan dokumentasi etnobotani yang lebih sistematis. siapa yang dahulu mengonsumsinya, bagian buah mana yang dimakan, bagaimana tingkat kematangannya, bagaimana pengolahannya, di desa mana tradisi itu dikenal, hingga kapan buah tersebut masih dijumpai dalam perdagangan lokal.
Justru pertanyaan-pertanyaan itu penting. Sebab hilangnya suatu buah dari pasar tradisional tidak selalu berarti hilangnya pohonnya dari hutan. Bisa jadi yang perlahan menghilang adalah pengetahuan manusia tentang pohon tersebut.
Jika cerita para tetua Bawean dapat didokumentasikan dan dipertemukan dengan data botani modern, kayu paek tidak lagi hanya menjadi objek bioprospeksi. Ia juga menjadi bagian dari sejarah pangan dan pengetahuan lokal sebuah pulau.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Air?
Smart Patrol memberikan petunjuk lain. Kayu paek beberapa kali dijumpai pada tebing dan sekitar aliran air di kawasan konservasi Pulau Bawean. Temuan tersebut merupakan observasi lapangan, bukan bukti bahwa Prunus javanica menciptakan atau menyimpan mata air.
Mata air lahir dari sistem yang jauh lebih kompleks, hujan, topografi, tanah, batuan, geologi, akuifer dan vegetasi saling berinteraksi. Pohon merupakan bagian dari sistem itu.
Tajuk mengubah perjalanan air hujan sebelum mencapai tanah. Serasah melindungi permukaan tanah dan memasok bahan organik. Akar memengaruhi struktur tanah dan jalur masuknya air. Pada skala bentang alam, komunitas vegetasi bersama kondisi tanah dan geologi turut menentukan bagaimana air bergerak.
Karena itu, pertanyaan ilmiah yang lebih menarik bukan tentang Apakah kayu paek menghasilkan mata air? Melainkan, Mengapa kayu paek berulang kali dijumpai pada mikrohabitat di sekitar aliran air, dan bagaimana hubungan ekologisnya dengan tanah serta hidrologi setempat?
Dari Patroli Menuju Penelitian
Pertanyaan tersebut sebenarnya dapat mulai dijawab dari data sederhana. Setiap pohon Prunus javanica yang ditemukan dapat dipetakan. Jaraknya terhadap sungai dan mata air dicatat. Diameter pohon, kemiringan lereng, tutupan tajuk, kelembapan dan karakter tanah diukur.
Laju infiltrasi tanah di sekitar tegakan dapat dibandingkan dengan lokasi lain yang kondisi topografi dan tanahnya serupa. Pada saat bersamaan, kamera jebak atau pengamatan langsung dapat membantu mengetahui satwa apa saja yang mendatangi pohon ketika musim berbuah.
Penelitian sosial dapat berjalan berdampingan. Tetua desa dan masyarakat yang masih mengingat buah kayu paek dapat diwawancarai untuk merekonstruksi sejarah pemanfaatannya sebagai pangan lokal dan komoditas tradisional.
Dengan begitu, satu spesies dapat dibaca dari berbagai arah sekaligus akar dan airnya, buah dan satwanya, senyawa dan potensi medisnya, serta ingatan manusia yang pernah hidup bersamanya.
Hutan yang Belum Selesai Dibaca
Barangkali di situlah kayu paek menjadi menarik. Nilainya tidak berada pada satu tempat. Di laboratorium, ia menyimpan pertanyaan tentang senyawa bioaktif. Di hutan, buahnya menjadi bagian dari jaringan pakan dan penyebaran biji oleh satwa.
Di tebing dan sekitar aliran air, keberadaannya meninggalkan pertanyaan tentang hubungan vegetasi, tanah dan hidrologi. Sementara dalam ingatan sebagian masyarakat Bawean, buahnya membawa cerita dari masa ketika hasil hutan liar masih hadir sebagai pangan dan barang yang diperjualbelikan secara lokal.
Belum semua cerita itu dapat dijawab oleh sains. Dan mungkin justru itulah alasan terbaik untuk menjaganya. Sebab bioprospeksi tidak semestinya hanya mencari apa yang dapat diekstrak dari sebuah pohon. Ia juga perlu memahami apa yang hilang ketika pohon itu tidak lagi ada.
Mungkin obat. Mungkin pakan satwa. Mungkin fungsi ekologis yang belum kita pahami. Atau mungkin sebuah pengetahuan lokal yang pernah hidup bersama generasi masyarakat Bawean.
Kayu paek mengingatkan kita bahwa sebatang pohon dapat menghubungkan laboratorium, satwa, air, dan ingatan manusia sekaligus. Dan selama pohonnya masih berdiri, cerita itu masih punya kesempatan untuk dibaca.
Penulis : Nur Hayyan Jahansyah & Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



