Kaloykoy Turun ke Kandang Ayam, Cerita Lain dari Elang Bawean

Beberapa hari lalu Kaloykoy muda terlihat terbang di atas Gunung Besar. Sabtu pagi, cerita berbeda datang dari Gunung Durin. Seekor Elang Bawean ditemukan di dalam kandang ayam dan kali ini ia tak mampu terbang.
Bawean - Pagi bahkan belum benar-benar dimulai ketika sebuah kabar datang dari Dusun Gunung Durin, Desa Patar Selamat, Kecamatan Sangkapura. Ada tamu tak biasa di kandang ayam warga.
Seekor Elang Bawean (Spilornis cheela baweanus), satwa yang oleh masyarakat setempat akrab disebut Kaloykoy, ditemukan berada di dalam kandang. Bukan sedang bertengger. Bukan pula terbang menjauh ketika manusia mendekat. Ia tidak mampu terbang.
Warga yang menemukannya memilih tidak mengambil risiko. Satwa diamankan dan keberadaannya segera dilaporkan kepada petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean. Tim MATAWALI kemudian bergerak melakukan penyelamatan (26/9/2026).
Dugaan awal, Kaloykoy tersebut masuk ke kandang ketika hendak memangsa anak ayam. Dalam prosesnya, satwa diduga mengalami benturan atau terkena jaring. Namun dugaan tetaplah dugaan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Hasil pemeriksaan awal setidaknya memberikan sedikit kabar baik. Tidak ditemukan luka terbuka maupun tanda-tanda cedera berat akibat benturan pada tubuhnya. Namun satu persoalan belum terjawab, Kaloykoy masih belum dapat terbang.
Karena itu, petugas tidak buru-buru melepaskannya. Satwa dibawa ke kandang transit Pos RKW 09 Gresik–Bawean untuk menjalani observasi lebih lanjut. Kondisi fisik dan kemampuan terbangnya perlu dipastikan sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.
Dari Langit Gunung Besar ke Kandang Ayam
Perjumpaan kali ini terasa berbeda. Beberapa hari sebelumnya, dari Blok Gunung Besar, tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama MMP Bawean Lestari mendapatkan bonus tak terduga ketika melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan.
Kaloykoy muda terlihat bertengger, mengepak, kemudian melayang di atas hutan. Saat itu, cerita datang dari atas tajuk.
Kali ini cerita datang dari kandang ayam. Dua perjumpaan yang berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan bahwa kehidupan satwa liar di Bawean berlangsung sangat dekat dengan ruang hidup manusia.
Sebagai burung pemangsa, elang menempati posisi penting dalam rantai makanan. Ia berburu untuk bertahan hidup. Karena itu, kemunculan raptor di sekitar ternak masyarakat bukan sesuatu yang perlu segera diterjemahkan sebagai “gangguan” atau alasan untuk menyakiti satwa.
Di titik seperti inilah toleransi menjadi bagian penting dari konservasi.
Warga Gunung Durin memberi contoh sederhana. Ketika menemukan satwa liar dalam kondisi tidak mampu terbang, mereka tidak membunuh atau menjadikannya peliharaan. Mereka menyelamatkan, lalu menghubungi petugas. Satu tindakan sederhana yang memberi Kaloykoy kesempatan.
Belum Saatnya Kembali ke Langit
Dalam penyelamatan satwa liar, keinginan untuk segera melihat satwa kembali terbang memang selalu ada. Tetapi pelepasliaran bukan perlombaan.
Tidak ditemukannya luka terbuka belum berarti seekor burung pemangsa siap kembali ke alam. Kemampuan berdiri, mencengkeram, merespons lingkungan, mengepak, menjaga keseimbangan hingga benar-benar mampu terbang menjadi bagian yang perlu diamati.
Terlebih bagi seekor raptor, terbang bukan sekadar cara berpindah tempat. Terbang adalah cara bertahan hidup.
Karena itulah Kaloykoy dari Gunung Durin untuk sementara harus berhenti mengepak di langit Bawean. Petugas masih memberinya waktu untuk memastikan kondisinya.
Jika beberapa hari lalu Gunung Besar memperlihatkan seekor Kaloykoy muda yang sedang mengenali dunianya, Gunung Durin memberi cerita berbeda tentang rapuhnya kehidupan satwa liar ketika bersinggungan dengan ruang manusia.
Keduanya menyampaikan pesan yang sama. Menjaga Kaloykoy bukan hanya menjaga seekor elang. Kita sedang menjaga ruang agar satwa liar dan manusia tetap dapat hidup berdampingan di pulau kecil bernama Bawean.
Untuk sementara, pintu kandang transit masih tertutup. Semoga berikutnya yang terbuka adalah sayapnya.
Penulis : Abdul Rahem & Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



